Khofifah-Hasan-Hary Tanoe Bertemu di Probolinggo

HARLAH: Mensos Khofifah Indar Parawansa memberikan ceramah saat Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

PROBOLINGGO, Barometerjatim.com – Di sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai Menteri Sosial RI, Rabu (24/5) malam Mensos Khofifah Indar Parawansa menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Kehadiran Khofifah menarik perhatian hadirin karena di lokasi acara juga hadir konglomerat yang juga Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) serta mantan Bupati Probolinggo dua periode yang kini anggota Komisi VIII DPR RI, Hasan Aminuddin.

Khofifah datang saat HT menyampaikan pidato. Kehadiran Khofifah membuat suasana langsung riuh karena para santri berebut salaman. Dari atas panggung, usai menyapa Khofifah, HT kemudian melanjutkan pidatonya yang menjelaskan terkait lapangan pekerjaan.

“Indonesia butuh banyak lapangan kerja. Harapan saya Ponpes bisa menjadi sumber kaderisasi pengusaha yang menciptakan lapangan kerja,” ujar pria asal Surabaya tersebut.

Usai berpidato HT kemudian menyapa dan bersalaman degan Khofifah namun tidak duduk bersebelahan, karena pihak pesantren sengaja memisahkan tempat duduk antara undangan laki-laki dan perempuan.

HT hadir didampingi Sekjen Partai Perindo, Ahmad Rofiq, Wasekjen Donny Ferdiansyah serta Ketua DPW Partai Perindo Jatim, M Mirdasy.

• Baca: Ratusan Ribu Jamaah Manaqib Doakan Khofifah Gubernur

Sementara Khofifah dalam pidatonya menjelaskan, hari ini pekerjaan rumah kalangan pesantren terkait keumatan sangat banyak dan perlu dijawab dengan spesifikasi keilmuan. Perlu berbagi tugas: Ada yang mendalami berbagai ilmu pengetahun dan teknologi, ada pula yang tetap mendalami ilmu agama.

Jangan sampai, lantaran tidak memiliki ilmunya, para santri tidak ambil peran dalam pembangunan, termasuk hanya menjadi penonton melihat kekayaan alam yang dianugerahkan Allah Swt dieksplorasi bangsa lain. Padahal, di Jawa Timur saja, banyak tambang minyak dan emas yang membentang dari Tuban, Bojonegoro, Banyuwangi hingga Madura.

“Para santri punya kesempatan untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Karena itu, orang tua dan para kiai harus memberi restu bagi santri untuk mengembangkan ilmunya di berbagai bidang, termasuk teknologi,” paparnya.

Khofifah lantas mengutip Al Qur’an Surat At Taubah Ayat 122. Ayat tersebut, kata Khofifah, memberikan referensi bagi kita jangan semua masuk ke medan perang. Para santri jangan hanya terkonsentrasi pada ilmu agama saja tapi juga terbuka dengan ilmu lainnya.

PONPES SUMBER KADERISASI: Hary Tanoesoedibjo, berharap Ponpes bisa menjadi sumber kaderisasi pengusaha yang menciptakan lapangan kerja. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

“Artinya, hari ini mestinya sudah banyak jenderal, ahli tambang dan seterusnya dari kalangan santri. Kalau kemudian hari ini belum, berarti memang kita belum secara strategis dan sistemik menyiapkan santri-santriwati untuk masuk ke jenjang ini,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi apa yang perlu diperioritaskan kalangan pesantren? Menilik peta dunia, lanjut Khofifah, negara maju di dunia rata-rata wajib harus menguasai STEM (Science, Technology, Engineering and Math/Economy).

STEM ini perlu dikuasai para santri agar tidak sebatas menjadi penonton di negeri sendiri, di saat Allah Swt memberikan begitu banyak kekayaan alam.

• Baca: Khofifah-La Nyalla ‘Nostalgia’ di Ponpes Al Qodiri

Khofifah mencontohkan di Banyuwangi ada empat tambah emas yang dieksplorasi. “Allah Swt memberikan tambang tapi harus diambil manfaatnya menggunakan ilmu,” ucapnya. “Artinya, santri memang harus ada yg disiapkan masuk fakultas pertambangan. Siap tidak?” tanya Khofifah yang dijawab para santri, “Siap!”

Lalu di Tuban, banyak sekali gunung kapur yang kemudian di wilayah itu didirikan pabrik semen. “Kapur jadi semen ini pakai ilmu, pakai teknologi. Santri harus ada yang masuk pada jurusan teknik sipil, teknik industri.”

Berikutnya di Madura, di darat maupun di laut gasnya melimpah. “Apa maknanya? Santri atas seizin orang tua dan kiai silakan masuk lagi jurusan pertambangan, ambil nanti program studi perminyakan. Kiai, nyuwun panjenengan pangestoni, beri santri izin,” ujarnya.