Kiai Asep: Mau AstraZeneca, Keluar dari Amanatul Ummah!

HARAM!: Kiai Asep, keluarga besar Ponpes Amanatul Ummah jangan mau divaksin AstraZeneca. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS/DOK
HARAM!: Kiai Asep, keluarga besar Ponpes Amanatul Ummah jangan mau divaksin AstraZeneca. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah Mojokerto dan Surabaya, KH Asep Saifuddin Chalim meminta santri dan para guru di pesantrennya jangan sampai ada yang mau divaksin AstraZeneca.

“Jangan pernah ada! Semua keluarga besar Amanatul Ummah yang mau divaksin dengan AstraZeneca, kalau ada di antara kalian, pulang! Kalau ada gurunya, berhenti! Jangan jadi guru di sini. Kalau ada dosen, berhenti!” tegasnya kepada wartawan di Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto, Senin (29/3/2021).

Sebab, lanjut Kiai Asep yang juga guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, mereka yang kemasukan vaksin mengandung tripsin babi, maka mulutnya sangat berbahaya karena membawa keharaman.

“Dan bahaya, celaka sekali, karena ini akan ditumpahkan di Ponpes-Ponpes, idealisme habis. Di samping idealisme habis, doa mereka tidak dikabulkan oleh Allah Swt,” katanya.

Sebelumnya, Kiai Asep mengkritik keras Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim yang menghukumi halalan thayyiban vaksin AstraZeneca dengan argumen istihalah — perubahan benda najis menjadi suci.

“Membuat fatwa halalan thayyiban, naudzubillahi min dzalik. Dasarnya Apa? Istihalah, Allahu Akbar, istihalah-nya seperti itu,” katanya.

Menurut Kiai Asep, merujuk Imam Syafi’i dan Imam Hambali, istihalah hukumnya haram mutlak kecuali di tiga hal. Pertama, khamr (arak) yang berubah menjadi cuka.

Kedua, kulit bangkai selain babi dan anjing yang disamak. Ketiga telur yang menetas dari bangkai ayam. “Hanya itu saja!” tegasnya.

Selain dasar istihalah yang dianggapnya tidak tepat, AstraZeneca sangat berbahaya karena membuat doa orang mukmin yang kemaksukan vaksin ini menjadi tidak mustajab.

“Yahudi, Zionis, Orientalis, menginginkan bahwa semua makanan yang masuk pada mulut-mulutnya orang muslim harus kemasukan babi, agar doanya tidak dikabulkan. Berbahaya sekali, ulama kok ndak memiliki hikmah di dalam memutuskan sesuatu, gimana itu?” ucapnya.

MUI Jatim, tandas Kiai Asep, seharusnya shodiqul hukumah. Menjadi teman bagi pemerintah yang senantiasa memberikan arahan, penyelamatan, keselamatan bangsa dan negaranya, untuk Indonesia.

“Bagaimana potensi bangsa yang kemudian mandul semua doanya karena kemasukan babi, apa itu yang namanya shodiqul hukumah, yang menyelamatkan bangsa. Arahkan (pemimpin) kepada yang benar,” ujarnya.

» Baca Berita Terkait Vaksinasi Covid-19