Kiai NU: Saya Tak Perlu Istikharah Dukung Gus Hans!

PILWALI SURABAYA: Gus Hans, mendapat dukungan deras dari kalangan NU dan pesantren. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Gus Hans, mendapat dukungan deras dari kalangan NU dan pesantren. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Makin deras saja kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) mendukung Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Kali ini dukungan disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Syabab An Nabawi Sidosermo, Surabaya, KH Mas Ahmad Nasrohuddin.

Bahkan kiai muda yang akrab disapa Gus Nas itu menegaskan, dirinya tak perlu istikharah (minta petunjuk) untuk memberi dukungan, jika benar Gus Hans yang mantan ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jatim running di Pilwali Surabaya.

“Kalau Gus Hans maju, saya ndak pakai istikharah. Apanya yang diistikharahi, wis jelas kabeh kok siapa Gus Hans,” tegas wakil katib syuriyah PCNU Surabaya 1995-2000 itu kepada Barometerjatim.com, Selasa (18/8/2020).

Menurut Gus Nas, dirinya tahu betul siapa sosok Gus Hans, termasuk nasab kekiaian, keluarga, maupun pesantrennya. Apalagi sama-sama di komunitas Asparagus (Asosiasi Para Lora dan Gus).

“Kita sering kumpul-kumpul, banyak hal yang kita bicarakan. Mulai tukar pikiran, hingga membahas perkembangan pesantren masing-masing. Masalah darahnya, insyaallah enggak ‘merah’, ‘hijau’ Gus Hans itu,” paparnya.

“Saya pribadi tidak ragu mendukung Gus Hans, lahir batin sudah. Saya tahu persis nasabnya jelas, masalah religusnya juga jelas, wong keluarga pesantren,” imbuhnya.

Jangan Cuma Ban Serep

Memang, lanjut Gus Nas, Surabaya diperlukaan tokoh NU untuk memegang kemudi, karena NU sangat kuat untuk bisa membentengi akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Surabaya ini kan termasuk metropolis. Kalau bukan orang yang kuat benar agamanya, maka gampang dibeli pengusaha berduit, cukong-cukong itu, kan bahaya. Makanya Surabaya benar-benar butuh orang kuat, enggak gampang dijawil,” ucapnya.

Bagaimana dengan realitas politik untuk urusan calon wali kota sudah mengerucut pada dua kandidat, Machfud Arifin dan jagoan dari PDIP?

“Saya berharap Gus Hans bisa L1, jangan L2. Kalau memang sudah tidak bisa L1, saya berharap bisa mendampingi siapa, tapi Gus Hans harus berhati-hati, pembagian perannya harus jelas,” katanya.

“Bukan hanya jadi ban serep saja. Percuma kalau jadi wakil wali kota tapi gak lapo-lapo, tenger-tengar tok, perannya enggak ada. Jadi harus jelas,” tuntas Gus Nas.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya