Kamis, 26 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak Mewabah di 4 Kabupaten Jatim, Langkah Khofifah?

Berita Terkait

AWAS PMK: Penyakit mulut dan kuku serang 1.247 hewan ternak di empat kabupaten di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
AWAS PMK: Penyakit mulut dan kuku serang 1.247 hewan ternak di empat kabupaten di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Belum hilang kecemasan publik soal hepatitis akut misterius (acute hepatitis of unknown aetiology), kini Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak mewabah di empat kabupaten di Jatim.

Menurut Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, temuan PMK tersebut berdasarkan laporan dari masyarakat serta hasil peninjauan di lapangan oleh Dinas Peternakan Jatim dan uji laboratorium Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) pada 5 Mei 2022.

“Empat kabupaten di Jatim yang hewan ternaknya terjangkit PMK yaitu Lamongan, Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo,” ujarnya saat memimpin rapat koordinasi (rakor) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (6/5/2022).

Rakor untuk menanggulangi PMK tersebut digelar dengan instansi terkait, di antaranya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), tim Kemenko Perekonomian, empat bupati yang daerahnya terjangkit wabah, serta kalangan kampus khususnya FKH Unair.

Dijelaskan Khofifah, kasus pertama dilaporkan terjadi di Gresik pada 28 April 2022 dengan jumlah kasus 402 ekor sapi potong terjangkit PMK yang tersebar di lima kecamatan dan 22 desa.

Kasus kedua dilaporkan pada 1 Mei 2022 di Lamongan. Ada 102 ekor sapi potong yang terindikasi mengalami PMK dan tersebar di tiga kecamatan dan enam desa.

Di hari yang sama, di Sidoarjo juga ditemukan kasus yang menjangkiti 595 ekor sapi potong, sapi perah, dan kerbau. Kasus ditemukan dengan sebaran di 11 kecamatan dan 14 desa.

Sedangkan kasus keempat pada 3 Mei 2022 di Mojokerto. Kasus yang dilaporkan tercatat 148 ekor sapi potong yang tersebar di sembilan kecamatan dan 19 desa.

Outbreak (kejadian luar biasa/wabah) yang telah menyerang 1.247 ekor di empat kabupaten tersebut yang terkonfirmasi  memiliki tanda klinis sesuai dengan indikasi penyakit PMK,” ucap Khofifah.

Lantas apa langkah Khofifah? Agar penyebaran PMK tidak semakin meluas, dia menyampaikan rencana penanganan dan tindak lanjut telah dilakukan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim dengan melibatkan Pusvetma selaku laboratorium rujukan PMK di Indonesia dan Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates selaku laboratorium penguji.

Disnak Jatim, kata Khofifah, sudah melakukan beberapa tindakan, antara lain bersama tim kabupaten melakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi panic selling bersama BBVET dan Pusvetma.

Upaya itu dilakukan dengan cara pengambilan sampel dan peneguhan diagnosa, serta melakukan surveillans epidemiologi untuk menentukan sebaran penyakit dan menentukan jumlah ternak terancam.

Sedangkan untuk upaya tindak lanjut, Khofifah menambahkan pihaknya telah kordinasi dengan Kementan untuk  menyediakan obat-obatan dalam rangka melanjutkan pengobatan simtomatis pada ternak yang terjangkit PMK. Hal ini  dilakukan untuk mengurangi potensi panic selling. Obat-obatan tersebut Sabtu (7/5/2022) hari ini sudah sampai di Jatim.

Selain itu, hari ini Pemprov Jatim mengusulkan penetapan status Wabah PMK pada empat kabupaten yang dinyatakan positif, serta melakukan pembatasan lalu lintas ternak dari dan menuju daerah wabah. Hal ini antara lain untuk bisa akses vaksin PMK mengingat Indonesia pada dasarnya sudah dinyatakan bebas PMK sejak 1986.

“Rakor memutuskan akan dilakukan penutupan sementara pasar hewan pada daerah wabah, melakukan depopulasi terbatas pada ternak yang terkonfirmasi positif terkena PMK sesuai SOP Kementan, melakukan pengobatan, serta penyiapan vaksinasi ternak sehat pada daerah terancam minimal cakupan 70 persen dari populasi,” jelasnya.

Pakai Metode Kombinasi

Dalam rakor lanjutan, Khofifah mengatakan metode kombinasi merupakan yang paling cocok untuk menangani PMK. Mengingat, pemusnahan atau stamping out yang digemari banyak negara maju membutuhkan anggaran besar.

“Kalau pakai stamping out, beban anggaran akan tinggi karena kita harus mengkompensasi. Jadi, kita pakai metode kombinasi, yakni stamping out dan vaksinasi secara bersamaan,” terangnya.

Selain itu, pihaknya bersama Kementan juga akan mengaktifkan URC (Unit Respons Cepat) yang bertanggung jawab dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit PMK, serta pemaksimalan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) agar masyarakat lebih paham tentang PMK.

“Jadi ini kurang lebih sama dengan cara kita melakukan kesiapsiagaan seperti saat kita menghadapi Covid-19. Jangan ada yang under estimated. Kita bangun URC dan membangun awareness di masyarakat agar mereka tidak melakukan panic selling,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, hasil penanganan yang sudah dilakukan maupun rencana tindak lanjut ke depan, akan dikoordinasikan intensif dengan Kementan bersama pakar akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan  serta berkoordinasi dengan empat bupati yang hewan ternaknya terjangkit PMK.

Diketahui, PMK adalah penyakit hewan menular akut yang menyerang ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan tingkat penularan mencapai 90-100 persen. Namun sesuai penjelasan Dirjen PKH Kementan, penyakit ini tidak menular ke manusia, melainkan menular ke sesama hewan.

Tanda klinis penyakit PMK pada hewan ternak meliputi demam tinggi (39-41 derajat celcius), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, Luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, kaki pincang, Luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan menjadi kurus.

» Baca berita terkait Disnak Jatim. Baca juga tulisan terukur lainnya Abdillah HR.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -