Pengamat: Elektabilitas Risma Masih Kalah dengan Khofifah

SILATURAHIM: Tri Rismaharini (kiri) saat silaturahim ke kediaman Khofifah Indar Parawansa di Jemursari, Surabaya, jelang maju di Pilwali Surabaya 2015. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasca kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilgub DKI Jakarta, suhu Pilgub Jatim 2018 yang sempat dingin kembali menghangat. Maklum, setelah Jakarta, Jawa Timur adalah barometer politik nasional, lebih-lebih jelang Pemilu dan Pilpres 2019.

“Jatim itu barometer politik nasional, apalagi kalau dihubungkan dengan kepentingan Pilpres 2019. Pilkada serentak 2018 di Jatim ada 18 kabupaten/kota plus Pilgub, sehingga pola di Jakarta akan tereduksi ke daerah-daerah,” ujar Suko Widodo, pengamat politik komunikasi asal Unair Surabaya, Rabu (19/4).

Satu hal yang patut ditunggu, siapa yang akan diusung PDIP pasca kalah di DKI. Apakah akan mengusung kader sendiri atau menjatuhkan pilihan pada tokoh yang memiliki basis massa Ormas?

Jika mengusung kader sendiri, nama yang sering dispekulasikan yakni Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma. Bisa pula membawa pulang Djarot ke Jatim setelah gagal di DKI mengingat dia pernah dua periode memimpin Kota Blitar.

Namun dengan lugas Suko mengatakan bahwa popularitas dan elektabilitas Risma maupun Djarot, jika diusung PDIP di Pilgub Jatim 2018, masih kalah dengan Khofifah Indar Parawansa maupun Saifullah Yusuf.

“Pasca kekalahan di Banten dan DKI Jakarta, saya kira PDIP akan bersikap pragmatis dalam Pilgub Jatim mendatang, yakni memilih Cagub yang memiliki kekuatan publik. Pilihannya ya antara Gus Ipul atau Khofifah kalau ingin menang,” katanya.

Bagaimana jika Djarot digandengkan dengan Risma? Suko menilai Djarot tetap layak diperhitungkan. Hanya saja, secara relationship communications yang terbangun sudah lama tercerabut dari Jatim.

“Sudah tujuh tahun, sehingga intensitas komunikasi dengan masyarakat Jatim mulai pudar, jadi saya kira cukup berat,” paparnya.

• Baca: Jika Khofifah Maju, Risti Tagor Siap Jadi Jurkam

Analisa Suko, mungkin tak berlebihan. Faktanya, saat Pilgub Jatim 2013, duet kader PDIP Bambang DH-Said Abdullah (Jempol) hanya meraih 6.525.015 suara (37,62%).

Bandingkan dengan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang memengangi Pilgub Jatim 2013 meraih 8.195.816 suara (47,25%) atau pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawiredja (Berkah) meraih 6.525.015 suara (37,62%). Sementara pasangan Eggi Sudjana-M Sihat (Beres) yang maju dari jalur perseorangan mengantongi 422.932 suara (2,44%).

Pun demikian kalau menilik wilayah kemenangan. Karsa menang di 27 kabupaten/kota, Berkah di 11 kabupaten/kota, sementara Jempol dan Beres tidak satu pun menang di kabupaten/kota. “Pilihannya ya itu tadi, antara Khofifah atau Gus Ipul kalau ingin menang,” tandas Suko.

HASIL PILGUB JATIM 2013

Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa)
• Parpol Pengusung: Demokrat, Golkar, PAN dan Parpol non kursi.
• Perolehan Suara: 8.195.816 (47,25%)

Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja (Berkah)
• Parpol Pengusung: PKB, PMB, PK, PPNUI, PKPI.
• Perolehan Suara: 6.525.015 (37,62%)

Bambang DH-Said Abdullah (Jempol)
• Parpol Pengusung: PDIP
• Perolehan Suara: 2.200.069 (12,69%)

Eggi Sudjana-M Sihat (Beres)
• Jalur Perseorangan
• Perolehan Suara: 422.932 (2,44%)

PARTISIPASI PEMILIH
Total Suara: 17.895.809 (60%)
Suara sah: 17.343.832
Suara tidak sah: 551.977