Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

KTA Emil Bakal Dicabut? PDIP Jatim: Yes of Course!

Berita Terkait

EMIL, REPRESENTASI MUDA: Sri Untari (foto kiri) serta Emil Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin. Tinggalkan PDIP karena lebih berpeluang memenangi Pilgub Jatim 2018 bersama Khofifah? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
EMIL, REPRESENTASI MUDA: Sri Untari (foto kiri) serta Emil Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin (foto kanan). Emil pilih tinggalkan PDIP karena lebih berpeluang memenangi Pilgub Jatim 2018 bersama Khofifah? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Emil Dardak dinilai tak hanya menolak kebijakan partainya, PDIP yang mengusung Saifullah Yusuf-Azwar Anas di Pilgub Jatim 2018. Bahkan suami artis Arumi Bachsin itu lebih memilih menjadi penantang bakal paslon PDIP dengan menjadi Cawagub pendamping Khofifah Indar Parawansa.

Asumsi tersebut, setidaknya merujuk pada foto dirinya bersama Khofifah yang sedang memegang map berlogo Partai Demokrat berisi surat rekomendasi. Sejumlah petinggi Demokrat pun membenarkannya, termasuk Sekjen Hinca Panjaitan.

Jika benar Emil maju di Pilgub Jatim mendampingi Khofifah, apakah KTA (Kartu Tanda Anggota)-nya akan dicabut? “Yes of course!” jawab Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur, Sri Untari saat dikonfirmasi melalui aplikasi chatting, Selasa (21/11).

• Baca: Peneliti: Langkah Tepat Demokrat Duetkan Khofifah-Emil

Hal sama sebelumnya juga ditegaskan Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Kusnadi. “Kalau memang itu (rekomendasi) menjadi suatu keputusan partai, maka kami mempunyai kewajiban untuk melaksanakan itu tanpa tedeng aling-aling,” katanya.

Kalau ada satu atau lebih di antara kader PDIP yang tidak setuju atas rekomendasi DPP, lanjut Kusnadi, maka sanksinya tegas: Pecat! “Sistem partai akan ditegakkan. Ya pasti (sanksi). Kalau ada pelanggaran disiplin, pasti akan ada sanksi. Ya dipecat!” tegasnya.

Bahkan, tandas Kusnadi, kader dilarang bertanya soal keputusan partai. “Kalau keputusan partai sudah A, keputusan partai sudah harus dilaksanakan, titik. Kalau kemudian mereka ada yang: Oh kenapa begini-begini, tidak boleh,” katanya.

“Kita ini petugas partai, kita ini pengurus partai, kita ini anggota partai, kalau partai menyuruh kita nyemplung kali, gak usah nanya: Kenapa kita kok nyemplung kali (nyebur sungai). Sudah gitu aja,” tandasnya.

• Baca: Belajar dari Syahri: Tinggalkan PDIP Malah Jadi Bupati

Namun Emil tentu sudah berhitung terkait — kalau benar — keputusannya mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Belajar dari Syahri Mulyo yang ‘nekat’ berpaling dari PDIP justru memenangi Pilbup Tulungagung 2013 dan menjadi bupati hingga saat ini.

Kala itu, Syahri yang tidak diberi rekomendasi DPP PDIP tetap maju lewat Parpol lain: PKNU, Partai Patriot dan PDP, serta didukung PPRN, Barnas, PSI, Partai Buruh, PPPI, PPD, PPDI dan PNI Marhaenisme.

Empat tahun berselang, pembangakangan Syahri yang berstatus petahana tak sekadar diberi ampunan, sebaliknya malah diganjar rekomendasi dukungan dari DPP PDIP untuk maju di Pilbup Tulungagung 2018.

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -