Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Ketua Fatayat Pimpin Timses, Peneliti: Itu Membahayakan NU

Berita Terkait

BERPOLITIK PRAKTIS: Ketua PW Fatayat NU Jatim, Hikmah Bafaqih didaulat memimpin tim sukses pasangan Gus Ipul-Azwar Anas. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
BERPOLITIK PRAKTIS: Ketua PW Fatayat NU Jatim, Hikmah Bafaqih didaulat memimpin tim sukses pasangan Gus Ipul-Azwar Anas. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Nahdlatul Ulama (NU) makin jauh dibawa ke ranah politik praktis. Hal ini seiring penunjukan Ketua Fatayat NU Jatim, Hikmah Bafaqih sebagai ketua tim sukses (timses) Saifullah Yusuf-Azwar Anas untuk Pilgub Jatim 2018.

Memang, belum diumumkan secara resmi, namun kepastiannya disampaikan langsung oleh Saifullah Yusuf. “Ketua tim pemenangan Hikmah Bafaqih, nanti tunggu saja pengumuman resminya,” terang Wagub Jatim yang akrab disapa Gus Ipul itu.

Reaksi negatif pun bertebaran, karena posisi Hikmah di Banom perempuan muda NU tersebut tak sebatas pengurus, tapi ketua aktif. Bisa dibayangkan bakal karut marutnya Fatayat NU Jatim nanti, terutama di arus bawah.

• Baca: Serang Emil, Lupakah PDIP Kalau Anas Politikus ‘Kutu Loncat’?

Bolehlah penujukkan hikmah diharapkan untuk mendulang suara Saifullah-Anas dari Fatayat NU. Tapi perlu diketahui, Hikmah terpilih sebagai ketua Fatayat NU Jatim masa khidmat 2013-2018 tidak melalui suksesi yang mulus, karena saat itu ada dua kubu yang sama-sama menggelar Konferwil untuk memilih ketua.

Pertama, Konferwil di Hotel Wisata Selorejo, Ngantang, Kabupaten Malang, 24-25 Agustus 2013 yang digelar PP Fatayat NU lewat caretaker (dalam surat disebut Plt) Muzaenah Zein (ketua I PP Fatayat).

Di Konferwil inilah Hikmah yang sebelumnya menjabat ketua PC Fatayat NU Kabupaten Malang dipilih sebagai sebagai ketua PC Fatayat NU Jatim. Konferwil ini hanya dihadiri 15 dari total 44 pengurus cabang di Jatim.

• Baca: Soekarwo: Kader Demokrat Wajib Menangkan Khofifah-Emil

Kedua, Konferwil yang digagas PW Fatayat NU pimpinan Faridatul Hanum — kala itu disebut PP kepemimpinannya sudah habis — di Hotel Ucik Tengger (Lereng Gunung Bromo), Kabupaten Probolinggo, 14-15 September 2013.

Hasilnya, Luluk Asfiyah (sebelumnya menjabat ketua I PW Jatim) terpilih sebagai ketua, dipilih 27 dari 29 PC yang hadir. Luluk juga mendapat dua suara saat Konferwil di Ngantang. Meski dipilih cabang lebih banyak, PP Fatayat NU lebih mengakui Hikmah yang kala itu juga didukung PWNU Jatim.

Menilik situasi tersebut, sekali lagi, biarpun Hikmah menahkodai Fatayat NU Jatim, belum tentu arus bawah satu komando dengannya untuk mendukung Saifullah-Anas di Pilgub Jatim 2018. Bisa-bisa yang terjadi dualisme kepemimpinan pada 2013 bakal terulang di 2018 dan terlukai jelas Fatayat NU secara jamiyah.

• Baca: Zulkifli: Tak Ada Aturan Khofifah Mundur, Terserah Presiden

“Ya (penetapan Hikmah sebagai ketua timses) itu membahayakan NU,” nilai peneliti Surabaya Survey Center (SSC)  Surochim Abdussalam, Jumat (1/12). “Sebenarnya (masih) banyak yang melupakan khittah NU yang independen. Mestinya, ada aturan formal atau tidak, fatsun khitthah itu dipegang teguh.”

Surochim bahkan menyebut ‘libido politik’ pengurus NU dan Banomnya kelewat tinggi yang terkadang tidak dibarengi dengan kesadaran etis. “Sehingga sering selip memanfaatkan organisasi untuk meraih vote,” tegasnya.

Memang, lanjut Surochim, tidak ada larangan seseorang untuk terjun ke dalam politik praktis. Tetapi baju pengurus idealnya dilepas sehingga tidak membebani organisasi.

Sedihnya lagi, banyak fungsionaris yang tidak dan belum punya budaya malu soal ini bahkan menganggapnya sebagai hal yang lumarah. “Ya, itu seolah dianggap sebagai hal biasa saja,” tukasnya.

Peran Dominasi di Koalisi

Lebih dari itu, Surochim menilai, langkah PKB menunjuk Hikmah menjadi bagian dari upaya mengambil posisi penting dalam koalisi. Bisa diasumsikan, mereka tidak ingin ‘dikuasai’ PDIP yang jumlah kursinya lebih sedikit (19 kursi).

“PKB sebagai partai majority di kursi parlemen Jatim (20 kursi), tentu akan mengambil positioning guna mendapat coattile elektoral dalam kontestasi ini,” tandas Surochim.

“Mereka sadar bahwa ada di dalam bayangan dan kendali PDIP. Nah sekarang jika mereka mulai menjaga jarak saya pikir itu bagian dari cara PKB meraih efek elektoral bagi partainya,” jabar pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

• Baca: PDIP Rajin Komentar Negatif, Pengamat: Awas Bumerang!

Sementara itu Sri Untari Bisowarno yang didaulat sebagai sekretaris timses Gus Ipul-Anas mengaku belum mengetahui soal  penunjukan Hikmah sebagai komandan timses.

Namun ketua Fraksi PDIP DPRD Jatim itu menyadari posisi ketua timses menjadi hak PKB bersama calon. “Posisi ketua tim pemenangan memang menjadi hak PKB, siapapun yang ditunjuk pasti melalui pertimbangan matang dan kami hargai,” katanya.

Sebelum muncul kabar penunjukan Hikmah sebagai ketua timses, ada empat calon yang disiapkan, yakni Amin Said Husni (bupati Bondowoso), Miftakhul Ulum (anggota Fraksi PKB DPRD Jatim), Thoriqul Haq (ketua LPP DPW PKB) dan Hikmah Bafaqih.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -