PDIP Ingin Menang di Surabaya? Usung Duet Nasionalis-Santri!

PILWALI SURABAYA: Gus Hans dan Whisnu dalam satu acara, berpeluang diusung PDIP di Pilwali Surabaya. | Foto: IST
PILWALI SURABAYA: Gus Hans dan Whisnu dalam satu acara, berpeluang diusung PDIP di Pilwali Surabaya. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman menilai PDIP — pemilik 15 kursi di DPRD Surabaya — harus cermat dalam mengusung pasangan calon di Pilwali Surabaya 2020.

Terlebih yang dibutuhkan saat ini bukan sebatas memenangi elektoral, tapi juga bersama-sama menghadapi berbagai krisis yang terjadi, terutama pandemi Corona (Covid-19) dengan segala dampak yang ditimbulkan.

Dalam situasi seperti itu, menurut pengamat yang akrab disapa Angga tersebut, komposisi pasangan calon yang ideal diusung PDIP yakni menduetkan representasi nasionalis-santri.

“Dalam politik elektoral dan situasi krisis saat ini, PDIP juga harus memerhatikan keseimbangan dan komposisi nasionalis-santri,” tandas Angga yang juga CEO lembaga survei The Initiative Institute.

Kalkulasinya, papar Angga, kondisi krisis saat ini membutuhkan persatuan, kolaborasi, serta bisa saling menyatukan satu sama lain. Nah, melihat komposisi politik kebudayaan di Surabaya saat ini, maka perekatnya adalah nasionalis dan santri.

“Agar perekat itu bisa solid, dan momen politik elektoral tidak menjadi ajang bagi proses yang saling terpecah satu sama lain,” ujarnya.

“Solidarity maker itu terbangun ketika aliran sungai nasionalis dan santri bertemu.”

Siapa duet nasionalis-santri yang dimaksud Angga? Meski tak menyebut nama, bisa jadi mengarah ke Whisnu Sakti Buana-Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans.

Sebab, di bursa Pilwali Surabaya 2020, satu-satunya kandidat kuat dari kalangan santri alias orang pesantren hanya Gus Hans. Sedangkan Whisnu disebut-sebut yang akan mendapat rekomendasi dari DPP PDIP untuk posisi calon wali kota.

Butuh Kolaborasi Bersama

Angga menambahkan, yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi bersama, saling pengertian, saling pemahaman satu sama lain. Maka politiknya harus sinergi dalam kondisi krisis, terlebih harus menyesuaikan dengan keadaan era new normal.

Bagi Angga, new normal itu solidaritas, saling pengertian, bersama-sama, gotong royong untuk saling membantu menghadapi krisis, dan politik harus menyesuaikan.

“Menyesuaikannya apa? Ya merangkul seluruh aliran politik kebudayaan, terutama yang eksisting di Surabaya,” jelas Angga.

“Jadi lebih ke arah solidarity maker, dan solidarity maker itu terbangun ketika aliran sungai nasionalis dan santri bertemu,” tegasnya.

Angga yakin, peluang PDIP memenangi Pilwali Surabaya lebih besar jika yang diusung duet nasionalis-santri. “Ya saya pikir kemungkinan menang sangat besar,” ujarnya.

Terlebih yang bakal dihadapi PDIP di Pilwali Surabaya kali ini adalah koalisi besar dengan kandidat mantan Kapolda Jatim, Machfud Arifin. Belum lagi menyatukan perseteruan faksi-faksi di ‘kandang banteng’.

“Saya kira PDIP agak terbebani juga ya. PDIP sebagai partai kuat, tapi ketika kemudian berhadapan dengan koalisi besar tentunya akan menghadapi persoalan, akan terlalu banyak energi yang terkuras,” tuntas Angga.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya