Kamis, 26 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Menantang Lembaran Baru dari Ngantang

Berita Terkait

DIBIMBING KETERAMPILAN: Para eks korban trafficking perempuan dibimbing keterampilan melalui usaha kemandirian. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

Menjalani hidup selepas menjadi korban trafficking perempuan sungguh tak mudah. Selain masih ‘terbelenggu’ persoalan psikologis juga butuh bimbingan dan modal untuk mengembangkan usaha. Namun lewat uluran tangan Kemensos, semangat mereka kembali terpompa untuk mandiri dan produktif secara ekonomi.

- Advertisement -

18 OKTOBER 2015. 167 perempuan berseragam hitam-putih duduk rapi di ruang kantor Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Mereka eks korban trafficking perempuan — termasuk di dalamnya eks Pekerja Seks Komersial (PSK), overstayer serta TKI bermasalah — peserta bimbingan sosial dan keterampilan melalui usaha kemandirian.

Lewat program kemitraan Kementerian Sosial (Kemensos) dengan DPC SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Kabupaten Malang, lembaran hidup baru ke-167 perempuan tersebut dimulai.

Secara keseluruhan, di tahun itu ada 600 perempuan eks korban trafficking yang diberdayakan. Mereka tersebar di empat provinsi yakni NTB, NTT, Lampung dan Jawa Timur. Untuk Jawa Timur dipusatkan di Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Ngantang.

Bimbingan kewirausahaan dilaksanakan selama tujuh hari, mulai 18 sampai 24 Oktober. Ada lima jenis pelatihan yakni keterampilan jahit, handicraft, olah makanan (membuat kue dan catring), pertanian serta peternakan.

• Baca: Jarang-jarang Lihat Mensos Masak, Begini Keseruannya

Selain bimbingan, peserta juga mendapatkan bantuan UEP (Usaha Ekonomi Produktif) masing-masing Rp 5 juta. Khusus bantuan sosial di Kabupaten Malang ini, Kemensos menganggarkan total Rp 1,1 miliar (tepatnya 1.017.000.000).

Rinciannya bantuan UEP untuk 167 peserta Rp 835 juta, bimbingan keterampilan Rp 167 juta (per orang Rp 1 juta dikalikan 167) serta operasional LKS (Lembaga Kesejahteraan Sosial) pendamping Rp 15 juta.

“Saya berterima kasih kepada Bu Khofifah (Mensos Khofifah Indar Parawansa) yang memberi kesempatan kami untuk mengembangkan usaha. Saya nggak pernah bermimpi bisa ketemu Bu Mensos,” kata Yulianti, salah seorang peserta bimbingan.

Lewat testimoninya di hadapan Mensos, Yulianti menceritakan sebelumnya dipekerjakan di Brunei Darussalam selama sembilan bulan. Bukannya upah menggiurkan yang diterima, tapi justru siksaan demi siksaan dari majikan.

“Saya tak tahan di sana. Jarang diberi makan dan sering disiksa. Kalau majikan pergi, dapur ditutup dan saya tak boleh makan sampai dia datang,” tuturnya sambil berurai air mata.

• Baca: Penjual Kopi ‘Tak Biasa’ Asal Nganjuk Viral di Medsos

Sebagai baby sitter, tugas Yulianti menjaga anak majikan mulai pukul 06.00 hingga pukul 18.00 WIB. Selama 12 jam, dia tak diberi jatah makan hingga sang majikan datang. Itupun hanya segelas kopi instan dan minuman ringan.

Selepas pukul 18.00, majikan kembali bekerja dan Yulianti kembali melakukan tugasnya hingga pukul 24.00. Sudah jarang diberi makan, kalau ada sedikit kesalahan menjaga anaknya dihukum dengan tak diberi makanan apapun selama sehari.

“Dari pengalaman saya dan teman-teman, kami kapok pergi keluar negeri. Mari bangkitkan perempuan Indonesia menjadi pengusaha di Indonesia,” katanya penuh semangat. Selepas memberi testimoni, Yulianti kemudian mendatangi Khofifah yang duduk di deretan kursi depan. Dengan sikap penuh keibuan, Khofifah memeluk hangat Yulianti.

Cerita sedih juga dituturkan Lusi, eks korban traffcking perempuan lainnya. “Saya diperlakukan tak seperti manusia (dijadikan PSK, red). Saya dijual dan baru sekarang pulang. Terima kasih, sekarang saya diberi kesempatan kerja yang lebih baik dari yang saya lakukan dulu,” katanya.

Terkait pendampingan, Ketua DPC SBMI Kabupaten Malang, Jiyati menuturkan total ada 398 korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) yang didampingi. “Namun yang mendapatkan modal UEP baru 167 orang yang hadir di sini. Semoga sisanya tahun depan dapat kesempatan,” katanya.

• Baca: Eksotisme Mural Dinding Rumah bersama Senja

Selain melakukan pendampingan selama tujuh hari, SBMI juga mewajibkan peserta menanam sayur dan buah organik dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah. Ini karena mayoritas TPPO adalah ibu rumah tangga yang setiap hari menjaga anak dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Output dari pendampingan ini akan melahirkan koperasi serba usaha yg bergerak di bidang distributor sembako karena peserta mayoritas berdagang sembako.

“Selain itu kami juga akan melakukan perluasan pemasaran dengan akan membuat minimarket khusus dari, oleh dan untuk TKI. Spesialisasi tersedianya sayur dan buah organik, serta produk lainnya dari TPPO,” katanya.

Namun SBMI tetap membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya Kemensos. “Kami minta difasilitasi workshop sebagai wadah pemasaran dari produk TPPO,” ujarnya.

Mawar Tak Berduri

USAHA KEMANDIRIAN: Keterampilan melalui usaha kemandirian. Selalu ada ruang untuk mengembangkan pasar bagi mereka yang kreatif.

Hari mulai sore saat Khofifah Indar Parawansa tiba di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Waktu menunjuk pukul 15.25. Sejumlah perempuan menyambut kedatangan Mensos dengan sekuntum mawar. Tak seperti kebanyakan, mawar Desa Jombok baunya wangi dan tak berduri.

Sambutan sederhana tapi penuh makna. Rupanya, mawar itu menginspirasi Khofifah untuk menunjukkan kepada 167 eks korban trafficking perempuan peserta bimbingan sosial dan keterampilan melalui usaha kemandirian, jika mau kreatif maka ruang untuk mengembangkan pasar tetap terbuka.

“Bisa nggak seperti di Bondowoso kalau jual tapai. Tapai ini ditulisi masak tanggal sekian. Nah, di dalam bungkus mawar bisa ditulisi mawar ini akan mekar tanggal berapa?” katanya.

“Sehingga yang mau beli mawar untuk dibawa misalnya ke Singapura, Belanda atau Jepang, dia tahu karena mawar akan mekar tanggal sekian, seperti tapai-nya orang Bondowoso itu. Mungkin sekarang belum terpikir, tapi itu sederhana sekali.”

• Baca: Bertahun-tahun Pisah, Ayah-Anak ‘Dipertemukan’ Ojek Online

Berikutnya, lanjut Khofifah, mencari bibit mawar yang tidak berduri. Dia mencontohkan di salah satu perkampungan di Batu. Berkat mengembangkan usaha mawar harum tak berduri, perkampungan yang semula masuk kategori desa tertinggal kini tidak lagi, bahkan sampai kelebihan permintaan.

“Maksud saya, kalau Batu sudah kelebihan permintaan, tetangga Batu kan Ngantang, kekurangan itu bisa dipenuhi. Ibu-ibu yang punya bayi juga nggak usah repot karena mawarnya cukup ditanam di sekitar rumah,” katanya.

Kalau ingin lebih besar lagi, bisa memanfaatkan modal Rp 5 juta dari Kemensos dengan model patungan lima orang, misalnya. Uang Rp 25 juta yang terkumpul bisa digunakan untuk sewa lahan. “Teknologinya juga tak perlu jauh-jauh, cukup belajar ke tetangga sebelah, Batu,” tuturnya.

Terpenting, kata Khofifah, apa yang diproduksi laku dijual. Jangan sampai tak terjual karena modal bakal cepat habis. “Yang kita jual harus cocok dengan kebutuhan pasar, termasuk menjahit. Menjahit paling muda itu baju seragam sekolah, coba dikomunikasikan dengan sekolah dan pesantren,” katanya.

• Baca: ‘Geber’ Motor di Jalan Tol, Foto Ibu Ini Viral

Cara kreatif Khofifah inilah yang mendorong penanganan kasus trafficking secara kuantitatif jumlahnya lebih besar tahun ini. Padahal, program lewat Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial ini sudah digagas sejak 2010.

Sayang, dalam kurun lima tahun terbentuk, baru menangani 374 kasus lantaran cara kerjanya hanya mengandalkan rekomendasi dan rujukan dari instansi atau stakeholder lain.

Namun sejak 2015 pola penanganan diubah lewat mendengarkan berbagai usulan dan dukungan dari LSM di seluruh Indonesia, termasuk Pokja Trafficking Perempuan dan Kekerasan bagi Perempuan dan Anak.

Maka melalui APBN-P 2015 Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial melakukan kerjasama dengan berbagai LSM yang selama ini melakukan pendampingan korban.

• Baca: Karimun Surabaya, 8 Tahun Berkiprah di Dunia Otomotif

Hasilnya? “Pada 2015 ini kami berhasil menangani 600 eks korban trafficking perempuan yang tersebar di empat provinsi, NTB, Lampung, NTT dan Jawa Timur,” tutur Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial, Sony W Manalu.

Di NTB jumlah penerima manfaat 138 orang. Di Lampung (104 orang), NTT (191) dan di Malang (167). Maka target bantuan sosial untuk 6.500 PMKS Tuna Sosial dengan jumlah anggaran Rp 35 miliar teralisasi 100 persen.

Mengapa baru empat provinsi yang ditangani? “Ya APBN-nya baru cukup untuk itu,” tandas Khofifah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -