Khofifah Menang, PKB-PDIP 3 Kali Tumbang di Pilgub Jatim

SEJARAH KHOFIFAH: Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak memenangi Pilgub Jatim 2018 versi quick count semua lembaga survei. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
SEJARAH KHOFIFAH: Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak memenangi Pilgub Jatim 2018 versi quick count semua lembaga survei. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

Butuh waktu 10 tahun bagi Khofifah untuk memenangi Pilgub Jatim. Sebaliknya, PKB dan PDIP tercatat sebagai Parpol yang tak pernah menang!

KHOFIFAH Indar Parawansa memang ‘petarung’ ulung. Dua kali kalah di Pilgub Jatim — sejumlah pihak menyebut dikalahkan — tak menyurutkan semangatnya untuk mengabdi di tanah kelahirannya.

Hasilnya pun luar biasa! Di pertarungan ketiganya kali ini, buah ikhtiar panjang selama hampir 10 tahun, perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU tersebut akhirnya meraih kemenangan mantap: Unggul rata-rata tujuh persen versi hasil quick count dari rivalnya, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

“Kemenangan untuk rakyat Jawa Timur!” tandas Khofifah dalam pidato kemenangan lewat konferensi pers yang digelar di kediamannya, Jemursari, Surabaya, Rabu (27/6) malam.

• Baca: Menang Mantap! Khofifah: Ini Kemenangan Rakyat Jawa Timur

“Mudah-mudahan kemenangan yang kami peroleh menjadi bagian dari mata rantai untuk memajukan Jatim yang lebih baik lagi. Mata rantai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik lagi, dan mata rantai untuk menjadikan Jatim lebih berkeunggulan.”

Sebaliknya, kekalahan Saifullah-Puti menjadi rentetan catatan kelam bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan PDI Perjuangan: Dua Parpol besar yang tak pernah menang di Pilgub Jatim.

Pilgub Jatim 2008

PASLON PDIP KALAH: PDIP mengusung duet kader sendiri, Bambang DH dan Said Abdullah di Pilgub Jatim 2013. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
PASLON PDIP KALAH: PDIP saat mengusung duet kader sendiri, Bambang DH dan Said Abdullah di Pilgub Jatim 2013. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

Kali pertama Pilgub Jatim digelar secara langsung. PKB mengusung Achmady-Suhartono (Achsan), PDIP mencalonkan Sutjipto-Ridwan Hisjam (Salam), sedangkan Khofifah maju bersama Mudjiono (Kaji). Hasilnya paslon baik yang diusung PKB maupun PDIP kalah telak.

Salam di posisi ketiga dengan 21,19 persen, Achsan tercecer di posisi buncit dari lima paslon dengan 8,21 persen, Kaji menempati posisi kedua dengan perolehan 24,82 persen, sementara Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang diusung Demokrat-PAN di posisi teratas dengan perolehan 26,44 persen.

• Baca: Menang! Khofifah Sujud Syukur Bersama Keempat Anaknya

Lantaran tidak ada calon yang meraih suara menimal 50+1 — saat itu masih menggunakan aturan lama — maka Pilgub Jatim 2008 digelar dua putaran. Karsa dan Kaji maju ke putaran kedua.

Bahkan Kaji nyaris menang andai di putaran kedua tak ‘dikerjai’ habis-habisan oleh penguasa saat itu, mengingat quick count semua lembaga survei mengunggulkan Kaji namun rekapitulasi KPU Jatim justru memenangkan Karsa.

Karsa berbalik menang dengan mengantongi 7.729.944 suara (50,20 persen), sedangkan Kaji 7.669.721 suara (49,80 persen) atau selisih 60.223 suara (0,4 persen) dan 506.343 suara dinyatakan tidak sah.

Pilgub Jatim 2013

PKB TAK PERNAH MENANG: PKB saat mengusung Khofifah yang berpasangan dengan Herman Herman S Sumawiredja di Pilgub Jatim 2013. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
PKB TAK PERNAH MENANG: PKB saat mengusung Khofifah yang berpasangan dengan Herman S Sumawiredja di Pilgub Jatim 2013. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

Kalah di Pilgub Jatim 2008, PKB yang berkoalisi dengan Parpol non kursi mencoba ‘peruntungan’ dengan mengusung Khofifah yang berpasangan dengan Herman S Sumawiredja (Berkah). Hasilnya? Alih-alih menang, perolehan suara Khofifah malah ter-downgrade satu juta lebih.

Berkah meraih 6.525.015 suara (37,62 persen), sedangkan incumbent Karsa yang diusung Demokrat, Golkar, PAN dan Parpol non kursi menang dengan 8.195.816 (47,25 persen).

• Baca: Khofifah Menang, Pendukung Penuhi Nazar Cukur Gundul

Menilik perolehan suara Khofifah yang terkoreksi 1.144.706 dibanding perolehan di Pilgub Jatim 2008, bisa dibilang peran PKB tak signifikan. Selain Karsa diuntungkan posisi incumbent, suara Khofifah tetap lebih banyak disokong warga Muslimat NU yang mencapai sekitar 7 juta di Jatim.

PDIP? Setali tiga uang. Parpol besutan Megawati Soekarnoputri yang memilih mengusung duet kader sendiri, Bambang DH dan Said Abdullah (Jempol) hanya menempati posisi ketiga dari empat calon dengan perolehan 2.200.069 suara (12,69 persen).

Pilgub Jatim 2018

DIKALAHKAN KHOFIFAH-EMIL: Saifullah-Puti Guntur yang diusung koalisi PKB-PDIP serta kiai di struktural NU tak mampu mengalahkan Khofifah-Emil. | Foto: IST
DIKALAHKAN KHOFIFAH-EMIL: Saifullah-Puti Guntur yang diusung koalisi PKB-PDIP serta kiai di struktural NU tak mampu mengalahkan Khofifah-Emil. | Foto: IST

‘Babak belur’ di dua Pilgub Jatim, PKB yang memiliki 20 kursi di DPRD Jatim dan PDIP (19 kursi) balik berkoalisi dengan mengusung incumbent Wagub Saifullah Yusuf.

Semula, Saifullah dipasangkan dengan Abdullah Azwar Anas. Namun karena tersengat foto syur “paha nangkring”, bupati Banyuwangi itu memilih mundur sebelum didaftarkan ke KPU Jatim. PDIP lantas ‘mengimpor’ Puti yang masih keponakan Megawati Soekarnoputri dari Jawa Barat.

Secara kursi Parpol, kekuatan PDIP dan PKB semakin dahsyat karena mendapat sokongan dari Gerindra (13 kursi) dan PKS (6 kursi). Belum lagi dukungan dari para kiai struktural PWNU Jatim yang dimotori KH Hasan Mutawakkil ‘Alallah.

• Baca: Gunakan Hak Pilih, Khofifah Dikawal Tiga Pensiunan Jenderal

Tapi Khofifah lebih cerdik. Di saat kekuatan besar Parpol, PKB dan PDIP berkoalisi, mantan Menteri Sosial itu mengambil kekuatan koalisi Demokrat-PAN yang berpengalaman memenangi dua kali Pilgub Jatim. Bercokol pula dalam koalisi yakni Golkar, Nasdem, PPP dan PAN,  menyusul kemudian PKPI, PSI dan PBB.

Meski kalah jumlah kursi Parpol, gelombang arus bawah pendukung Khofifah mengalir deras. Belum lagi dukungan dari para kiai pengasuh Ponpes besar dari ujung barat dampai timur, di antaranya KH Salahuddin Wahid dan KH Asep Saifuddin Chalim, KH MUzakki Syah maupun KH Hisyam Syafaat.

Langkah cerdik lainnya, Khofifah memilih Cawagub yang reputasinya lagi meroket, terutama di kalangan generasi milenial: Emil Elestianto Dardak yang beristrikan pesohor Arumi Bachsin. Hasilnya, Khofifah-Emil menang mantap versi quick count semua lembaga survei, rata-rata di angka tujuh persen.

Tiga Faktor Kemenangan

FAKTOR PENENTU: Emil Dardak menjadi penentu pertarungan di tengah popularitas Khofifah dan Saifullah Yusuf. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
FAKTOR PENENTU: Emil Dardak menjadi penentu pertarungan di tengah popularitas Khofifah dan Saifullah Yusuf. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Menurut Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman, ada beberapa hal yang menjadi faktor kemenangan Khofifah-Emil.

Pertama, strategi populisme elektoral yang dijalankan Khofifah-Emil yakni langsung menyentuh lapisan terbawah dari pemilih menjadi strategi utama yang dilakukan.

“Hal ini membuat hubungan dan identifikasi politik antara Khofifah-Emil dan pemilih bersifat langsung. Hal ini yang juga terjadi dalam strategi kemenangan pasangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI 2012 lalu,” paparnya.

• Baca: Emil Sungkem Orang Tua dan Ziarah ke Makam Leluhur

Kedua, pertarungan Pilgub Jatim di tengah popularitas yang optimal antara Khofifah dan Saifullah sangat ditentukan oleh perolehan dukungan yang didapat pasangannya, Emil versus Puti Guntur.

“Dalam beberapa debat yang berlangsung, Emil berhasil menunjukkan dirinya sebagai figur pemimpin muda, berkapasitas, berani dan cerdas. Ini menjadi rujukan dari para pemilih di Jatim,” tegasnya.

• Baca: Isyarat Khofifah: Fajar 27 Juni Terbit Bawa Kesejahteraan

Ketiga, langkah cantik Soekarwo alias Pakde Karwo yang pada detik-detik terakhir melansir surat terbuka kepada masyarakat Jatim untuk memilih Khofifah-Emil dengan pertimbangan kapasitas calon.

“Basis dukungan Pakde yang masih kuat baik di kalangan Mataraman maupun kiai, ikut memberikan kontribusi suara kepada pasangan Khofifah-Emil Dardak,” tandas CEO Initiative Institute tersebut.