Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Ketum PBNU: Tidak Bisa Kita Biarkan PKB Hanya Main-main Klaim NU untuk Dapat Suara

Berita Terkait

MENOHOK: Gus Yahya, tidak bisa PKB menjadikan PBNU sebagai alat politik. | Foto: Barometerjatim.com/IST
MENOHOK: Gus Yahya, tidak bisa PKB menjadikan PBNU sebagai alat politik. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

KEDIRI, Barometerjatim.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya kembali mengeluarkan pernyataan menohok terkait Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menurutnya, PKB memang dibentuk oleh pengurus-pengurus NU dan hubungannya dibiarkan berjalan secara alami. Tapi tidak bisa kemudian PKB menjadikan PBNU sebagai alat politiknya.

“Saya maksudkan bukan hanya PBNU tapi seluruh struktur NU. Artinya apa, tidak bisa kita biarkan PKB hanya main-main klaim NU untuk dapat suara,” katanya saat mengunjungi kantor PCNU Kabupaten Kediri, Minggu (6/3/2022) malam.

“Kalau mau dapat suara dia harus bekerja secara rasional, memberikan maslahat yang nyata kepada rakyat. Ini yang ingin kita lakukan,” tandasnya.

Maka ketika ada beberapa cabang yang membuat kegiatan politik PKB di kantor PCNU dengan backdrop kegiatan PCNU, mereka kemudian dipanggil PBNU untuk diberi peringatkan lisan dan ini berlaku buat cabang di seluruh Indonesia.

“Kalau ada yang bikin begini lagi langsung kita terbitkan surat peringatan tertulis tahap satu. Diulangi lagi tahap dua, diulangi lagi bekukan. Pokoknya ndak boleh,” tegasnya.

Selain itu, Gus Yahya ingin NU mendapatkan partisipasi dari semua pihak dan memberikan pelayanan kepada semua pihak. Maka, semuanya harus mendapatkan kewajiban dan hak yang proporsional karena NU harus adil.

“Nah yang saya katakan kapada partai-partai selain PKB ini, bahwa ini ada warga NU yang ikut kalian juga. Kalian harus ikut bertanggung jawab ngurus orang-orang NU,” katanya.

Apalagi jumlah warga NU mencapai 50 persen dari seluruh penduduk muslim di Indonesia. Itu berarti parktis sekitar 50 persen dari Indonesia, karena Indonesia 85 persen lebih muslim.

“Jadi NU ini 50 persennya Indonesia, PKB itu lho cuma 10 persen. Berarti yang 40 persen ini ke mana-mana, ya ke PDIP, Golkar, Gerindra, dan lain-lain. Lha kalau (partai selain PKB) enak-enakan saja, enggak mau ikut-ikutan ngurus kita, kan cari enaknya sendiri itu namanya,” ucapnya.

» Baca berita terkait Nahdlatul Ulama. Baca juga tulisan terukur lainnya Dhani Kusuma.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -