Peringatan Kudatuli, Bangkitkan Memori dengan Sayur Lodeh

PERINGATAN KUDATULI: Peringatan peristiwa Kudatuli di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (27/7) malam. | Foto: Barometerjatim.com/WIRA HARLIJADI
PERINGATAN KUDATULI: Peringatan peristiwa Kudatuli di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (27/7) malam. | Foto: Barometerjatim.com/WIRA HARLIJADI

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ratusan kader PDI Perjuangan berkumpul di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (27/7) malam untuk memperingati peristiwa perebutan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan sebutan Kudatuli.

Posko tersebut menjadi tonggak sejarah dari awal perjuangan panjang PDI Pro Megawati (Promeg) di bawah komando Sutjipto, yang saat itu menjabat sebagai Sekjen DPP PDIP.

Sejumlah pelaku sejarah dalam masa Kudatuli yang turut berjuang di Surabaya, salah satunya Luwih Soepomo (75 tahun), malam itu memberikan testimoni.

• Baca: PDIP Jatim Tak Bergantung Jokowi Effect di Pileg 2019

“Saat itu seluruh kader PDI Perjuangan Surabaya dan Jatim menjadikan posko ini sebagai pos perjuangan,” kenangnya.

Memori Soepomo kian bangkit, saat melihat menu ikan asin dan sayur lodeh yang disuguhkan panitia. Menurutnya, menu tersebut menjadi simbol untuk mempererat persaudaraan dan perjuangan.

“Pada masa itu banyak yang masih belum bekerja. Selebihnya fokus dalam pergerakan,” imbuh pria yang pernah menjadi anggota DPR RI tersebut.

• Baca: Gus Ipul-Puti Kalah, Pengamat: PDIP ‘Menangis’, PKB Tidak!

Soepomo berharap, era saat ini hendaknya mewarisi semangat perjuangan dan militansi PDIP untuk menjaga keutuhan NKRI, termasuk upaya pemberantasan korupsi.

“Karena politik masa saat ini lebih banyak diwarnai kasus korupsi. Seharusnya semangat militansi untuk memberantas bisa dilakukan,” terangnya.