Kondisi Pekerja Migran Positif Covid-19 di RSLI, Rata-rata Syok!

TANGANI MAKSIMAL: Radian Jadid dampingi dokter Nalendra pantau kedatangan PMI positif Corona di RSLI. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TANGANI MAKSIMAL: Radian Jadid dampingi dokter Nalendra pantau kedatangan PMI positif Corona di RSLI. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pekerja Migran Indonesia (PMI) positif Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, rata-rata kondisinya syok.

Hal itu diungkap Sita Pramesthi, salah seorang relawan pendamping Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) RSLI.

Maklum, tutur Sita, sejak pulang dari negara tempat bekerja, mereka sudah berharap segera tiba ke daerah asal untuk bertemu dengan sanak saudara serta bersiap merayakan Idul Fitri.

“Namun mereka tidak menyangka kalau terkonfirmasi Covid-19 dan harus menjalani isolasi dan perawatan di RSLI,” katanya kepada wartawan, Jumat (7/5/2021).

Apalagi dengan ketentuan Menteri Kesehatan (Menkes) yang mengharuskan mereka menjalani perawatan dan isolasi minimal 14 hari.

“Dengan kondisi itu, maka harapan untuk bisa merayakan lebaran bersama keluarga di rumah sirna. Itu yang menjadi pikiran dan masalah para pasien PMI di RSLI,” ujarnya.

Mengatasi kendala tersebut, Ketua Pelaksana PPKPC-RSLI, Radian Jadid menegaskan RSLI telah menyiapkan beberapa hal.

Pertama, disiapkan penanganan kejiwaan bagi pasien yang ditangani langsung oleh Mayor Laut (K/W) dr Ni Kadek Ratnadewi, M.Biomed, Sp.KJ selaku dokter spesialis kesehatan jiwa RSLI.

Kedua, melalui Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19, RSLI juga menyiapkan konseling dan posko curhat melalui call center relawan pendamping yang ada.

Pasien PMI yang belum bisa pulang hingga Idul Fitri tiba, diberikan beberapa alternatif solusi dari relawan pendamping.

Terkait komunikasi, misalnya, karena kebanyakan mereka menggunakan nomor handphone negara tempat bekerja, sebagian belum terintegrasi dengan sistem di Indonesia (termasuk WA).

Sehingga, disarankan untuk pihak keluarga bisa mengirimkan nomor baru ataupun beserta pesawat handphone baru untuk bisa dipegang pasien tersebut.

“Selanjutnya bisa digunakan untuk sarana komunikasi (telepon, video call, dan sebagainya) dengan keluarga, teman, maupun untuk keperluan komunikasi dan monitoring di dalam RSLI,” kata Jadid.

Keluarga Bisa Menjenguk

PMI POSITIF CORONA: Relawan menunjukkan data pekerja migran positif Corona di RSLI. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PMI POSITIF CORONA: Relawan menunjukkan data pekerja migran positif Corona di RSLI. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Selain itu, juga difasilitasi bagi keluarga mereka untuk bisa menjenguk di RSLI, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat, termasuk sekat batas penjenguk di zona hijau dan pasien PMI di zona merah.

“Yang penting mereka bisa ketemu walaupun tetap berjarak dan tidak bisa bersentuhan fisik secara langsung,” katanya.

Relawan pendamping, lanjut Jadid, juga memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi), bahwa langkah yang diterapkan kepada mereka oleh sistem yang telah diatur oleh pemerintah semata-mata untuk kebaikan bersama.

Tidak hanya untuk kondisi kesehatan mereka, tapi juga untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh masyarakat, termasuk antisipasi jangan sampai muncul dan merebak varian baru Covid-19 yang makin sulit diduga daya sebar dan daya rusaknya.

Tak berhenti di situ, selain permasalahan psikologis, relawan PPKPC juga memberikan dampingan dalam hal ekonomi, sosial kemasyarakatan, guna memastikan pasien dalam keadaan nyaman selama perawatan.

“Sesuai konsep ”be happy” yang diterapkan di RSLI, untuk mempercepat penguatan imun para pasien,” tuntas Jadid.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona