Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Masih Ada Stunting-Gizi Buruk di Surabaya, Eri: Kita Digaji Uang Rakyat, Harusnya Malu!

Berita Terkait

MALU: Eri Cahyadi, pejabat digaji APBD harusnya malu kalau ada stunting dan gizi buruk. | Foto: Barometerjatim/IST
MALU: Eri Cahyadi, pejabat digaji APBD harusnya malu kalau masih ada stunting dan gizi buruk. | Foto: Barometerjatim/IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyebut hingga saat ini di Surabaya masih ada bayi stunting, gizi buruk, Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dan bahkan kekurangan. Sebagai pejabat Pemkot, harusnya merasa malu kepada masyarakat Kota Pahlawan.

“Kita digaji dengan uang APBD yang kembali pendapatan kita dari pajaknya masyarakat Surabaya. Tapi hari ini kita masih jauh-jauh belum bisa membahagiakan masyarakat Surabaya,” kata Eri, Jumat (4/2/2022).

Eri pun berkaca pada para pekerja sosial atau orang-orang yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk Surabaya. Menurutnya, meski mereka bekerja tidak digaji tapi mau berjuang ikhlas dan tanpa pamrih.

“Ketika kita sudah memiliki tempat (kerja) enak, ketika kita memiliki gaji yang tepak (tinggi), tapi kalau kita masih kalah dengan mereka, itu namanya kebacut (keterlaluan) pejabat struktural di Surabaya,” tegasnya.

Terlebih pula, kata Eri, ketika pejabat atau Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot itu akan berbuat sesuatu ke masyarakat masih memikirkan berapa gaji yang diterima. Tentu saja, pejabat yang demikian sudah keterlaluan.

“Kalau kita sudah melihat seperti ini (gaji), harusnya kita malu. Harusnya kita letakkan harga diri kita sebagai pejabat-pejabat di Pemkot Surabaya,” ucapnya.

Karena itu, Eri berharap kepada seluruh pejabat dan ASN di lingkup Pemkot Surabaya agar terus berbenah diri. Dia ingin agar seluruh ASN itu juga belajar kepada para pekerja sosial yang lebih pantas disebut pahlawan bagi warga Surabaya.

“Belajar bagaimana menghargai dan menghormati orang lain dengan hati kita, dengan kekuatan yang kita punya, saya pun pribadi akan belajar. Karena tidak selamanya (membahagiakan orang lain) itu dengan uang dan tidak selamanya dengan harta,” tuturnya.

Eri menambahkan, untuk membangun Surabaya yang hebat harus dilakukan dengan gotong-royong kebersamaan. Juga, ada rasa empati dan hati yang ikhlas untuk membangun Surabaya. Dia meyakini, seluruh elemen memiliki hal itu.

“Kita tunjukkan kepada seluruh kota di Indonesia, kepada dunia, bahwa Surabaya hebat bukan karena wali kota atau pejabatnya. Tapi karena ikhlas dan empati yang dimiliki warganya,” pungkasnya.

» Baca berita terkait Stunting. Baca juga tulisan terukur lainnya Moch Andriansyah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -