Ngeri! Wagub Emil Ungkap Ada 472 Klaster Covid-19 di Jatim

472 KLASTER: Emil Dardak, mengungkap ada 472 kluster dari total 1.342 kasus Covid-19 di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/IST
472 KLASTER: Emil Dardak, mengungkap ada 472 kluster dari total 1.342 kasus Covid-19 di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/IST

MOJOKERTO, Barometerjatim.com – Ngeri! Wakil Gubernur (Wagub)Jatim, Emil Elestianto Dardak mengungkap ada 472 kluster Covid-19 dari total 1.342 kasus di Jatim.

Hal itu disampaikan Emil saat menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati; Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra, serta jajaran Forkompinda beserta OPD terkait, Selasa (29/6) malam.

Nah, untuk mencegah munculnya klaster baru, suami Arumi Bachsin tersebut berharap agar Pemkab Mojokerto menunjukkan kedisiplinan dalam menerapkan tracing.

Saat ini pun, Pemkab Mojokerto sudah menerapkan penanganan intensif, yakni ketika ada satu pasien positif, maka dilakukan tracing kepada 20 hingga 25 orang. Untuk memperkuat tracing, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim akan membantu pengadaan antigennya.

“Arahan Ibu Gubernur Khofifah, BPBD akan terus memantau sinergi apa yang bisa kita bangun dalam kaitan dengan proses tracing,” tandas mantan Bupati Trenggalek tersebut.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Emil juga menyampaikan tingginya lonjakan kasus Covid-19 di Kabupaten Mojokerto menjadi perhatian serius Pemprov Jatim.

Apalagi merujuk data terbaru Satgas Covid-19 Jatim per 28 Juni 2021, penambahan jumlah kasus Covid-19 sebanyak 77 orang.

“Kemarin, Kabupaten Mojokerto angkanya tertinggi se Jatim. Kemudian kami menghubungi Pemkab Mojokerto, alhamdulillah mereka sudah melakukan komunikasi bersama Forkopimda,” katanya.

Tiga Tindakan Pemkab

COVID-19 MOJOKERTO: Wagub Emil Dardak gelar rakor penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto. | Foto: Barometerjatim.com/IST
COVID-19 MOJOKERTO: Wagub Emil Dardak gelar rakor penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto. | Foto: Barometerjatim.com/IST

Dari hasil rakor, Emil menyampaikan beberapa tindakan yang sudah dilakukan Pemkab Mojokerto dalam menangani lonjakan kasus Covid-19.

Pertama, mengidentifikasi risiko terkait agenda hajatan pernikahan. Sebab, data di Kantor Urusan Agama (KUA) dan Kementerian Agama (Kemenag) mencatat,  sekitar 800 pasangan akan melakukan pernikahan dalam waktu dekat.

“Tentu ini menjadi atensi kita bersama. Mungkin ada peraturan, akad diperbolehkan tapi hajatan untuk sementara waktu ditiadakan,” tuturnya.

Kedua, sebagai kawasan industri dan backbone ekonomi Jatim, Emil mengimbau Pemkab Mojokerto untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan beberapa perusahaan agar mengawasi sekaligus mendata para pekerja yang tidak ber-KTP Mojokerto.

Hal ini perlu dilakukan, tandas Emil, untuk mencegah para pekerja pulang atau bolak balik ke kampung halamannya. “Biasanya, mereka memiliki potensi sangat tinggi untuk pulang ke kampung halaman, utamanya di akhir pekan,” tuturnya.

Ketiga, potensi adanya penyebaran virus mutasi varian baru delta B 1617.2 dinilai sangat cepat. Emil pun meminta rumah sakit di Kabupaten Mojokerto agar selektif menerima kunjungan di tengah kondisi melonjaknya kembali virus Covid-19.

Apalagi saat ini, lanjut Emil, total ketersediaan kapasitas tempat tidur di Kabupaten Mojokerto sebanyak 539 unit. Rinciannya, 380 bed di RS khusus bagi pasien penderita Covid-19 gejala sedang hingga berat.

Sedangkan untuk gejala ringan dirawat di Puskesmas. “Ada 139 bed di Puskesmas kemudian 20 bed untuk ICU di rumah sakit,” urainya.

Lebih lanjut, Emil menuturkan soal pentingnya pemisahan antara pasien yang masih terduga (suspect) dengan pasien yang sudah dinyatakan positif Covid-19 berstatus gejala ringan.

“Ini tidak bisa digabung. Risikonya orang-orang yang masih sama-sama suspect kalau berinteraksi bisa positif,” ungkap Emil. “Mereka (pasien suspect) juga menunggu hasil SWAB PCR sebelum ditentukan statusnya,” imbuhnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona