Keponakan Khofifah dan Anak Kiai Asep Gabung Gerindra Jatim

WAJAH BARU: Anwar Sadad mengenalkan Lia Istifhama di kepengurusan Partai Gerindra Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
WAJAH BARU: Anwar Sadad mengenalkan Lia Istifhama di kepengurusan Partai Gerindra Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dari tempat bersejarah, Hotel Majapahit (dulu Hotel Yamato) Surabaya, pengurus DPD Partai Gerindra Jatim di bawah kepemimpinan Anwar Sadad alias Gus Sadad dikukuhkan, Minggu (27/6/2021).

Kepengurusan Gerindra Jatim kali ini terlihat jauh lebih segar, lantaran dihuni banyak politikus muda yang rata-rata usianya bahkan jauh di bawah Sadad.

Kharisma Febriansyah (sekretaris) misalnya, kelahiran 1980 (41 tahun). Lalu Muhammad Fawait (bendahara) kelahiran 1988 (33 tahun), dan Abdul Halim (wakil ketua bidang Organisasi Kader dan Keanggotaan/OKK) kelahiran 1978 (43 tahun). Sadad sendiri kelahiran 1973 (usia 48 tahun)

Selain itu ada warna baru, yakni bergabungnya Lia Istifhama (kelahiran 1984/37 tahun) yang menempati posisi wakil ketua bidang Humas, dan Muhammad Al Bara alias Gus Barra (kelahiran 1986/35 tahun) wakil ketua bidang Hubungan Ulama dan Pesantren.

Keduanya menarik perhatian, mengingat Lia merupakan keponakan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Sedangkan Gus Barra adalah wakil bupati Mojokerto yang juga anak Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim.

Di jajaran wakil ketua juga ada pendatang baru lainnya yakni politikus kawakan, Agus Maimun. Sebelumnya, Agus yang mantan anggota DPRD Jatim adalah anggota Partai Amanat Nasional (PAN).

Terkait bergabungnya pendatang baru, Sadad menuturkan komposisi di struktur pengurus Gerindra Jatim memang diisi oleh orang-orang yang sangat variatif.

“Bhinneka Tunggal Ika, sangat macam-macam. Ada dari nasionalis, beraneka warna. Baik background organisasi, Ormas, agama, beda-beda,” katanya, Senin (28/6/2021).

“Karena memang Gerindra ini DNA-nya, kode genetiknya partai nasionalis, yang bisa menampung dan berinteraksi dengan semua yang punya latar belakang berbeda-beda. Salah satunya ya Lia Istifhama, juga ada nama-nama yang lain,” paparnya.

Dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda itu, tandas Sadad, kemudian dikombinasikan menjadi satu dan membuat warna Gerindra menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

“Macam-macam background-nya. Dari organisasi profesi ada, dari IWAPI ada, notaris, profesional, pengusaha juga banyak, politikus ya tempatnya. Akademisi juga banyak, ada banyak doktor di sini,” katanya.

Tak Meminta atau Diminta

PUTRA KIAI ASEP: Anwar Sadad mengenalkan Gus Barra di kepengurusan Partai Gerindra Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PUTRA KIAI ASEP: Anwar Sadad mengenalkan Gus Barra di kepengurusan Partai Gerindra Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Terkait gabungnya Lia, adakah request dari Khofifah? “Kita kan berkomunikasi dengan semua pihak. Tidak ada secara spesifik meminta atau diminta, itu tidak ada. Itu murni, pure, bahwa kita ini ingin mengoptimalkan seluruh potensi,” kata Sadad.

Dalam pandangan Gerindra, tutur politikus yang juga wakil DPRD Jatim tersebut, Lia adalah figur perempuan muda potansial yang punya kemampuan melakukan konsolidasi. Dia juga memiliki background sebagai aktivis perempuan dan HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia).

“Saya kira jejak digitalnya bisa kita lihat kan. Ketika dia mulai running untuk Pilwali Surabaya meskipun akhirnya tidak jadi running, tapi menurut saya cara dia melakukan konsolidasi dan penggalangan massa akan memiliki potensi yang besar bagi Gerindra,” jelas Sadad.

» Baca Berita Terkait Gerindra