Keponakan Khofifah: Bersaing Wajar, Asal Jangan Eker-ekeran!

PILWALI SURABAYA: Lia Istifhama (kanan) dan Dwi Astuti (kiri) ikut fit and proper tes PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Lia Istifhama (kanan) dan Dwi Astuti (kiri) ikuti fit and proper test PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kandidat Calon Wakil Wali Kota (Cawawali) Surabaya, Lia Istifhama menilai postif sejumlah orang dekat Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa declare maju di Pilwali Surabaya 2020.

“Saya lihat ini hal positif. Berarti semuanya menilai bahwa Ibu (Khofifah) adalah orang hebat, dan banyak orang hebat di sekitar beliau. Berarti kan positif, enggak ada yang negatif,” ucap keponakan Khofifah tersebut pada Barometerjatim.com, Jumat (20/9/2019).

Apakah mereka tidak sekadar mencari keuntungan dengan ‘membawa’ nama besar Khofifah? “Enggak tahu ya kalau masalah personal, itu kan masing-masing. Kita enggak bisa melarang siapapun mengambil apapun,” sergahnya.

Lia yang kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) juga menilai wajar-wajar saja kalau ada persaingan di antara orang dekat Khofifah, termasuk meminta restu dari gubernur yang ketua umum PP Muslimat NU tersebut.

“Kalau saya pribadi, prinsip tidak boleh ada eker-ekeran (bersaing yang saling menjatuhkan). Iya, enggak boleh dong,” tandasnya.

Begitu pula dalam memperebutkan rekomendasi partai. “Karena kita enggak pernah tahu, kepada siapa rekom itu akan datang, partai apa, menang juga kayak gimana, enggak ada yang tahu,” sambungnya.

Saat ini, Lia tengah bersaing dengan sejumlah kandidat untuk mendapatkan tiket Cawawali Surabaya dari PDIP. Tiket yang sama juga diincar orang dekat Khofifah yang Wakil Sekretaris PW Muslimat NU Jatim, Dwi Astuti.

Ketika ditanya, apakah bersedia menjadi kader PDIP jika mendapatkan rekomendasi Cawawali, Lia tak mau berandai-andai. “Itu nanti  kita bicarakan setelah rekom turun. Saya tidak mau berandai-andai,” katanya.

Selain ikut penjaringan PDIP, Lia juga mengaku membangun komunikasi dengan sejumlah Parpol, salah satunya Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Iya dengan Pak Musyafak Noer. Saya juga sampaikan ikut penjaringan PDIP, dan beliau enggak masalah,” ujarnya.

Sebenarnya ada satu lagi orang dekat Khofifah yang namanya bahkan lebih awal masuk di bursa Pilwali Surabaya, yakni Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Namun hingga kini mantan Jubir Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018 itu belum menyatakan declare.

Selain ketiganya, belakangan muncul Ali Azhara yang turut mengklaim sebagai orang dekat Khofifah dan menyatakan siap maju di Pilwali Surabaya 2020.

“Kami sama-sama orang dekat Bu Khofifah. Jadi tidak boleh ada yang mengklaim dirinya paling mendapat dukungan atau restu dari Bu Khofifah,” katanya saat menggelar jumpa pers di Coffee Toffee Surabaya, Jumat (14/9/2019) malam.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Khofifah