‘Modern Supply Chain’ Jadi Faktor Kunci

SINERGI: Dr Benny E Tjahjono (kanan) dari Cranfield School of Management, UK (Inggris) saat berbicara di ‘Business Sharing Session 2017’. | Foto: Barometerjatim.com/AZIZ TRI P

Dunia usaha butuh sinergi dengan pemerintah dan akademisi. Termasuk menggelar ‘Business Sharing Session 2017’ yang menyoroti beragam persoalan.

ADA sorotan menarik yang dilontarkan Dr Benny E Tjahjono PhD MSc BEng, dosen senior Cranfield School of Management, UK (Inggris), saat jadi pembicara di ‘Business Sharing Session 2017’ yang digelar ITS Surabaya, Jumat (6/1).

Menurut Dr Benny, saat ini muncul kecenderungan model bisnis baru di tengah persaingan ketat, yang membuat produk bisa low cost alias berbiaya rendah. Akibatnya, services atau jasa layanan tak lagi hanya pelengkap, tapi sudah menjadi faktor yang menentukan.

“Sekarang orang barat mulai tertarik dengan services, karena mereka ketakutan low cost tadi.  Tapi secara latar belakang budaya, orang Asia sebenarnya lebih piawai soal layanan. Maka Seharusnya kita bisa,” katanya.

Di hadapan peserta forum yang mewakili Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dr Benny menyajikan bahasan ‘Emerging Business Model In Modern Supply Chain:

Generating Revenue Stream’. Ia menyebutkan, model bisnis baru diperlukan ketika ada kebutuhan dan peluang yang jelas.

“Ini menyangkut proses yang baru, kekuatan sumber daya, inovasi juga budaya kewirausahaan. Termasuk menangkap apa yang dimaui pelanggan, dan menjadikannya titik awal dari tiap pengembangan bisnis,” katanya.

Dicontohkannya, perusahaan di inggris yang pernah jadi kliennye. Awalnya, kata Benny, perusahaan tersebut hanya memproduksi beragam metal, besi baja untuk kincir angin.  Tapi setelah melihat peluang pasar, mereka mau beralih jadi perusahaan energi.

“Jadi tak lagi hanya pembuat metal, tapi perusahaan energi yang membuat kincir angin.  Yang menarik, selain memiliki business plan jangka panjang, mereka jeli membidik peluang. Apalagi brand mereka selama ini bagus sebagai perusahaan di bidang metal tersebut,” katanya.

“Orang barat mulai tertarik dengan services, karena mereka ketakutan low cost.  Tapi secara latar belakang budaya, orang Asia sebenarnya lebih piawai soal layanan. Maka Seharusnya kita bisa.

Pada titik inilah, lanjut Benny, supply chain alias ‘rantai pasokan; menjadi kunci untuk pengembangan model bisnis baru. Termasuk mengedepankan pelayanan yang jadi lini penting.

“Intinya, harus  ada penambahan nilai ke produk dalam bentuk layanan. Juga harus bersaing untuk menentukan diversifikasi di sekitar produk. Di antaranya, harus membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan,” lanjut ia.

Triple Helix
Sementara Ketua Panitia, Ir Arman Hakim Nasution MEng Sc mengatakan, ITS Surabaya menggelar ‘Business Sharing Session; dengan sejumlah BUMN itu tujuannya membantu untuk peningkatan profit.

Ini merupakan kerjasama antara Kementerian BUMN yang diwakili Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, dengan Direktorat Inovasi Kerjasama Kealumnian ITS dan Departemen Manajemen Bisnis ITS.

“Kami berharap dengan pemahaman model bisnis yang benar, BUMN akan bisa lebih terarah dalam meningkatkan daya saingnya,” jelasnya.

Di sisi lain, pemilihan topik supply chain and business model, menurut Arman, dikarenakan pembahasan supply chain sudah ramai dilakukan sejak 10 tahun lalu, sedangkan business model baru ‘hangat’ lima tahun lalu.  “Forum diskusi ini merupakan contoh triple helix alias sinergi antara dunia bisnis, pemerintah dan akademisi untuk meningkatkan kinerja,” katanya.