Kiai Afifuddin: Saya Pilih Jokowi karena Dia Rajin Shalat

DEKLARASI JKSN MALAYSIA: KH Afifuddin Muhajir (dua dari kiri), menghadiri deklarasi JKSN Malaysia di Kuala Lumpur, Minggu (21/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DEKLARASI JKSN MALAYSIA: KH Afifuddin Muhajir (dua dari kiri), menghadiri deklarasi JKSN Malaysia di Kuala Lumpur, Minggu (21/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

KUALA LUMPUR, Barometerjatim.com – Bagi Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir, kriteria Capres-Cawapres yang harus dilihat pertama kali — kalau dia muslim — adalah shalatnya.

“Kenapa demikian? Kalau orang itu sudah tidak baik dengan Tuhannya, apalagi yang bisa diharapkan,” katanya saat deklarasi Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Malaysia di Hotel Adamson, Kuala Lumpur, Minggu (21/10).

Shalat yang dimaksud Kiai Afifuddin bukan shalat Jumat atau Idul Fitri, tapi shalat lima waktu. “Kalau shalat Jumat, hari raya, bisa saja itu sebagai pencitraan. Tapi shalat sehari-hari di rumahnya,” tandasnya.

• Baca: Politisasi Agama Haram, Kawal Politik dengan Agama Wajib

Apakah Joko Widodo (Jokowi) yang didukung Kiai Afifuddin shalat sehari-hari? “Saya adalah pendukung Pak Jokowi mulai (Pilpres) 2014. Kenapa saya memilih dia? Karena saya tahu dia rajin shalat,” tegasnya.

Dari mana Kiai Afifuddin tahu kalau Jokowi rajin shalat? Kiai ahli fiqih itu lantas menuturkan, dia tahu karena keponakannya yang menjadi rais syuriyah PCNU Solo sangat akrab dengan Jokowi, serta tahu persis keislaman mantan gubernur DKI Jakarta itu maupun keluarganya.

“Seandainya informasi yang disampaikan sekarang mungkin saya tidak percaya, tapi informasi itu sejak dulu saya dengar,” katanya.

• Baca: BKSN Tandingi JKSN, NU Kultural Terbelah di Pilpres 2019

Kiai Afifuddin menambahkan, orang itu ada tiga macam. Pertama, orang yang diketahui baiknya. Kedua, orang yang diketahui tidak baiknya. Ketiga, orang yang tidak diketahui baik dan tidak baiknya.

Agar tahu bahwa orang tersebut benar-benar baik atau tidak baik, maka harus bergaul sehari-hari. “Orang yang tidak pernah kita bergaul, barangkali kita tidak tahu kalau dia itu shalat atau tidak shalat,” ucapnya.

“Kalau orang itu sudah tidak baik dengan Tuhannya, apalagi yang bisa diharapkan.”

Dia lantas memberikan contoh, ada dua orang imam yang satu shalatnya baik dan satunya lagi shalatnya tidak baik. “Kenapa saya tahu, karena dua-duanya adalah teman saya,” ucapnya.

“Tapi yang si ini, saya tidak tahu apakah baik atau tidak baik karena belum pernah saya lihat dia shalat,” sambung Kiai Afifuddin yang disambut senyum hampir seribuan relawan JKSN yang hadir.

Soal Kiai Ma’ruf

LIHAT SHALATNYA: KH Afifuddin Muhajir (kanan), kriteria Capres-Cawapres yang harus dilihat pertama kali kalau dia muslim yakni shalatnya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
LIHAT SHALATNYA: KH Afifuddin Muhajir (kanan), kriteria Capres-Cawapres yang harus dilihat pertama kali kalau dia muslim yakni shalatnya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Bagaimana dengan Kiai Ma’ruf? Menurut Kiai Afifuddin, bertanya Kiai Ma’ruf shalat apa tidak, sama halnya dengan pertanyaan apakah shalat lima waktu itu wajib. Sama dengan pertanyaan apakah zina itu haram, atau sama dengan pertanyaan apakah pendukung Jokowi-Ma’ruf berharap paslon yang didukungnya ini menang.

“Itu kata orang pesantren: Ma’lum minaddin bi dharurah. Sesuatu yang ma’lum minaddin bi dharurah tidak perlu dalil,  karena masyarakat umum itu sudah tahu,” tegasnya.

“Jadi kalau Kiai Ma’ruf tidak perlu lagi dipertanyakan tentang shalatnya, ibadahnya, tahajudnya, dan seterusnya,” tegasnya.

• Baca: Ketum JKSN: Barisan Mana yang Mau Digiring Gus Hasib

Kiai Afifuddin menegaskan, dia membatasi hanya menyoroti Capres-Cawapres tentang keislaman, ke-NU-an, serta kepesantrenannya. Soal hal lain, misalnya ekonomi, hal itu wilayah para ahli yang berhak menjawab.

“Tentu yang bisa dijadikan pegangan adalah mereka yang netral, bukan timses Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” tuntasnya.