Khofifah: ‘Alergi Becek’ Lalu Teriak Proteksi Pasar, Itu Bullshit!

OASE BANGSA: Cagub Khofifah Indar Parawansa dalam diskusi Oase Bangsa di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu (21/3). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
OASE BANGSA: Cagub Khofifah Indar Parawansa dalam talkshow Oase Bangsa di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu (21/3). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sebulan lebih kampanye Pilgub Jatim 2018 berjalan. Cagub nomor urut satu, Khofifah Indar Parawansa terlihat begitu rajin blusukan ke pasar tradisional yang becek dan tak convenience.

Bagi Khofifah, untuk mendengar aspirasi masyarakat — terutama di level grass root — haruslah seeing is believing. Melihat langsung dan baru percaya apa yang terjadi di lapangan agar bisa memberi proteksi secara maksimal terhadap pasar tradisional.

Jangan sampai mereka yang selama ini tidak mau ke pasar tradisional, tidak mau becek-becek, “Lalu ikut cerita ayo kita lindungi, kita proteksi pasar tradisional, bullshit-lah (omong kosong) itu!”

• Baca: Jaga Harga di Pasar Tradisional, Khofifah Siapkan Warehouse

Penegasan itu disampaikan Khofifah dalam talkshow Oase Bangsa (Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan) yang digelar salah satu radio swasta di Surabaya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu (21/3).

Selain Khofifah, panitia sebenarnya mengundang pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Namun keduanya absen dan hanya mengutus perwakilannya, Muzakki. Alhasil, talkshow berjalan kurang maksimal karena yang hadir bukan sesama Cagub.

Selain dari paslon, hadir pula sejumlah tokoh agama dan Ormas, di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, KH Saad Ibrahim; Wakil Syuriah PWNU Jatim, KH Prof Ali Machsan Moesa; Sekretaris MUI Jatim, Ustadz Ainul Yaqin; serta dekan Fakultas Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Dr Surochim Abdussalam.

• Baca: Duh! Jatim Belum Tersentuh Program Revitalisasi 1000 Pasar

Lantaran semangatnya melindungi, tambah Khofifah, maka penekanannya perlu membangun infrastruktur di hampir seluruh pasar tradisional, terutama di sektor becek, tempat menjual ikan dan sayur.

“Sering kali, bayangan kita kalau membangun infrastruktur itu ya bikin jembatan, bikin jalan raya, membangun bikin pasar secara utuh. Padahal tidak selalu begitu,” tandasnya.

Mantan menteri sosial itu mencontohkan ketika blusukan di Pasar Hewan (sapi dan kambing) di Tanah Merah, Bangkalan. “Mereka (pedagang) tidak teriak-teriak minta macam-macam. Hanya bilang: Bu tolong dikasih batako, biar enggak becek. Simpel sekali,” katanya.

• Baca: Petani Tuban: Bu Khofifah Wis Pantes Dadi Gubernur

Selain itu, perlu didesain yang memungkinkan air bersih terjaga agar pedangang tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik, tanpa terganggu kotoran dan najis. “Kasih lah batako, lalu bikin selang-selang kecil untuk membersihkan diri dari kotoran dan najis,” ucapnya.

Khofifah menyebut simpel, sebab dalam hitungannya dari segi anggaran juga tidak terlalu besar untuk luas pasar sekitar 6.000 M2. “Kalau batako dengan irigasinya, katakan paling mahal Rp 1 juta, cuma Rp 6 miliar,” katanya.

“Tapi dengan Rp 6 miliar itu kita bisa menjaga roda ekonomi dan memastikan yang beragama Islam tetap bisa shalat dengan baik dan tidak najis, karena tidak khawatir terkena percikan kotoran sapi.”

• Baca: 3 Kali Maju Pilgub Jatim, Rhoma: Oh Khofifah.. Wis Wayahe!

Begitu pula saat blusukan di Pasar Ayam di Tulungagung yang memiliki luas sekitar 1,5 hektare. “Saya keliling. Sama (dengan pedagang di Tanah Merah)  mereka enggak minta macam-macam. Mereka mandiri, hanya minta supaya dibikin enggak becek. Mereka ingin area pasar di batako,” katanya.

Khofifah juga khawatir, mereka yang datang ke tempat ini hanya yang memiliki keterkaitan aktivitas juali beli ayam secara langsung, lalu sekonyong-konyong mengajak beribadah dengan baik.

“Gimana caranya beribadah dengan baik, kalau airnya kotor, najir, temat wudhu tidak jelas, mushala apalagi tak jelas dimana. (Solusinya) very very simple menurut saya,” katanya.

• Baca: Ketum Golkar: Khofifah Gubernur, Jokowi Dua Periode

Dengan demikian, mereka yang kelas menengah, juga bisa bergerak belanja di pasar tradisional. Biar proteksi pasar tradisional tidak sekadar menjadi ‘bunyi-bunyian’.

“Kalau yang kelas menengah, yang enggak mau becek-becek, pasti enggak mau ke pasar tradisional. Lalu ikut cerita, ayo lindungi, proteksi pasar tradisional, bullshit-lah itu. Ayo bergerak bersama,” tandasnya yang disambut aplaus hadirin.

Warehouse dan KUR

STOP 'BUNYI-BUNYIAN': Cagub Khofifah Indar Parawansa, tak mau berbecek-becek lalu berteriak proteksi pasar tradisional itu omong kosong. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
STOP ‘BUNYI-BUNYIAN’: Cagub Khofifah Indar Parawansa, tak mau berbecek-becek lalu berteriak proteksi pasar tradisional itu omong kosong. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

Selain itu, bicara infrastruktur, pedagang di pasar tradisional juga butuh warehouse (gudang) agar mereka tidak dipermainkan tengkulak terkait harga.

“Mereka tidak tahu sekarang berapa harga cabai, dan lain-lain, tiba-tiba turun. Artinya tidak ada perlindungan harga, bukan hanya bagi konsumen tapi juga pedagang. Warehouse menjadi penting,” katanya.

Berikutnya, lanjut Khofifah, perlu ada bank penyalur yang terus mempromote. “Ini lho KUR (Kredit Usaha Rakyat). Ini lho interesnya (selisih yang ditanggung APBN) 7 persen per tahun,” ucapanya.

• Baca: Kiai Sentral NU Dukung Khofifah, Mesin PKB Makin ‘Tergerus’

“Enggak usah bank penyalur datang ke situ. Pangil saja setelah pasar tutup atau agak sepi. Kumpulkan di gedung terdekat, supaya mereka tidak terjerat rentenir. Lalu siapa yang bikin agen bank. Kalau pasarnya gede bisa dua atau tiga agen bank.”

Satu lagi yang diperlukan, yakni komunikasi antara pimpinan di daerah dengan lembaga-lembaga yang diberi kewenangan APBN untuk menyalurkan kredit murah. “Bukan murah karena dari bank yang bersangkutan, tapi karena interesnya, selisihnya ditanggung oleh APBN,” tuntas Khofifah.