Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Pengamat: Pemkot Surabaya Jangan Asal Terima Duit

Berita Terkait

TANGGUNG JAWAB PEMKOT: Suko Widodo, Pemkot Surabaya harus bertanggung jawab. Jangan asal terima duit dan asal pasang iklan di ruang publik.
| Foto: Ist
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo angkat bicara soal iklan vulgar terkait HUT RI yang dipasang Platinum Ceramics di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya, sejak Selasa (8/8) dinihari dan akhirnya diturunkan Satpol PP, Sabtu (12/8).

Menurut Suko, jangan hanya Platinum Ceramics yang diminta bertanggung jawab, tapi juga Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya karena izin pemasangan iklan di ruang publik ada di tangan Pemkot.

“Mereka (pemasang) harus tanggung jawab, Pemkot juga. Tidak asal terima duit saja dan asal pasang. Itu ruang publik, harus dipertanggungjawabkan,” papar Suko.

• Baca: Platinum Minta Maaf, Rencana Iklan Dipasang di 15 Titik

Bagi Suko, menjadi tanggung jawab Pemkot untuk melakukan pengecekan materi iklan sebelum dipasang di ruang publik. “Pihak pemerintah salah. Seharusnya sebelum naik dipasang, ada tim yang menyeleksi kualitas pesan iklan. Melanggar atau tidak? Hak-hak publik telah dilanggar, karena lalainya tim reklame,” paparnya.

“Tim reklame ini yang harusnya membolehkan atau melarang. Tim ini harus terdiri dari berbagai ahli, seperti dari ahli hukum, seniman, komunikasi dan agama,” tambahnya.

Apalagi, lanjut Suko, sebuah reklame iklan mengandung pesan komunikasi untuk publik karena itu harus memegang prinsip-prinsip kepublikan. Salah satunya prinsip mendasarkan konten iklan dengan nilai dan norma kelaziman sosial.

• Baca: Kelewat Vulgar, Iklan HUT RI Ini Diturunkan Satpol PP

“Iklan itu istilah Jawanya: Ora umum. Tidak lazim dalam merepresentasikan pesan kemerdekaan,” katanya.

Suko juga mengkritik pemasang iklan yang dinilai tidak memperhatikan norma sosial yang ada. “Ya tidak asal promo. Pesan iklannya harus memperhatikan norma sosial. Kurang kreatif, tidak memiliki sense of public norm. Perusahaan iklan ya kurang nasionalismenya,” tandasnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -