Pakai Data Sekunder, Ada Apa dengan Berpikir Institute?

RAMALAN DENGAN DATA SKUNDER: Romel Masykuri memaparkan ramalannya terkait kandidat di Pilgub Jatim. Ramalan ini mendapat kritik tajam karena metodologinya menggunakan data skunder. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Lembaga kajian politik di Surabaya, Berpikir Institute melakukan peramalan (analisis forecasting) siapa calon gubernur yang diprediksi dipilih masyarakat. Dari sejumlah nama yang dimunculkan, ada empat bakal calon potensial. Dua dari kader partai dan dua non partai.

Empat bakal calon yang diramal Berpikir Institute lewat Rilis Hasil Analisis Forecasting Peta Politik Menjelang Pilgub Jatim 2018 di Rumah Makan Sari Nusantara, Jl Gubernur Suryo, Surabaya, Rabu (12/4), yakni Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Timur), Khofifah Indar Parawansa (Mensos/Ketua Umum PP Muslimat NU), Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya/Kader PDIP) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi).

Dari empat kandidat tersebut, Saifullah Yusuf ‘diproyeksikan’ memperoleh tingkat elektabilitas tertinggi untuk kategori calon gubernur. Sedangkan kandidat lain yang tidak mempunyai kesenjangan nilai rata-rata dalam variabel gabungan adalah Azwar Anas, Bambang DH dan Edy Rumpoko.

Dalam nilai total, tampak polarisasi kekuatan kandidat secara umum yang bisa dibagi dalam tiga kelompok berbasis Ormas yakni kader NU (Saifullah Yusuf, Khofifah, Abdul Halim Iskandar dan Azwar Anas). Lalu kader nasionalis (Bambang DH, Tri Rismaharini, Budi ‘Kanang’ Sulistiyono dan Edy Rumpoko) serta kader Muhammadiyah (Suyoto dan Masfuk).

• Baca: Soekarwo Mentahkan Hasil Analisa The Initiative Institute

Direktur Eksekutif Berpikir Institut, Romel Masykuri mengatakan, metodologi risetnya, menganalisa data sekunder. Analisa itu dilakukan mulai Febuari sampai April 2017.

“Untuk data yang diteliti, berasal dari sumber resmi kementerian terkait penghargaan dan juga lembaga nasional serta internasional terhadap kinerja institusi pemerintah dan perseorangan,” paparnya.

Data kedua, lanjut Romel, diperoleh dari hasil survei yang disebutnya kredibel dalam rentang waktu 2004 hingga 2016. Ketiga, berdasarkan rekam jejak figur dari analisa media massa, serta analisa persepsi elit politik dari hasil wawancara di media massa.

Kritik Tajam
Karuan saja metode penelitian yang menggunakan data sekunder ini mendapat kritik tajam dari Dosen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Novri Susan.

Meski riset tersebut mampu memberi gambaran siapa calon gubernur yang akan dipilih masyarakat, menurut Novri, hal itu belum bisa dipertanggungjawabkan hasilnya.

“Saya punya catatan terkait dua hal. Pertama, terkait aspek metodologisnya. Ini sangat vital karena suatu hasil ini bisa dipertanggungjawabkan dan bisa merepresentasikan kualitas itu berdasarkan pada metode,” terangnya.

• Baca: Kades di Jatim ke Jakarta Minta Khofifah Maju Pilgub

Kedua, kata Novri, tentang hasil riset Berpikir Institute. “Ini lebih pada bagaimana hasilnya. Ini metode penelitian menggunakan data sekunder. Ada satu kelemahan, yaitu berkaitan dengan kondensitas data. Data ini merupakan data yang sudah lalu, sudah berada pada fase tertentu,” jabarnya.

“Padahal, kalau kita mengambil data langsung, kita melakukan, tentang satu fenomena pada segi saat ini. Itu bisa berubah minggu depan. Jadi memang ada kelemahan. Ada kondensitas yang perlu hati-hati,” sambung Novri.