Pilwali Surabaya, Kombinasi Ideal: Nasionalis-Perempuan NU!

PILWALI SURABAYA: (Dari kiri) Reni Astuti, Dyah Katarina, Lia Istifhama, sejumlah kandidat dari perempuan. | Foto: IST
PILWALI SURABAYA: (Dari kiri) Reni Astuti, Dyah Katarina, Lia Istifhama, sejumlah kandidat dari perempuan. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dua pengamat, Andy Agung Prihatna dan Siti Nafsiyah sependapat calon wakil wali kota (Cawawali) Surabaya haruslah perempuan jika seluruh slot calon wali kota (Cawali) diisi laki-laki.

Lantas, siapa figur perempuan yang ideal tampil sebagai calon wakil wali kota di Pilwali Surabaya 2020? Menurut Agung, kalau Cawalinya berasal dari akar sosiologisnya nasionalis, mestinya harus mengambil Cawawali — khususnya perempuan — yang memiliki akar sosiologis agamis.

“Karena akar sosiologis di Surabaya ada pada dua kutub utama,” kata Direktur Index Indonesia tersebut dalam diskusi panel online bertajuk Pasca Risma, Surabaya Masih Butuh Sentuhan Perempuan? yang digelar Barometer Jatim Insight, Minggu (9/8/2020).

“Tentu kalau kita bicara sosiologis keagamaan, NU (Nahdlatul Ulama)-lah yang paling kuat,” tandas Agung yang turut memerakarsai metode quick count di Indonesia. Maka, baik calon dari PDIP maupun Machfud Arifin harus mempertimbangkan aspek-aspek tersebut.

“Kalau Pak Machfud merasa beliau seorang nasionalis, harusnya juga mengambil porsi calon wakil berbasis agama, khususnya perempuan,” imbuh kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 itu.

Sebab, lanjut Agung, sifat elektoral sangat ditentukan dari aspek sosiologis, tidak ada pilihan yang sifatnya pribadi. “Menurut teorinya begitu. Jadi orang memilih sangat tergantung lingkungannya,” ucap Agung.

Maka kalau lingkungannya agamis, tentu pilihan yang tepat adalah yang mengarah pada figur dengan akar agama yang cukup kuat. Begitu pula sebaliknya untuk lingkungan nasionalis.

“Oleh karena itu gabungan keduanya menjadi satu faktor. Kalau pasangannya nasionalis semua, itu bisa menghilangkan peluang yang tinggi dari kelompok masyarakat yang berakar pada keagamaan,” jelas Agung.

Figur Sudah Terlihat

NU PALING DOMINAN: Andy Agung Prihatna, sosiologis keagamaan di Surabaya, NU yang paling kuat. | Foto: Barometerjatim.com/ROY
NU PALING DOMINAN: Andy Agung Prihatna, sosiologis keagamaan di Surabaya, NU yang paling kuat. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

Siti Nafsiyah juga sepakat kalau Surabaya harus dipimpin duet nasionalis-religius. Karena itu, pintar-pintarnya Cawali menangkap peluang, apakah Cawawali perempuan itu Lia Istifhama (pengurus Fatayat NU Jatim), Reni Astuti (anggota DPRD Surabaya/PKS), Dyah Katarina (anggota DPRD Surabaya/PDIP) atau yang lainnya.

“Maka kita tidak bisa menafikan yang namanya survei soal popularitas dan elektabilitas,” kata sekretaris DPD Lingkaran Pendamping Program Pemberdayaan (LPPP) Surabaya tersebut.

Merujuk survei Lembaga Survei Accurate Research & Consulting Indonesia (ARC Indonesia), kata Siti, untuk figur dari unsur perempuan Lia Istifhama memang memiliki elektabilitas paling tinggi, 17,6 persen untuk kandidat wakil.

“Kenapa warga menginginkan figur perempuan, karena mereka masih menginginkan sosok Bu Risma (Wali Kota Tri Rismaharini) yang memimpin dengan cara menyapa dan senang blusukan,” katanya.

“Kita juga melihat, siapa kandidat perempuan yang sudah banyak turun ke pasar, kampung-kampung, PKK. Sudah bisa kita amati, kita lihat dari pergerakan calon perempuan itu,” ucapnya tanpa menyebut siapa kandidat perempuan yang dimaksud.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya