Khofifah-Emil NU 24 Karat: Pilih Nomor 1, Dapat 3 NU

SILATURAHIM KE PONPES: Cagub Khofifah Indar Parawansa di Pondok Pesantren Al Hikmah Mlaten Kauman, Tulungagung, Minggu (22/4). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
SILATURAHIM KE PONPES: Cagub Khofifah Indar Parawansa di Pondok Pesantren Al Hikmah Mlaten Kauman, Tulungagung, Minggu (22/4). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

TULUNGAGUNG, Barometerjatim.com – Penduduk Jawa Timur adalah mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU). Merujuk hasil survei The Initiative Institute yang dirilis Juli 2017, 63,10 persen responden berlatar belakang politik aliran NU.

Disusul Nasionalis Soekarno (24,60 persen), Muhammadiyah (6,80 persen), Nasionalis Soeharto (5,10 persen) dan Masyumi (0,40 persen). Dengan demikian, sudah sepatutnya kalau Nahdliyin memilih Cagub-Cawagub representasi NU.

Dari dua pasangan calon yang berkontestasi, ke-NU-an Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak tak perlu dipertanyakan lagi, bahkan bobot NU-nya mencapai 24 karat. Sebab, Khofifah hingga kini tercatat sebagai ketua umum PP Muslimat NU, badan otonom NU paling solid dan loyal.

• Baca: Ingatkan Warga Muslimat NU, Khofifah: Jangan Salah Coblos!

Sementara Emil Dardak tercatat sebagai koordinator hubungan birokrat di Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Jepang. Darah NU peraih gelar doktor di usia 22 tahun itu juga mengalir deras di tubuhnya, mengingat Emil adalah cucu KH Mochamad Dardak, salah seorang kiai NU di Trenggalek.

Satu lagi sokongan NU di pasangan calon nomor urut 1, yakni Arumi Bachsin. Istri Emil Dardak yang mantan artis itu tercatat sebagai anggota Fatayat NU Depok.

Saat Emil pulang dari Jepang, dia mengajak istrinya itu sowan ke KH Hasyim Muzadi yang kemudian disarankan agar Arumi bergabung dengn Fatayat NU Depok, lantaran saat itu Arumi masih tinggal di Depok.

“Maka jika vote no 1, you get 3. Jika pilih nomor 1, maka akan dapat tiga NU,” kata Khofifah saat bersilaturahim dengan kiai NU Tulungagung di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikmah Mlaten Kauman, Tulungagung, Minggu (22/4).

• Baca: Golkar Ajak Muslimat NU ‘Habis-habisan’ Menangkan Khofifah

Memilih gubernur dan wakil gubernur Jatim dari kader NU menjadi penting, kata Khofifah, karena masih banyak PR besar yang harus ditanggung bersama dalam memperbaiki dan penguatan moral untuk membekali masyarakat Jatim yang mayoritas Nahdliyin.

“Saat saya ke Taiwan, saya bertemu dengan TKW yang bercerita bahwa dia sudah satu tahun lebih tidak menjalankan shalat, karena majikannya tidak suka warna putih,” ucapnya.

Padahal, kata Khofifah, shalat pada prinsipanya adalah menutup aurat. Bukan berarti mukenanya harus berwarna putih. “Ini bukti kurangnya pembekalan dari segi agama pada TKW yang akan berangkat keluar negeri, terutama pembekalan agama,” tegas Khofifah.

Kedepankan Moral

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung, KH Hadi Mohammad Machfud mengatakan, setelah mendengarkan pemaparan Khofifah, dia mengapresiasi dan cocok apa yang sudah disampaikan dan diprogramkan. “Beliau mengedepankan moral, memang itu yang harus didahulukan,” katanya.

Kiai Hadi menambahkan, memang dalam Pilgub Jatim kali ini kedua Cagub adalah tokoh NU. Namun Khofifah dinilainya lebih memiliki keunggulan, termasuk dua kali menjadi menteri.

“Selain itu prestasinya banyak dan keistimewaannya beliau adalah tokoh perempuan. Itu keistimewaannya,” tegasnya.