Pakar: Ridwan Kamil-Khofifah Bisa Jadi Besi Sembrani di 2024

PERTEMUAN GEDUNG SATE: Ridwan Kamil-Khofifah, mulai merajut pernikahan politik di 2024? | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH
PERTEMUAN GEDUNG SATE: Ridwan Kamil-Khofifah, mulai merajut pernikahan politik di 2024? | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo menilai pertemuan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dengan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Sate, Senin (19/4/2021), bisa saja menjadi sebuah awal yang besar sekaligus strategis.

Jika dimaknai sebagai sebuah konjungtur politik, kata Mochtar, siapapun pasti akan memiliki persepsi tentang kemungkinan dan potensi Ridwan Kamil-Khofifah berkolaborasi serta berkoalisi menuju panggung kontestasi Pilpres 2024.

“Kalau terwujud tentu ini sebuah pertemuan besar dan strategis, karena Jabar dan Jatim adalah lumbung suara utama dan terbesar di setiap kontestasi elektoral. Jika diseriusi, pertemuan ini bisa menjadi besi sembrani yang akan menarik berbagai kekuatan dan kepentingan ekonomi politik yang berserak,” katanya, Kamis (22/4/2021).

Namun jika pertemuan ini dipahami sebagai sebuah konjungtur peradaban kultural, lanjut Mochtar yang juga Dirut lembaga Surabaya Survey Center (SSC), maka ini akan jauh lebih besar, jauh lebih strategis,  dan jauh lebih substansial.

Sebab, hal itu bisa menyatukan retak batin kawula pakuan Pajajaran dan kawula Majapahit, yang telah tersobek dengan berbagai kapitalisasi peristiwa Perang Bubad yang berlangsung berabad-abad lampau.

Lagi pula, upaya rekonsiliasi kultural Jawa-Sunda telah lama diupayakan berbagai pihak. Bahkan pernah diupayakan secara serius oleh gubernur sebelumnya, Soekarwo dan Ahmad Heryawan bisa jadi menumbukan momentumnya lagi melalui langkah awal pertemuan Ridwan Kamil dan Khofifah tersebut.

“Dan jika konjuntur politik dan konjungtur peradaban kultural ini kelak ber-interface pada saat menjelang kontestasi 2024, maka bisa jadi itu akan menjelma sebuah nalar politik baru yang menginspirasi kembali peradan Sundaland ribuan tahun lalu, yang dalam redaksi persatuan dan kesatuan Nusantara adalah sebuah rajutan yang mewah, besar, dan strategis,” paparnya.

Mochtar sendiri berharap ini adalah pertemuan kultural, karena akan memberi banyak inspirasi kultural bagi daerah lain di belahan Nusantara ini yang memiliki peristiwa dan luka kultural seperti Jawa-Sunda,” katanya.

Persoalan dalam perjalanannya nanti ada interface dengan kepentingan politik menuju 2024, maka setidaknya ada nalar politik baru yang layak diinisiasi.

“Siapa tahu kegagalan pernikahan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka yang melahirkan luka kultural mulai berabad-abad lalu, bisa terkikis melalui ‘perkawinan politik’ Ridwan Kamil-Khofifah Emil,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilpres 2024