Marak Politik Dalih Agama, LBMNU Harus Luruskan yang Bengkok

RAKER LBMNU: Anwar Sadad (kiri) saat Raker LBM PCNU Kota Surabaya di Balai Diklat Telkom Ledug, Prigen, Pasuruan, Sabtu (1/9). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
RAKER LBMNU: Anwar Sadad (kiri) saat Raker LBM PCNU Kota Surabaya di Balai Diklat Telkom Ledug, Prigen, Pasuruan, Sabtu (1/9). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

PASURUAN, Barometerjatim.com – Di tahun politik, marak agama dijadikan dalih untuk kepentingan politik praktis. Tak sedikit pihak yang membenarkan tindakannya atas dasar atau mengatasnamakan agama maupun para kiai sepuh dan ulama.

Karena itu, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) yang memiliki peran vital, diminta tampil untuk menguji apakah klaim agama oleh pihak tertentu tersebut dapat dibenarkan secara fikih atau tidak.

“LBMNU harus bisa meluruskan yang bengkok,” tandas Penasihat LBM PCNU Kota Surabaya, Anwar Sadad saat Rapat Kerja LBM PCNU Kota Surabaya di Balai Diklat Telkom Ledug, Prigen, Pasuruan, Sabtu (1/9).

• Baca: Gerindra Berharap PWNU Jatim Jadi Pengayom Seluruh Parpol

Cara mengujinya, lanjut Sadad yang yang juga ketua Dewan Pakar IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri), yakni dengan memastikan apakah target dan tujuan politik selaras dengan doktrin dalam fiqh al-siyasah (fikih politik).

Sedangkan doktrin fikih politik dalam literatur fikih yang mu’tabar (kredibel) menyatakan, kekuasaan diorientasikan untuk melanjutkan misi kenabian dalam rangka menjaga agama (hirasat al-din) dan mengatur urusan dunia (siyasat al-dunya).

“Dengan doktrin tersebut akan menjadi jelas sebuah klaim agama dalam politik dapat dibenarkan. Ini juga dapat menghindari politisasi agama yang tensinya makin naik dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.

• Baca: Gerindra Tak Ada Masalah Komunikasi dengan Kiai NU

Selain itu, tambah Sadad, tradisi bahtsul masail yang sudah mengakar di tubuh NU juga menjadi media efektif untuk menangkal upaya pendangkalan akidah ahlussunnah wal jamaah.

“Karena esensinya, membentengi akidah umat adalah alasan utama para kiai NU mendirikan jamiyah NU pada 1926,” tegas wakil sekretaris PCNU Kabupaten Pasuruan periode 2000-2001 tersebut.