Nenek Pemulung Naik Haji Setelah Berjuang 40 Tahun

MENABUNG 40 TAHUN: Nenek Murip tahun ini berangkat ke Tanah Suci, masuk kelompok terbang (kloter) 18 jamaah calon haji (JCH) embarkasi Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AP

Bekerja sebagai pemulung dan memijat, butuh waktu 40 tahun bagi Nenek Murip untuk mewujudkan cita-citanya menunaikan ibadah haji. Ini kisahnya:

SEJAK usai 30, Murip yang kini berusia 70, bercita-cita ingin pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Tapi bekerja sebagai pemulung dan memijat,  untuk mewujudkan cita-cita tersebut seolah hanya mimpi.

Tapi buah ikhtiar, rajin menabung serta doa, mimpi itu terwujud di 2017 ini: Nenek Murip berangkat ke Tanah Suci, masuk kelompok terbang (kloter) 18 jamaah calon haji (JCH) embarkasi Surabaya.

Nenek Murip kelahiran Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, memulai niat mulianya dengan menitipkan uang Rp 1 juta kepada teman baiknya.

Uang itu dikumpulkan dari mengais rezeki lewat sampah yang dipungutnya setiap hari. Selain itu, keahlian memijat juga dimanfaatkannya untuk menabung. Hingga media 2010, terkumpul Rp 20 juta.

• Baca: Kisah Tukang Becak Naik Haji Buah 21 Tahun Menabung

“Kemudian uang itu saya daftarkan untuk ongkos naik haji,” tuturnya saat ditemui di Asrama Haji Surabaya, Sukolilo, Rabu (2/8).

Alhamdulillah, uang Rp 20 ribu sampai 50 ribu yang saya kumpulkan dari sampah dan mijat. Saya tabung tiap hari akhirnya bisa untuk berangkat haji,” katanya berbunga.

Di Tanah Suci nanti, Nenek Murip mengaku ingin berdoa agar dosa-dosanya selama hidup diampuni Allah Swt. “Saya juga mendoakan anak-anak saya agar menjadi anak saleh dan bisa berhaji nantinya,” katanya.

Gemar Menabung

Berstatus janda dengan empat anak dengan mata pencaharian pemulang dan tukang pijat, hidup Nenek Murip sangatlah sederhana. Terlebih dia punya cita-citanya berangkat haji.

Setiap hari dia hanya makan karak (nasi kering) dengan sayur. “Mbah (nenek) kalau makan cukup dengan daun singkong, nggak pakai ikan,” katanya.

• Baca: Dilepas Wabup Kartika, JCH Lamongan Terbanyak di Jatim

Meski hidup ‘susah’ dan sederhana, dia tetap berbagi dengan sesama karena didasari ingin beramal. Tak jarang dia menyisihkan rezekinya untuk anak-anak yatim piatu.

Alhamdulillah rezeki selalu ada. Saya bekerja jadi pemulung dan tukang pijat, dapat uang. Sebagian saya kasih ke anak yatim dan orang miskin. Meskipun saya juga susah, tapi saya juga ingin beramal,” tutupnya.