Jumat, 02 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Kiai Muhlis: Gus Fahrur Tak Tahu Aturan, Itu Bahaya!

Berita Terkait

KIAI PENGASUH PONPES: KH Mukhlis Muksin (tengah) bersama KH Salahuddin Wahid (kiri) dan KH Asep Saifuddin Chalim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KIAI PENGASUH PONPES: KH Mukhlis Muksin (tengah) bersama KH Salahuddin Wahid (kiri) dan KH Asep Saifuddin Chalim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Beginilah akibatnya kalau orang tidak paham atau bahkan tidak tahu aturan. Yang terjadi tidak berusaha menaati aturan, tapi malah mengajak orang lain untuk melanggar aturan. Dalam konteks berbangsa dan bernegara itu berbahaya!

“Orang gak tahu aturan terus ngomong aturan itu sangat berbahaya. Dia bisa terjerat kata-katanya sendiri dan menyesatkan orang lain. Negara ini ada aturannya, enggak bisa seenaknya sendiri. Apalagi sampai menekan presiden,” kata Pengasuh Ponpes Al Anwar, Bangkalan, KH Mukhlis Muksin, Kamis (7/12).

Seperti diberitakan, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri forum ‘kiai kampung’ yang dimotori Fahrurrozi atau akrab disapa Gus Fahrur mulai mendikte Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar me-reshuffle Khofifah Indar Parawansa dari jabatan Menteri Sosial (Mensos).

• Baca: Pengamat Politik: Kiai Kampung Jangan Sering Offside

Uniknya lagi, Khofifah diminta mundur hanya karena dia menjabat Mensos. Andai Khofifah bukan Mensos, pendukung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) — kadang nyaris mendukung Khofifah — tersebut tidak mempermasalahkannya.

“Andaikan beliau bukan Mensos, kami tidak akan mempermasalahkan apakah mau mundur atau tidak. Mensos itu beda dengan menteri BUMN, misalkan. Beda dengan Menkumham, beda dengan menteri-menteri yang setiap hari sifatnya tidak berhubungan dengan masalah sosial,” paparnya.

Bukankah aturan yang menyebut bahwa menteri tak perlu mundur saat maju di Pilkada berlaku untuk semua menteri alias tak hanya Mensos? “Ketika beliau sebagai menteri yang berkepentingan dengan bantuan dan kesosialan, bencana dan sebagainya, maka di sini akan bias mana menjadi Mensos mana Cagub,” elaknya.

• Baca: Gus Ipul Asyik ‘Melawak’ di PPP, Pendukung Sibuk Serang Khofifah

Menyimak alasan Gus Fahrur, Kiai Mukhlis hanya tersenyum. “Gus Fahrur itu bingung, sudah kehabisan isu karena kiai kampung sudah pindah semua lantaran forum ini sudah melenceng dari awal pendirian,” katanya.

Kiai Mukhlis yang juga Ketua Aspek (Aliansi Santri Pemuda Ekonom dan Kiai) Madura juga menyayangkan statement Gus Fahrur yang mencurigai anggaran Kemensos bakal dipakai untuk kepentingan di Pilgub Jatim 2018 jika Khofifah tidak mundur.

“Orang kalau perilakukanya sudah jelek, yang ada dalam pikirannya ya selalu negative thingking terus. Artinya kalau praduga jelek terus yang muncul, maka itu didasari pekerjaannya sendiri yang jelek,” tandasnya.

Marwah Bisa Tergerus

Sebelumnya, Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surochim Abdussalam juga menilai permainan politik secara terbuka bisa menjerumuskan ‘kiai kampung’ pada kepentingan politik sesaat serta menggerus marwah mereka di hadapan publik.

“Sungguh berbahaya jika para kiai kampung memainkan peran politik praktis terbuka. Hal ini akan mudah terjerumus kepada kepentingan politik sesaat,” katanya. “Harap hati-hati memainkan peran terbuka, mengingat hal itu bisa mengerus marwah beliau di hadapan publik.”

• Baca: Kasihan Umat, Stop ‘Akrobat Politik’ Atas Nama Kiai Kampung

Surochim berharap agar para kiai kampung tetap menjadi jangkar kultural yang bisa memainkan high politics dengan menjadi jujukan dan titahnya selalu dijadikan pegangan bagi publik.

“Tapi jika terlalu terbuka memainkan politik praktis dukung mendukung, maka marwah itu akan tergerus signifikan,” tandasnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -