Pemanfaatan IT Era Revolusi Industri 4.0 di Masa Pandemi

Dedy Rahman Prehanto | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
Dedy Rahman Prehanto | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

REVOLUSI Industri 4.0 mengintegrasikan antara dunia online serta internet dengan lini produksi pada suatu industri. Dahulu, orang-orang masih enggan menggunakan teknologi dengan dalih mahalnya infrastruktur IT. Selain itu, belum meratanya jaringan internet menjadi penghambat orang-orang dalam bersosialisasi.

Sejak 2011 dunia internasional dianggap telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai dengan meningkatnya interaksi, konektivitas, dan batas antara manusia, mesin, serta sumber daya lainnya yang semakin konvergensi via komunikasi dan teknologi informasi.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 2011 sebagai “Industrie 4.0” oleh sekelompok perwakilan dari berbagai bidang — seperti bisnis, politik, dan akademisi — di bawah inisiatif guna meningkatkan kekuatan daya saing Jerman di industri manufaktur.

Pemerintah federal Jerman mengadopsi gagasan tersebut dalam strategi teknologi tinggi untuk 2020. Selanjutnya, kelompok kerja dibentuk untuk memberi saran lebih lanjut tentang implementasi Industri 4.0.

Dalam menghadapi era revolusi Industri 4.0, masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang serba digital, khususnya di bidang pendidikan.

Kehadiran teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang unggul.

Namun, dunia saat ini tengah dilanda wabah penyakit yang disebabkan virus Corona (Covid-19). Situasi pandemi ini seketika mengubah sendi kehidupan masyarakat dunia dan menjadi ancaman bagi sektor perekonomian, sektor pendidikan dan lainnya.

Indonesia pun tak luput dalam tantangan besar penanganan Covid-19 agar tidak semakin menyebar dan menelan korban jiwa yang lebih besar lagi. Sehingga dapat diartikan bahwa peran teknologi informasi sangat penting di masa ini.

Salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19 adalah sektor pendidikan yang melibatkan begitu banyak aktivitas fisik bersifat rutin, seperti pertemuan tatap muka di kelas, proses pembimbingan akademik, pertemuan formal dalam forum seminar dan lain sebagainya.

Namun demikian, berbagai aktivitas rutin ini terhambat karena untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19, pemerintah telah menerapkan kebijakan physical distancing.

Dalam bidang pendidikan, dengan kemunculan virus Covid-19 ini, ternyata memberikan dampak yang luar biasa.  Proses pembelajaran menjadi berubah dari yang biasanya berlangsung secara tatap muka atau interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik, menjadi pembelajaran daring.

Semenjak akhir Maret 2020, peserta didik belajar dari rumah tanpa harus pergi ke tempat pendidikan.

Pendidik Wajib Inovatif

Berbicara mengenai pembelajaran secara daring, maka penting bagi para pendidik dalam hal penguasaan teknologi agar pembelajaran tetap berjalan dengan efektif di saat pandemi seperti sekarang. Pendidik harus melakukan inovasi dalam pembelajaran, di antaranya dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Semenjak pembelajaran diberlakukan di rumah, sebagian pendidik melakukan pembelajaran lewat media online seperti Zoom, Whatsapp, Google Meet, Google Form, Google Classroom, Quipper, dan lain-lain.

Inovasi dalam pendidikan akan ada juga berbagai cara yang dapat dilakukan pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuannya kepada peserta didik. Salah satunya ada yang menggunakan Grup Whatsapp, dimana pendidik sebelumnya akan membuat video pembelajaran lalu dikirim ke grup untuk diamati oleh para peserta didik.

Melihat fenomena tersebut, maka bagi penerapan metode online learning (e-learning) menjadi suatu keniscayaan dan pilihan terbaik bagi dunia pendidikan. Berbagai institusi pendidikan saat ini mulai memanfaatkan teknologi dan menerapkan sistem pembelajaran online untuk menunjang aktivitas pembelajaran.

“Penerapan metode online learning (e-learning) menjadi suatu keniscayaan dan pilihan terbaik bagi dunia pendidikan.”

Penyajian sistem pembelajaran online (e-learning) berbasis web ini lebih interaktif dan bersifat borderless, inilah yang memungkinkan aktivitas pembelajaran dan perkuliahan bisa dilakukan secara efektif dan efisien.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, semua sektor pendidikan harus mengoptimalkan penggunaan IT dalam proses pembelajarannya maupun proses administrasinya.

Dari pembelajaran daring ini, dapat diperoleh juga dampak positifnya, antara lain (1) peserta didik lebih mudah dan cepat memperoleh tugas dari bapak ibu pendidik, (2) menciptakan kreativitas dan inovatif dalam metode pembelajaran dan proses belajar mengajar, (3) dapat memaksimalkan komunikasi, transfer informasi, dan pengetahuan untuk melanjutkan peradaban.

Adanya wabah pandemi Covid-19 janganlah menjadi alasan untuk tidak melaksanakan pembelajaran. Bagaimanapun dan dalam kondisi apapun pembelajaran harus terus berlanjut.

Setiap sarana pendidikan memiliki kebijakan masing-masing dalam menyikapi aturan ini. Beberapa sarana pendidikan menyesuaikan waktu belajarnya yang akan diberikan kepada peserta didik setiap harinya.

Tanpa Tatap Muka

Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan peserta didik, tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet.

Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun peserta didik berada di rumah. Maka, solusinya guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online).

Hal ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet.

Guru dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial, seperti Whatsapp (WA), Telegram, Instagram, aplikasi Zoom maupun media lainnya sebagai media pembelajaran.

Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan meskipun di tempat yang berbeda. Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi beberapa sekolah di tiap-tiap daerah.

Sekolah-sekolah tersebut tidak siap dengan sistem pembelajaran daring dimana membutuhkan media pembelajaran seperti handphone, laptop atau komputer.

Semua sektor merasakan dampak Covid-19, dunia pendidikan salah satunya. Dilihat dari kejadian sekitar yang sedang terjadi baik peserta didik maupun orangtua peserta didik yang tidak memiliki handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini merasa kebingungan, sehingga pihak sekolah ikut mencari solusi untuk mengantisipasi hal tersebut.

Beberapa peserta didik yang tidak memiliki handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok. Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran, akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi peserta didik dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring.

Social distancing merupakan salah satu kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19. Dengan dibuatnya kebijakan ini, pemerintah berharap agar masyarakat dapat menjaga jarak fisik dengan sesama. Social distancing harus diterapkan di setiap aktivitas masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan.

Untuk mendukung kebijakan social distancing itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran Kemendikbud Dikti No.1 tahun 2020, yang berisikan intruksi untuk melakukan pembelajaran secara daring.

Peran Besar Daring

Kebijakan tentang pembelajaran daring ini tentu saja menimbulkan dampak positif dan negatif, dimana hasil nilai rata-rata yang didapat mahasiswa saat belajar daring lebih baik dibanding dengan hasil nilai rata-rata sebelum menggunakan pembelajaran daring.

Hal ini terjadi karena pembelajaran daring dapat mempengaruhi kemampuan literasi mahasiswa secara signifikan. Namun, perolehan nilai yang tinggi tidak dapat menjadi acuan mahasiswa paham dengan materi perkuliahan.

Di sisi lain, pembelajaran daring dinilai kurang efektif karena dosen terlalu fokus untuk memberikan tugas dibandingkan materi.

Akses internet juga mempunyai peran besar dalam pembelajaran daring. Belum meratanya ketersediaan internet di Indonesia menyebabkan sebagian mahasiswa kesulitas untuk mengakses materi pembelajaran.

Hal ini menyebabkan mahasiswa kesulitan untuk memahami materi pembelajaran. Rasa stres ini juga ditumbulkan karena mahasiswa merasa kesulitan untuk memahami materi dengan pembalajaran daring, juga karena rasa khawatir tertular Covid-19.

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran daring memang membuat mahasiswa mendapat hasil nilai yang lebih baik. Namun, di balik nilai yang lebih baik tersebut, terdapat beberapa kendala yang dirasakan oleh mahasiswa itu sendiri, seperti tidak pahamnya materi, gangguan akses internet, juga rasa stres yang menimpa mahasiswa.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan untuk dapat mencari solusi yang baik agar mahasiswa mampu mengatasi kendala-kendala ini. Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir sehingga pembelajaran dapat kembali normal seperti sedia kala.

* Penulis Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa)