Mayoritas Nahdliyin, Jatim ‘Miskin’ Pengusaha NU Hebat

JENGUK GUS SHOLAH: Soetrisno Bachir usai menjenguk Gus Sholah di Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya, Minggu (6/5). | Foto: Barometerjatim.com/ENEF MADURY
JENGUK GUS SHOLAH: Soetrisno Bachir usai menjenguk Gus Sholah di Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya, Minggu (6/5). | Foto: Barometerjatim.com/ENEF MADURY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Penduduk Jawa Timur mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU). Ironisnya, sampai saat ini belum muncul dari kalangan NU pengusaha-pengusaha level atas di provinsi berpenduduk hampir 40 juta tersebut.

Padahal, NU dan pondok pesantren (Ponpes) di Jatim tidak sedikit dan hal itu potensial secara ekonomi. Maka, diperlukan penguatan ekonomi keumatan untuk mencapai level lebih baik lagi.

Pernyataan sekaligus kritik tersebut disampaikan Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Soetrisno Bachir (SB) usai membesuk Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang dirawat di Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya, Minggu (6/5).

• Baca: Mantan Ketum PAN: Insyaallah Gus Sholah Sehat Kembali

“Saya lihat bersama Gus Sholah, belum ada pengusaha kelas menengah atas dari kalangan Nahdliyin (warga NU) di Jatim. Yang muncul sementara ini, misalnya, teman-teman pengusaha dari Tionghoa. Padahal secara kuantitas Nahdliyin di Jatim itu jutaan orang,” kata SB.

“Kenapa enggak muncul sepuluh orang jadi pengusaha kelas atas? Karena kita tidak fokus. Mungkin fokusnya ke politik saja, atau mungkin fokusnya ke masalah pesantren saja. Padahal perlu ada pembagian tugas, yang fokus ke ekonomi juga ada,” tandasnya.

SB menambahkan, boleh saja Nahdliyin berkecimpung dalam politik. Tapi tetap harus ada yang fokus untuk menggerakkan program ekonomi umat dan ekonomi Nahdliyin.

• Baca: Buku Biografi Kiai Hasyim Dibedah di Islamic Book Fair

“Sehingga muncul pengusaha-pengusaha yang tangguh di kalangan Nahdliyin,” ucap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010 itu

Sebab, membangun ekonomi, papar SB, tidak semudah membalikkan telapak tangan, seperti yang biasa berlaku di dalam politik. Butuh waktu panjang untuk mencapainya.

“Menjadi pengusaha besar butuh waktu 30 tahun. Kalau sekarang umat digerakkan ekonomi, mungkin lima tahun ke depan muncul beberapa pengusaha, lima tahun lagi muncul pengusaha nasional dari Jatim. Jadi bertahap,” katanya.

• Baca: Belum Ada SK Terbaru, Ansor Jatim Vakum Sejak 27 Februari

SB hadir di Jatim untuk mengisi seminar penguatan ekonomi umat Islam di Indonesia, sebelum membesuk Gus Sholah di RSUD dr Soetomo.

“Tadi Gus Sholah antusias (saat diajak bicara mengenai ekonomi keumatan). Khususnya terkait bagaimana penerapannya di Jatim yang mayoritas Nahdliyin,” tuntas SB.