Pasca Teror Bom, Gubernur: Keamanan di Jatim Terkendali

PENINJAUAN GEREJA: Gubernur Soekarwo bersama Kapolda dan Pangdam melakukan peninjauan di emat gereja di Surabaya, Minggu (20/5). | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
PENINJAUAN GEREJA: Gubernur Soekarwo bersama Kapolda dan Pangdam melakukan peninjauan di emat gereja di Surabaya, Minggu (20/5). | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Soekarwo mengatakan seluruh lapisan masyarakat yakin keamanan di Jatim — khususnya di Surabaya — telah terkendali. Keyakinan masyarakat di antaranya terlihat dari kunjungan jemaat di berbagai gereja di Surabaya yang stabil.

Hal itu disampaikan Pakde Karwo — sapaan akrab Soekarwo — saat menjawab pertanyaan media di gedung negara Grahadi, Jl Gubernur Suryo 7 Surabaya usai melakukan peninjauan ke empat gereja di Surabaya, Minggu (10/5).

Keempat gereja yang dikunjungi, yakni Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jl Ngagel Jaya Utara 81, Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB) di Jl Ngagel Madya 1, Gereja Hati Kudus Yesus (HKY) di Jl Polisi Istimewa 15, dan Gereja Katolik Santo Yakobus (GKSY) di Citra Land.

• Baca: 7 Jenazah Pelaku Bom Bunuh Diri Dimakamkan di Sidoarjo

Kunjungan ke empat gereja tersebut dilakukan bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman.

Terkendalinya keamanan yang dilakukan  Polri dan TNI, menurut Pakde Karwo, memberikan rasa aman bagi warga sekaligus bentuk kehadiran negara melindungi rakyatnya. “Ini sesuai arahan Bapak Presiden, agar pencarian terorisme sampai dengan ke akar-akarnya,” ujarnya.

Untuk menciptakan rasa aman tadi, lanjut Pakde Karwo, berbagai lapisan masyarakat juga ikut andil menjadi bagian dalam pengamanan gereja-gereja seperti Banser NU, Satpol PP, hingga siswa-siswi pramuka. Karena itu, para pimpinan gereja, diharpkan agar terus memberi semangat pada jemaatnya untuk tetap beribadah.

Reaksi Penolakan Masyaraat

Terhadap permasalahan terorisme, Pakde Karwo menjelaskan saat ini masyarakat telah memberikan hukuman atau sanksi sosial, seperti reaksi tidak boleh dimakamkan di daerahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasa pentingnya hidup berdampingan secara pluralisme dengan damai, dan sepakat bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

“Masyarakat juga telah tahu bahwa terorisme bukan perintah agama, karena tidak ada agama manapun yang mengajarkan pembunuhan seperti itu,” tegasnya, sambil mengatakan menjadi tugas pemerintah untuk selanjutnya mencarikan makam bagi pelaku teroris.