Pesat! Ada 6.114 BUMDesa di Jatim, tapi Baru 532 yang Maju

BELUM TEMBUS 10 PERSEN: Perkembangan BUMDesa di Jatim dari sisi jumlah, baru 532 kaegori maju. | Grafis: Dinas PMD Jatim
BELUM TEMBUS 10 PERSEN: Perkembangan BUMDesa di Jatim dari sisi jumlah, baru 532 kaegori maju. | Grafis: Dinas PMD Jatim

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sepanjang 2019 hingga 2021, perkembangan BUMDesa di Jatim sangat menggembirakan, yakni sebanyak 6.114. Dari jumlah itu, 267 di antaranya bergerak di sektor wisata.

“Namun demikian yang dikategorikan maju itu baru 532. Artinya apa? Belum ada 10 persen BUMDesa di Jatim ini yang maju,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Jatim, Mohammad Yasin saat meresmikan Kick-off Program Klinik BUMDesa Jatim 2021 secara virtual, Rabu (27/1/2021).

Menurut Yasin, hal itu menjadi tugas dan tanggung jawab bersama. Pihaknya juga bersyukur, karena ada salah satu stakeholder yang sangat peduli dengan BUMDesa dan mau terjun langsung melakukan pemberdayaan agar lebih maju, yakni PT HM Sampoerna bersama Yayasan Rumah Kita dan Universitas Airlangga (Unair).

“Kami mengapresiasi baik atas kerja sama yang dilakukan ini, karena kami ingin ke depan BUMDesa di Jatim tidak hanya baik dari sisi kuantitas tapi juga kualitas,” ujar Yasin.

“Sekali lagi, saya menyampaikan terima kasih kepada PT HM Sampoerna yang kemarin di 2020 kita dibantu pembinaan di 20 BUMDesa, hari ini empat BUMDesa. Mudah-mudahan nanti, tahun-tahun berikutnya bisa lebih banyak lagi,” tandasnya.

Keempat BUMDesa yang tahun ini disokong Sampoerna yakni BUMDesa Larasati Desa Kendalbulur (Tulungagung), BUMDesa Tirtosari Desa Penanggal (Lumajang), BUMDesa Karya Muda Desa Sukosari (Bondowoso), dan BUMDesa Cendono Barokah Desa Cendono (Pasuruan).

KOLABORASI: Rembug nyekrup enam OPD Pemprov Jatim dalam membangun BUMDesa. | Grafis: Dinas PMD Jatim
KOLABORASI: Rembug nyekrup enam OPD Pemprov Jatim dalam membangun BUMDesa. | Grafis: Dinas PMD Jatim

Yasin menambahkan, dalam membangun BUMDesa pihaknya memang tidak sendirian, tapi berkolaborasi dengan pentahelix. Di level Pemprov Jatim, bahkan ada enam OPD yang bersinergi lewat “Rembug Nyekrup” yakni Dinas PMD, Disbudpar, Dinkop, Disperindag, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP), dan Dishut.

“Bagaimana enam enam OPD ini bersama-sama bergerak untuk memberdayakan BUMDesa,” kata Yasin.

Dia mencontohkan kenapa harus nyekrup dengan Disbudpar, baik kabupaten maupun provinsi. Apa yang dilakukan? Kalau terkait manajemen kepariwisataan, maka yang ahli adalah Disbudpar.

“Makanya Dinas Pariwisata kita butuhkan. Bagaimana Dinas Pariwisata bisa membuat promosi dan branding, membuat paket-paket wisata yang bagus, dan membangun jejaring kepariwisataan. Termasuk di dalamnya adalah penguatan terhadap Pokdarwis (kelompok sadar wisata)” katanya.

Sementara itu Kepala Departemen Hubungan Regional dan Keberlanjutan PT HM Sampoerna Tbk, Kukuh Dwi Kristianto menuturkan pihaknya senang dapat berpartisipasi kembali dalam mendukung pemberdayaan BUMDes di Jatim.

“Program ini kami yakini dapat membantu proses pengentasan kemiskinan di Jatim, serta turut andil dalam membantu pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi,” katanya.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pihak yang turut mendukung program tersebut, yakni para OPD dan Unair.

PEMBERDAYAAN: Empat BUMDesa yang tahun ini mendapat sokongan pemberdayaan dari Sampoerna. | Grafis: Dinas PMD Jatim
PEMBERDAYAAN: Empat BUMDesa yang tahun ini mendapat sokongan pemberdayaan dari Sampoerna. | Grafis: Dinas PMD Jatim

» Baca Berita Terkait Desa Wisata