Lia Usung Nawa Tirta, Dwi Astuti Geber Tagline Wayahe Dadi!

SIAPA DIRESTUI KHOFIFAH?: Dwi Astuti (Kiri) dan Lia Istifhama (kanan), saat fit and proper test PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SIAPA DIRESTUI KHOFIFAH?: Dwi Astuti (kiri) dan Lia Istifhama (kanan) saat penjaringan PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Orang dekat Khofifah ‘berisik’ di bursa Pilwali Surabaya. Belum ada Parpol yang mengusung, tapi ikhtiar yang dilakukan tak terbendung.

DWI ASTUTI dan Lia Istifhama. Kedua perempuan ini orang dekat Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Jika Dwi mengaku sudah 30 tahun berjuang di Muslimat NU — Banom perempuan Nahdlatul Ulama (NU) pimpinan Khofifah, Lia bahkan lebih dari sekadar orang dekat karena menyandang status keluarga: Keponakan!.

Tapi keduanya kini tengah bersaing untuk maju di Pilwali Surabaya 2020, termasuk harus duduk sebangku saat mengikuti fit and proper test penyaringan Bacawali-Bacawawali yang digelar PDIP di kantor DPD PDIP Jatim, 18 September 2019.

Status orang dekat, membuat Dwi dan Lia sama-sama memasang strategi politik untuk menarik dukungan Parpol dengan cara ‘mengekor’ jurus ampuh Khofifah saat memenangi Pilgub Jatim 2018.

Urusan program, misalnya. Lia yang kader Fatayat NU — Banom perempuan muda NU — sudah menyiapkan diri dengan me-launching “Nawa Tirta”, nama yang disebutnya terinspirasi dari program andalan milik Khofifah: Nawa Bhakti Satya.

“Nawa Tirta ini terinspirasi dari Nawa Cita-nya Bapak Presiden Joko Widodo. Terinspirasi juga dari Nawa Bhakti Satya-nya Ibu Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa,” bebernya.

“Nawa Tirta artinya sembilan harapan yang terus mengalir untuk Surabaya,” jelas Lia saat peluncuran program Nawa Tirta di Atrium Ciputra World, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, 9 September 2019.

Bagaimana dengan Dwi, apakah sudah menyiapkan program andalan? “Tentulah!” tegasnya. Apakah namanya juga ada embel-embel “Nawa”? “Halah..!!” sergahnya sambil tersenyum tipis.

Meski belum mengungkap nama program andalannya, Dwi sudah menggeber tagline yang juga mirip dengan slogan Khofifah saat Pilgub Jatim 2018. Jika Khofifah mengusung “Wis Wayahe!”, Dwi memilih “Wayahe Dadi!”. “Sekarang pokoknya wayahe dadi (waktunya jadi),” tandasnya.

Terlebih Dwi sudah dua kali gagal di kontestasi demokrasi, yakni saat maju calon Dewan Pimpinan Daerah (DPD) pada Pemilu 2014 dan Caleg DPRD Jatim dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Pileg 2019.

Situasinya nyaris sama dengan perjalanan Khofifah. Setelah dua kali gagal di Pilgub Jatim 2008 dan 2013, mantan Menteri Sosial itu akhirnya memenangi pertarungan di Pilgub Jatim 2018.

Menanti Restu Khofifah

Lantas, siapa yang akan direstui dan didukung Khofifah di Pilwali Surabaya 2020?

Dwi menyebut, Khofifah orang yang sangat luar biasa, yang bisa mempertimbangkan calon yang akan didukungnya dalam posisi kapasitas masing-masing.

“Saya yakin Bu Khofifah tidak asal-asalan dalam membuat keputusan. Beliau sangat teliti, bijaksana, akan melakukan yang proporsional dan objektif. Saya cuma berkeyakinan itu,” ucapnya.

Tidak khawatir kalau Khofifah justru memilih ‘diam’, karena orang dekatnya yang akan maju di Pilwali Surabaya 2020 lebih dari satu?

“Saya yakin, seorang tokoh seperti Bu Khofifah tidak akan melakukan sebuah pembiaran, karena hidup ini harus ada sebuah strategi menuju ke arah yang baik,” katanya.

“Sesuatu itu harus ada sebuah strategi politik, tidak mungkin itu ada pembiaran. Seorang Bu Khofifah yang pejuang, tidak mungkin akan melakukan pembiaran dalam sebuah perjuangan,” tegasnya.

Sudah komunikasi khusus dengan Khofifah? “Ah, tentu! Saya ini orang Muslimat NU, otomatis saya harus dan wajib untuk izin kepada ketuanya. Beliau kan Ketum PP Muslimat NU, pucuk pimpinan,” katanya.

“Saya selaku wakil sekretaris Muslimat NU Jatim, otomatis harus sowan ke beliau untuk mohon izin dan doa itu pasti, serta mohon arahan itu tentu,” sambungnya.

Sebenarnya ada satu lagi orang dekat Khofifah yang juga disebut-sebut bakal maju di Pilwali Surabaya, yakni Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Namun hingga kini Jubir Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2018 itu belum declare.

Terbaru, sahabat dan barisan relawan Gus Hans mengambilkan formulir di penjaringan Partai Nasdem dan konvensi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menarik ditunggu, apakah Gus Hans akan mengisi dan mengembalikan sendiri kedua formulir tersebut.

» Baca Berita Terkait Khofifah, Pilwali Surabaya