Kisah Heroik ‘Doktor Prostitusi’

GARDA TERDEPAN: Bersama Idial MUI menjadi garda terdepan dalam pembebasan area lokalisasi di Jawa Timur.

Bersama Idial MUI Jatim, perjuangan Sunarto dalam membebaskan Bangunsari dari praktik prostitusi patut diapresiasi sekaligus memberi inspirasi bagi para da’i di negeri ini. Rekam perjuangan itu bahkan dibuat disertasi dan mengantarkannya meraih gelar ‘doktor prostitusi’.

RUMAH di Jalan Lasem 30-A itu terlihat sederhana. Begitu pula dengan penghuninya, sama sekali tak menonjolkan kemewahan. Padahal, di balik hidup sederhana yang dijalani bersama keluarganya, si empunya rumah kelahiran 1959 itu salah satu pejuang pembebasan prostitusi di lokalisasi Bangunsari, Surabaya.

Dialah Dr H Sunarto AS M.E.I, ketua umum Ikatan Da’i Area Lokalisasi (Idial), wadah para da’i dalam nanungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim yang menjadi garda terdepan dalam pembebasan area lokalisasi di Jawa Timur.

Keramahan, tutur katanya yang ‘akademisi’ dan ingatan nan tajam langsung terlihat saat diajak berdiskusi, tentang apa saja, terutama pembebasan lokalisasi. Maklum, selain lokomotif di Idial, Sunarto juga tercatat sebagai Pembantu Dekan III di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, aktif di organisasi dan seabrek kegiatan lainnya serta penelor sejumlah karya ilmiah.

Sunarto mengawali kegiatan dakwah di lokalisasi, khususnya Bangunsari pada 1981, setahun sepulangnya belajar dari Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng atau ketika masuk IAIN tingkat satu.

Diawali ketika diserahi H Sholeh Pairin, salah satu tokoh di Bangunsari saat itu, untuk mengajar mengaji di mushala di kediamannya di Jalan Lasem 7. “Saya ngrintis ngajar ngaji saat menjadi ketua karang taruna di Jalan Lasem tingkat RT,” kenangnya.

“Murid saya sekitar 150 orang. Ketika itu mushala masih jarang, guru-guru ngaji juga belum bermunculan. Nah, murid-murid saya itu lalu menjadi kader-kader yang ikut memperkuat dakwah.”

“Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optiomal.”

Hampir dua tahun Sunarto berdakwah sendirian di Bangunsari. Baru pada 1983-1985 dia mendapat partner dari KH Khoiron Syu’aib. “Kiai Khoiron itu kakak kelas saya di Tebuireng dan melanjutkan di Unhas (Universitas Hasyim Asy’ary Tebuireng, red) sampai sarjana muda, sedangkan saya langsung ke IAIN Sunan Ampel,” terangnya.

“Dengan Kiai Khoiron keluar dari pondok, saya ada partner untuk berdakwah. Biasanya dakwah individu lalu menjadi kelembagaan. Artinya ada jaringan walaupun belum formal dan kuat, lebih ke jaringan antarindividu. Sampai akhirnya saya mengubungi Ketua RW untuk mengadakan pengajian pertama kali di gedung bioskop hingga penutupan kemarin,” terangnya.

***

Di Bangunsari, tutur Sunarto, pengajian rutin digelar setiap Jumat dan dirintis sejak tahun 80-an. Namun sejak 2007-2008, Dinas Sosial (Dinsos) mengajak kerjasama. Mereka memprogramkan pengajian digelar minimal 12 kali dalam setahun, tak hanya di Bangunsari tapi di seluruh lokalisasi di Surabaya.

“Itu ubo rampe-nya yang nyiapin ya Dinsos. Yang ngaji dapat makanan ringan, minum air mineral. Kalau dulu sebelum Dinsos masuk, kita ngaji bertahuntahun nggak ada apa-apanya. Namanya bisyaroh (tanda terima kasih, red) kita nggak pernah ada. Pokoknya lillahi ta’allah,” tutur Sunarto.

KONSISTEN BERJUANG: Sunarto dan keluarga, konsisten berjuang untuk pembebasan lokalisasi Bangunsari.

Sebelum Idial berdiri, dakwah Sunarto secara kelembagaan juga sudah diwadahi lewat Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya (Forkemas). Saat itu yang me-launching Walikota Bambang DH di JW Marriott, Surabaya pada 2002.

Dihadiri banyak tokoh, di antaranya almarhum Roeslan Abdulgani (politisi dan negarawan) serta Dr KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan ketua PWNU Jatim yang kini anggota DPR RI dari FKB) Tapi Forkemas hanya sampai pemberian keterampilan dan sentuhan rohani, belum pada penyediaan dana stimulan.

“Jadi belum optimal, ketika mereka mentas kita nggak punya modal untuk nyangoni mereka. Tapi dari segi kualitas bagus, karena mereka benar-benar insaf, tidak ada dana stimulan pun mereka behenti,” paparnya.

Begitu Idial terbentuk, dari segi dana mulai ada. Para PSK itu diberi dana stimulan setelah diberi pembinaan dan keterampilan. “Sehingga dakwanya lebih terpadu lagi dan hasilnya lebih optimal.”

Lalu, apa kunci keberhasilan dakwah di lokalisasi? “Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optiomal,” jelasnya.• hdm

Baca: Surga di Bawah Kaki Latifah

____________

LEBIH AKRAB DENGAN SUNARTO

Sunarto & Mancing
Mancing menjadi salah satu hobi Sunarto saat liburan. Dia dan keluarganya biasa mancing di kawasan Sedati, Sidoarjo. Filosofinya: mancing itu melatih kesabaran.

Sunarto & Rafting
Selain mancing Sunarto juga hobi rafting (arung jeram). Bersama keluarganya, dia pernah mengalami insiden perahu karetnya terbalik saat di Pekalen, Probolinggo. Filosofinya: rafting itu tantangan hidup.

Sunarto & Kuliner
Lantaran tidak merokok, Sunarto juga hobi kuliner. Hampir semua tempat makanan enak dia tahu. Karena doyan makanan kelas berat — sop buntut dan sea food — dan tak terkontrol, efeknya tidak baik buat kesehatan hingga terkena stroke.

Sunarto & Muhammad Avanza
Anak keenam Sunarto, Moh Fahrih Zaidan memberi cerita unik. Saat hendak dibawa ke klinik untuk melahirkan, si bayi lahir lebih dulu di mobil (Avanza). Sunarto harus pegang kemudi dan kepala si bayi. Teman-teman Sunarto berseloroh agar si bayi diberi nama “Muhammad Avanza”.

Sunarto & Teror
Saat berdakwah di Bangunsari, hampir setiap hari dia mendapat teror, baik lewat telepon, didatangi ke rumah, hingga ancaman bunuh. Bahkan saat stroke pun masih mendapat ancaman.

Sunarto & Ditawari PSK
Sepulang dari ceramah di Bangunsari Sunarto sempat diampirno (ditawari) salah satu PSK. Tapi ada teman PSK tersebut yang tahu dan bilang, “Ngawur aja, itu lho tadi ustadz yang memberi ceramah.”

Sunarto & PSK AIDS
Tahun 90-an, saat menjadi ketua RT 13 di Jalan Lasem, Sunarto mengurusi MLH, salah satu PSK yang terkena AIDS. Dia meminta sumbangan ke teman-teman MLH, terkumpul 2,5 juta, untuk memulangkannya ke Jember. Duit sumbangan itu kemudian dibuat MLH jual usaha bensin botolan.

BIODATA:

  • Nama Lengkap: Dr H Sunarto AS, M.E.I
  • Tempat Lahir: Surabaya
  • Tanggal Lahir: 26 Desember 1959
  • Alamat: Jalan Lasem 30-A Surabaya
  • Pekerjaan: Dosen Tetap Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.
  • Jabatan: Pembantu Dekan III Bidang KemahasiswaanKELUARGA
    Istri:
    Hj Latifah Sanuri
    Hj Khalimatul Umroh
    Anak:
    Sri Wahyuni (Berkeluarga)
    Nabila Ulinuha Sunarto (Kelas II SMP)
    Muhammad Fazrul Islam (Kelas I SMP)
    Muhammad Fadlan Amin (Kelas V SD)
    Muhammad Firdaus Makarih (Kelas II, SD)
    Muhammad Fahrih Zaidan (TK)
  • Pendidikan Formal
    Madrasah Ibtidaiyah (MI) I Sabillah Salamah/Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren (Ponpes) Sido Giri, Pasuruan (1973)
    Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ponpes Tebuireng, Jombang (1976)
    Madrasah Aliyah (MA) Ponpes Tebuireng, Jombang (1979)
    Sarmud Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya 1984 (BA)
    Sarjana Lengkap Jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya 1987 (Drs)
    S2 Ekonomi Islam Program Pascasarja Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya 2003 (M.E.I)
    S3 Konsentrasi Dirasah Islamiyah Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya 2006-2012 (Dr)
  • Pengalaman Organisasi
    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Krembangan, Surabaya (1995-1998)
    Sekretaris KNPI Kota Surabaya (1996-2000)
    Wakil Ketua PC GP Ansor NU Kota Surabaya (1999-2005)
    Wakil Ketua PC GP Ansor NU Kota Surabaya (1998-1999)
    Sekretaris MWC NU Krembangan, Surabaya (1999-2004)
    Ketua Bidang Organisasi KNPI Jawa Timur (1995-1997)
    Ketua Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya (Forkemas) 2002
    Wakil Ketua LDNU Jawa Timur (2007-2013)
    Sekretaris Jenderal Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia (APDI) – (2008-2013)
    Ketua Tim Seleksi KPU Kota Surabaya 2004
    Ketua Umum Ikatan Dai Area Lokalisasi (Idial) Jawa Timur (2012-2017)
  • Kegiatan Dakwah
    Mengisi khutbah Jumat dan kultum tarawih di beberapa masjid di Surabaya (terjadwal)
    Mengisi pengajian di luar negeri di antaranya di Hongkong dan Macau, tugas bagi dai bekerjasama dengan Pemprov Jawa Timur dan KJRI Hongkong 2012.
    Mengisi dakwah di lokalisasi Bangunsari, Surabaya.
    Mengisi pengajian di beberapa tempat (kalau ada undangan)
  • Karya Ilmia yang Ditulis
    Pidato Tiga Bahasa, penerbit Pustaka Media 2006.
    Etika Dunia Akhirat (terjemahan), penerbit PT Bina Ilmu Jakarta 2005.
    Nasihat untuk Para Penguasa, Imam Al Ghazali (terjemahan), penerbit Pustaka Media, Surabaya 2006.
    Diktat Retorika (bahan kuliah) 2002.
    Proceding “Dakwah dan Pendekatan Filosofis” diterbitkan pada Kongres APDI 2009.
    Jurnal Ilmu Dakwah “Dakwah dan Pekerja Seks Komersial”.
    Jurnal Komunikasi Islam Volume 01, Nomor 01, Mei 2011 “Dakwa pada Pekerja Seks Komersial -Pendekatan dan Metode Dakwah Bil-hikmah terhadap PSK di Lokalisasi Kota Surabaya”
    Jurnal “Ulama Perempuan dan Wacana Islam” Jurnal Al-Hikmah Volume 7, Nomor 1, April 2009 ISSU 1907-4238.
    Jurnal “Strategi Pendekatan Dakwah terhadap Pekerja Seks Komersial di Lokalisasi Surabaya”.
    Penelitian Individu Pemberdayaan Perempuan dan Dakwah Ekonomi Keluarga di Arusbaya Bangkalan dan Randuboto Sedayu Gresik, 2009.
    Sistem Nilai dalam Budaya Organisasi Kampus (Studi kualitatif tentang Sistem Nilai dalam Budaya Organisasi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, penelitian kelompok sebagai anggota).
    Khatib yang Komunikatif dan Retorik di Masjid-Masjid Besar Kota Surabaya, 2004.
    Pengaruh Ceramah Agama Terhadap WTS di Lokalisasi Bangunsari, 1987.