Pidato di Depan 5000 Jamaah, Khofifah Bersandal Jepit

BERSANDAL JEPIT: Khofifah Indar Parawansa, tak canggung bersandal jepit saat memberikan ceramah di hadapan warga Muslimat NU Kabupaten Pasuruan, Sabtu (8/4). | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Khofifah Indar Parawansa memang pejabat yang beda. Tak hanya merakyat, tapi juga sosok yang sangat menghormati dan memahami keseharian warga. Termasuk rela bersandal jepit saat memberikan ceramah di hadapan lima ribuan warga Muslimat NU Kabupaten Pasuruan, Sabtu (8/4).

Ikhwal ‘sandal jepit’ berawal ketika pembawa acara mempersilakan Khofifah memberi ceramah pada puncak peringatan Harlah ke-71 Muslimat NU yang digelar PC Muslimat NU Kabupaten Pasuruan, sekaligus peresmian kantor yang berada di kompleks gedung PCNU.

Seperti biasa, Menteri Sosial (Mensos) yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu paling ‘alergi’ berpidato di atas mimbar. Dia lebih memilih turun melantai, membaur bersama hadirin. Entah saat acara Muslimat NU maupun ketika kunjungan kerja sebagai Mensos.

• Baca: Beda Cara: Khofifah Naik Motor, Gus Ipul Pilih Helikopter

Nah, saat turun dari panggung itulah, Khofifah tak memilih mengenakan kembali sepatu kerjanya melainkan sandal jepit. Sejenak, ribuan jamaah termasuk para tokoh dan pejabat yang hadir — di antaranya Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf dan Ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar — terperanjat dengan ‘gaya’ merakyat Khofifah.

Namun Khofifah tak peduli, dia hanya ingin membaur dengan warganya yang sehari-hari menggunakan sandal jepit dalam menjalankan aktivitas.

Sebelumnya, saat hendak naik panggung, langkah Khofifah juga terhenti untuk melepas sepatu karena panitia mendesain tempat undangan untuk para pejabat dan tokoh di atas panggung dengan cara duduk simpuh.

Manfaatkan Teknologi

LAUTAN WARGA MUSLIMAT NU: Khofifah Indar Parawansa, mengajak warga Muslimat NU untuk memanfaatkan perkembangan teknologi. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

Usai turun panggung dan bersandal jepit, dalam ceramahnya Khofifah memaparkan kemajuan teknologi yang kian pesat dan harus dimanfaatkan secara positif untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kemajuan teknologi yang sangat cepat membuat kita dihadapkan pada dua sisi mata uang, positif dan negatif,” katanya.

“Ada orang belajar merakit senjata dan bom via internet, ada yang memanfaatkan untuk prostitusi online. Ini adalah contoh yang negatif. Padahal masih banyak cara positif dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.”

Dia mencontohkan untuk pendidikan, industri, bisnis, organisasi, bahkan dalam konteks membangun bangsa dan negara. Atau di Kemensos yang telah memanfaatkan teknologi untuk penyaluran bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) non tunai lewat teknologi perbankan.

• Baca: Naik ‘Kereta Kencana’, Warga Sambut Hangat Khofifah-Rendra

Maret lalu, Presiden Jokowi juga meluncurkan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang memungkinkan penerima bansos membeli bahan pokok menggunakan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di e-Warung Gotong Royong.

“Kalau kita mau berpikir dan bertindak positif memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa ini, maka semakin banyak masyarakat yang akan tertolong dan terangkat kondisi ekonominya,” ujarnya.

Informasi terbaru tentang kegiatan organisasi atau dakwah juga dapat disampaikan dengan cepat melalui beragam aplikasi pesan di ponsel kita.

“Maka sekarang pilihannya kembali kepada kita sendiri. Apakah akan membiarkan diri kita menjadi korban kemajuan teknologi atau menjadi pelaku perubahan dengan memanfaatkannya secara positif,” tambah Khofifah.