Pilwali Surabaya, ISNU: Biarkan Gus Hans-Dedy Test The Water

ISNU DI PILWLI SURABAYA: (Dari kiri) Gus Hans, Dedy dan Mas’ud. ISNU beri ruang kadernya test the water. | Foto: IST
ISNU DI PILWLI SURABAYA: (Dari kiri) Gus Hans, Dedy dan Mas’ud. ISNU beri ruang kadernya test the water. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dua kader Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim, Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans dan Dedy Rahman Prehanto, masuk bursa Pilwali Surabaya 2020. Keduanya menjabat wakil ketua di Banom NU tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Wilayah (PW) ISNU Jatim, Prof Mas’ud Said menuturkan, keduanya sama-sama punya kesempatan untuk test the water alias memancing reaksi publik terlebih dulu.

“Ini kan masih kurang setahun. Jadi masih ada banyak waktu untuk, baik bersaing maupun berkoalisi, karena background-nya berbeda, asalnya berbeda, ceruknya berbeda,” katanya pada Barometerjatim.com, Senin (29/7/2019).

Hanya saja, Mas’ud mengingatkan, ISNU bukan satu-satunya background Gus Hans maupun Dedy, karena keduanya baru bergabung Agustus tahun lalu. Artinya, yang membuat keduanya nanti mendapatkan respons positif atau tidak, bergantung pada background sosiologis dan politiknya.

“ISNU memang tempat berlabuh bagi banyak kader. Sama-sama wakil ketua, tapi beliau-beliau itu baru masuk setahun yang lalu. Sehingga sudah punya modal sosial dan politik, tidak hanya dari ISNU yang menentukan, saya harus fair toh,” paparnya.

Namun saat ditanya peluang calon representasi hijau (religius) bisa menang di basis merah (nasionalis), mantan Asisten Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah di Sekretariat Kabinet RI itu menegaskan, meski Surabaya basis merah tapi warganya rasional.

“Ada kesamaan tapi juga ada perbedaan antara Pileg sama Pilwali. Politik itu tidak diametral. Kalau kita hijau ya cari gandengan merah, atau kuning, biru, putih kan,” katanya.

“Jadi dalam kontestasi politik itu kalau hitungannya cerdas ya jangan hijau dengan hijau. Ya harus nyangkul, Cawali nyangkul Cawawali juga nyangkul,” sambung mantan Stafsus Menteri Sosial tersebut.

Tapi Mas’ud yang juga Guru Besar Politik Pemerintahan Universitas Islam Malang (Unisma), sekali lagi, belum yakin kalau ISNU sudah menjadi basis politik yang signifikan, karena ruang lingkupnya selama ini di ranah akademik dan ranah strategis.

“Maka saya menyarankan keduanya untuk menjalin kolaborasi dengan warna lain. Don’t put the egg in the same bowl, karena saya tidak akan menaruh telur di keranjang yang sama,” tandasnya berfilosofi.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, ISNU