Lulusan Unair, Rata-Rata Butuh 3,5-4 Bulan untuk Dapat Kerja

IKA UNAIR: Khofifah melantik Pengurus Pusat IKA Unair Surabaya, Sabtu (11/9/2021) malam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
IKA UNAIR: Khofifah melantik Pengurus Pusat IKA Unair Surabaya, Sabtu (11/9/2021) malam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berharap banyak dengan kehadiran Ikatan Alumni (IKA) Unair yang kini diketuai Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Terutama dalam membantu adik-adiknya yang baru lulus untuk mendapatkan pekerjaan.

Sebab, menurut Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, rata-rata lulusan S1 Unair masih membutuhkan waktu 3,5 sampai 4 bulan untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya.

“Waktu tunggu para lulusan kami untuk di S1 ini masih agak lama dan cenderung mengalami perpanjangan, 3,5 bahkan mendekati 4 bulan waktu tunggu rata-rata alumni kami, lulusan Unair,” kata Prof Nasih dalam acara Pelantikan Pengurus Pusat IKA Unair Masa Bakti 2021-2025 di Aula Garuda Mukti, Surabaya, Sabtu (11/9/2021) malam.

Tak hanya fresh graduate yang membutuhkan waktu tunggu hingga empat bulan, demikian pula dengan gaji pertama rata-rata lulusan Unair yang masih belum cukup tinggi.

“Bahkan ada beberapa alumni itu yang gaji pertamanya masih di bawah UMR (Upah Minimum Regional), rata-rata masih di angka dua juta koma sekian,” bebernya.

Karena itu, tandas Prof Nasih, employability skill menjadi pekerjaan rumah yang sangat strategis dan perlu uluran tangan para alumni. Kalau alumninya saja tidak percaya pada adik-adiknya, pada lulusan-lulusan baru, apalagi orang lain.

“Sehingga tentu kami berharap para alumni ini benar-benar hadir untuk bisa membantu dan men-support keberadaan Unair, khususnya yang berkaitan dengan employability,” katanya.

“Kalaupun ada lulusan kami yang kurang dalam sesuatu hal, monggo disampaikan untuk kami perbaiki. Tapi tentu kami berharap mereka bisa ditarik dengan sebaik-baiknya,” sambungnya.

Hal itu, kata Prof Nasih, menjadi harapan besar Unair untuk kehadiran IKA Unair bagi almamater, yakni menarik dan meningkatkan employability dari lulusan khususnya S1.

Unair Tak Masuk 6 Terbaik

EMPLOYABILITY: Prof Nasih, Unair butuh uluran tangan IKA khususnya berkaitan dengan employability. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
EMPLOYABILITY: Prof Nasih, Unair butuh uluran tangan IKA khususnya berkaitan dengan employability. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Merujuk Quacquarelli Symonds (QS) Graduate Employability Rankings 2020, Unair memang tidak termasuk enam kampus terbaik di Indonesia yang memiliki banyak lulusan cepat mendapat pekerjaan.

Keenam kampus tersebut yakni Institut Teknologi Bandung/ITB (peringkat: 301-500, skor: 15,8-27,5), Bina Nusantara University/Binus (peringkat: 301-500, skor: 15,8-27,5), Universitas Diponegoro/Undip (peringkat: 301-500, skor: 15,8-27,5), Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS ((peringkat: 301-500, skor: 15,8-27,5), Universitas Gadjah Mada/UGM ((peringkat: 301-500, skor 15,8-27,5), dan Universitas Indonesia/UI (peringkat: 301-500, skor 15,8-27,5).

QS World University Rankings (QS WUR) merupakan salah satu lembaga pemeringkatan universitas yang terpercaya. Setiap tahunnya, QS WUR merilis daftar universitas terbaik melalui berbagai skema.

Salah satunya adalah skema QS Graduate Employability Rankings. Skema ini memuat daftar universitas di dunia dan per negara yang lulusannya cepat mendapatkan pekerjaan.

“Tanggal 23 yang akan datang akan ada pengumuman employability versi QS, mudah-mudahan Unair masuk,” sambung Prof Nasih.

Kalaupun belum masuk, dia berharap kehadiran IKA Unair dengan kepengurusan yang baru di bawah kepemimpinan Khofifah, bisa membantu Unair masuk empat terbaik QS Graduate Employability Rankings kampus di Indonesia.

“Ini memerlukan tangan dari para alumni, dan kami sungguh sangat berharap alumni hadir untuk meningkatkan employability lulusan kami,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Unair, Kampus