Pilwali Ditunda, Bara JP Jatim: PDIP-Gus Hans Diuntungkan!

PILWALI SURABAYA: Giyanto Wijaya, PDIP dan Gus Hans diuntungkan atas penundaan Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Giyanto Wijaya, PDIP dan Gus Hans diuntungkan penundaan Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Jatim, Giyanto Wijaya menyambut positif penundaan Pilkada serentak 2020 — termasuk Pilwali Surabaya — akibat pandemi Corona (Covid-19).

“Memang sudah seharusnya dan selayaknya, karena keselamatan dan kesehatan masyarakat itu jauh lebih penting dari Pilkada,” katanya kepada Barometerjatim.com di Surabaya, Kamis (2/4/2020).

Tak hanya Pilkada, lanjut Giyanto, even-even besar dunia juga banyak sekali yang ditunda untuk menghindari kerumunan masyarakat. Salah satunya Olimpiade Tokyo yang diundur tahun depan.

“Seluruh dunia. Ini depresi global, bukan resesi lho ya. Depresi besar ini, seperti dialami Amerika Serikat (AS) tahun 1929 (Krisis Malaise, depresi besar yang pernah menghancurkan AS),” katanya.

Lantas, di luar kemanusiaan, dalam konteks Pilwali Surabaya siapa kandidat dan Parpol yang diuntungkan atas penundaan ini?

“Ya mereka yang punya basis massa solid. Di Surabaya, jelas Parpol penguasa-lah, PDIP (pemenang Pileg 2019 di Surabaya dengan raihan 15 kursi), karena mereka punya akar rumput yang militansinya benar-benar sulit ditandingi,” katanya.

“Yang tidak diuntungkan itu yang sedang mempersolek diri dan sibuk mempopularitaskan diri.”

Sedangkan untuk kandidat, Giyanto berpandangan Zahrul Azhar Asumta yang diuntungkan mengingat tokoh muda yang akrab disapa Gus Hans itu juga memiliki basis massa solid.

“Gus Hans kan punya massa yang solid juga. Nah, yang tidak diuntungkan itu (kandidat) yang sedang mempersolek diri dan sibuk mempopularitaskan diri,” kata Giyanto.

Siapa kandidat yang dimaksud Giyanto? “Ya siapa saja kandidat yang tengah berusaha mempersolek diri, menurut saya itu tak diuntungkan apalagi tak memiliki basis massa,” ujarnya.

Selain itu, menurut Giyanto, penundaan Pilwali Surabaya bakal mempengaruhi elektabilitas kandidat mengingat waktu sosialisasi menjadi lebih panjang.

“Sangat besar kemungkinanya, perubahan elektabilitas itu, karena semula kan mau sprint (adu kencang) ini tapi berubah menjadi maraton,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Pilkada serentak 2020 ditunda akibat pandemi Covid-19. Penundaan dicapai lewat kesepakatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), DPR RI dan pemerintah lewat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Ada tiga opsi penundaan dalam kesepakatan tersebut. Pertama, tanggal pemungutan suara ditunda menjadi 9 Desember 2020, jika harus menunda tahapan selama tiga bulan.

Opsi kedua, ditunda selama enam bulan atau pemungutan suara digelar pada 17 Maret 2021, dan opsi ketiga yakni penundaan 12 bulan atau pemungutan suara berlangsung pada 29 September 2021.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya