Pilwali Surabaya, Bayu-Gus Abid Bisa Ulangi Sukses Emil-Arifin

Pasangan milenial potensial. Bayu-Gus Abid (foto bawah) bisa ulangi sukses Emil-Arifin. | Foto: Ist
Pasangan milenial potensial. Bayu-Gus Abid (bawah) bisa ulangi sukses Emil-Arifin (atas). | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tiga tahun lalu, hasil Pilbup Trenggalek 2015 menjadi perhatian publik nasional lantaran memunculkan pasangan milenial: Emil Elestianto Dardak-Mohammad Nur Arifin. Khusus Arifin, bahkan meraih rekor MURI sebagai wakil kepala daerah termuda.

Saat dilantik di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 17 Desember 2016, Arifin baru berusia 25 tahun, lahir di Surabaya pada 7 April 1990. Sedangkan Emil Dardak yang berusia 31 tahun juga tercatat sebagai kepala daerah muda, meski bukan yang termuda.

Sejak itu, tren milenial menguat dalam peta politik regional dan nasional, termasuk Pilkada serentak 2018. Puncaknya, Khofifah Indar Parwansa (53 tahun) memenangi Pilgub Jatim setelah menggandeng Emil Dardak yang masih berusia 33 tahun ‘melompat’ dari Trenggalek.

Bagi Pengamat Politik, Surochim Abdussalam tren milenial ini akan terus menguat ke depan, termasuk di Pilwali 2020. Figur milenial dinilai memiliki kans bersaing dengan kader organik partai yang umumnya politisi senior.

Terlebih di Jatim tak kekurangan stok milenial. Sejumlah nama masuk bursa, di antaranya Azrul Ananda (presiden Persebaya), Bayu Airlangga (ketua Muda Mudi Demokrat Jatim), Mohammad Abid Umar Faruq alias Gus Abid (ketua Ansor Jatim) maupun Fuad Bernardi (putra wali kota Surabaya, Tri Rismaharini).

Bahkan, kata Surochim, kalau di antara mereka berpasangan juga patut diperhitungkan calon rival. “Saya kira kalau di antara mereka berpasangan juga ‘menjual’, contohnya Bayu (27 tahun)-Abid (29 tahun) yang sama-sama muda dan enerjik,” tutur Surokim, Kamis (27/12).

Menurut Peneliti Surabaya Survey Center (SSC) tersebut, duet Bayu-Abid bisa merepresentasikan kekuatan nasionalis dan religius. Bayu kader Partai Demokrat, sedangkan Gus Abid kader Ansor dengan basis pesantren berpengaruh di Jatim.

Selain itu, kedua figur tersebut punya modal politik besar. Bayu menantu Gubernur yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo. Dengan demikian punya kans mendapatkan rekomendasi dari partainya.

Begitu pula dengan Gus Abid, selain ketua Ansor Jatim juga politikus Partai Nasdem. Bahkan secara dini mendapat dukungan penuh dari Ketua DPP Partai Nasdem, Hasan Aminuddin yang memiliki hubungan baik dengan elite Nasdem lainnya.

“Meski muda Bayu dan Abid punya modal politik besar. Artinya peluang untuk mendapat rekom pun terbuka,” imbuh akademisi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut.

Kejar Elektabilitas

Bagaimana dengan elektabilitas? Menurut Surochim memang masih di angka satu digit. Namun masih ada waktu sekitar dua tahun untuk melakukan sosialisasi dan branding. Terlebih di Kota Surabaya tingkat baca dan melek teknologi masyarakatnya sangat tinggi.

Dengan strategi yang tepat, menurut elektabilitas keduanya bakal terdongkrak. Surochim lantas mencontohkan Emil Dardak saat maju Pilgub Jatim mendampingi Khofifah.

“Mas Emil itu pertama running Pilgub Jatim elektabilitasnya cuma dua persen. Namun kemudian bisa melesat menjadi 18 persen karena tepat dalam melakukan personal branding. Saya kira pasangan Bayu-Abid kalau running masih punya waktu untuk mendongkrak elektabilitas,” urainya.

Surokim juga mengingatkan, siapapun yang akan maju dalam Pilwali Surabaya 2010 patut menggandeng figur Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama) karena efek Ormas keagamaan terbesar di Tanah Air ini cukup signifikan.

Terbukti di Surabaya, Gus Ipul-Puti yang didukung PDI Perjuangan berhasil dijungkalkan Khofifah-Emil yang merepresentasikan duet NU. Fakta itu membuktikan kalau NU memang punya tradisi kuat di Surabaya, di samping menjadi basis nasionalis.

“Faktor NU tidak bisa diabaikan dalam suksesi kepemimpinan di Surabaya. Saya kira PDI Perjuangan sebagai partai terbesar di Surabaya harus membuka diri terhadap kader NU maupun Ansor,” pungkas Surokim. •

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya