Rabu, 07 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Pengamat Politik: Kiai Kampung Jangan Sering Offside

Berita Terkait

TERJERUMUS POLITIK SESAAT: Gus Fahrur dkk, terjerumus kepentingan politik sesaat serta menggerus marwah mereka sendiri di hadapan publik. | Foto: Ist
TERJERUMUS POLITIK SESAAT: Gus Fahrur dkk dinilai terjerumus kepentingan politik sesaat serta ‘akrobat politiknya’ bisa menggerus marwah mereka sendiri di hadapan publik. | Foto: Ist
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Bukannya dipuji, tapi malah dikritisi. Bahkan permainan politik secara terbuka yang dipertontonkan ‘kiai kampung’ dinilai bisa terjerumus pada kepentingan politik sesaat, serta menggerus marwah mereka di hadapan publik.

“Sungguh berbahaya jika para kiai kampung memainkan peran politik praktis terbuka. Hal ini akan mudah terjerumus kepada kepentingan politik sesaat,” kata Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Maduta (UTM) Surochim Abdussalam, Rabu (6/12).

“Harap hati-hati memainkan peran terbuka, mengingat hal itu bisa mengerus marwah beliau di hadapan publik.”

• Baca: Gus Ipul ‘Melawak’ di PPP, Pendukung Sibuk Serang Khofifah

Surochim berharap para kiai kampung tetap menjadi jangkar kultural yang bisa memainkan high politics dengan menjadi jujukan dan titahnya selalu dijadikan pegangan bagi publik.

“Tapi jika terlalu terbuka memainkan politik praktis dukung mendukung, maka marwah itu akan tergerus signifikan,” tandasnya.

Seperti diberitakan, sejumlah orang yang menamkan diri Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) begitu larut dalam permainan politik praktis, terkait dukung mendukung di Pilgub Jatim 2018.

Tak sebatas mendukung salah satu calon, forum yang dimotori Fahrurrozi atau akrab disapa Gus Farur ini juga sibuk ‘menyerang’ bakal Cagub, Khofifah Indar Parawansa.

• Baca: Kasihan Umat, Stop ‘Akrobat Politik’ Atas Nama Kiai Kampung

Terbaru, dia mulai mendikte Presiden Joko Widodo agar me-reshuffle Khofifah dari jabatan Menteri Sosial, sementara Wagub Jatim, Saifullah Yusuf yang didukungnya — meski sama-sama pejabat publik — justru diminta tak perlu mundur.

Menurut Surochim, permintaan Gus Fahrus dkk terlampau jauh. “Permintaan terbuka seperti itu terlampau jauh dan offside. Padahal peran politik high context yang tidak vulgar membuat beliau-beliau disegani umat,” katanya.

Eman jika berubah peran politik praktis akan mudah diombang-ambingkan kepentingan sesaat. Ada peran elegan yang jauh lebih strategis yang bisa dimainkan dan pilihan itu bukan politik praktis terbuka,” imbuh peneliti Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -