Kenali Dokter Joni, Komandan Grahadi di Masa Pandemi

KOMANDAN GRAHADI: Dr Joni saat berkunjung ke kampung tangguh di Kauman, Tulungagung. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KOMANDAN GRAHADI: Dr Joni saat berkunjung ke kampung tangguh di Tulungagung. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Dokter Joni tak sebatas ketua tim kuratif Covid-19. Lebih dari itu: Garda terdepan dalam menangkis setiap ‘serangan’ yang mengarah ke Pemprov Jatim.

KENALI Dokter Joni Wahyuhadi. Nama Direktur Utama (Dirut) RSUD dr Soetomo Surabaya itu melejit sejak dipercaya Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menjabat ketua Gugus Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Jatim.

Saking meroketnya nama dr Joni di masa pandemi, sampai-sampai Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi menyebut dokter spesialis bedah saraf dengan pengalaman lebih dari 18 tahun itu sebagai “Komandan Grahadi”.

Hal itu diletupkan Wahid saat memimpin konferensi pers di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 11 Juni 2020. “Yang Terhormat Bapak Dokter Joni, Komandan Grahadi,” sapa Wahid sambil tersenyum.

Disapa dengan sebutan Komandan Grahadi, sontak dr Joni menoleh ke arah Wahid. Namun tak jelas ekspresinya karena memakai masker. Sementara Wahid kembali melanjutkan senyumnya. “He.. he..”

Mungkin tak berlebihan dr Joni dijuluki Komandan Grahadi. Terlebih hari-hari dr Joni tak hanya dihabiskan untuk mendampingi Khofifah dalam menanggulangi Covid-19, tapi juga menjadi garda terdepan dalam menangkis setiap ‘serangan’ yang mencoba mengusik kinerja Gugus Tugas Covid-19 Jatim.

Bahkan, beberapa kali Joni membuat Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini geregetan lantaran amarah perempuan yang akrab disapa Risma itu selalu ditanggapinya dengan gaya bicara yang datar, enteng-enteng saja, tapi rasional dan akademis.

Mulai soal Pemkot Surabaya yang dituding menelantarakan 38 pasien Covid-19, kisruh dua mobil mesin PCR (Polymerase Chain Reaction) bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), hingga RSUD dr Soetomo yang disebut Risma sulit diajak komunikasi.

Ya, dedikasi dr Joni terhadap penanganan Covid-19 memang luar biasa. Bayangkan, selama tiga bulan lebih sejak Maret 2020, dia begitu fokus menangani ketersediaan ruang isolasi hingga perlengkapan medis di seluruh rumah sakit (RS) rujukan. Sampai-sampai rela meninggalkan praktik maupun operasi.

“Saya memang memilih untuk membantu Ibu Gubernur, full time. Saya setop operasi dan praktik. Pasien-pasien itu sebenarnya nggondhok (ngambek) dengan saya. Bagi yang mau dengan dokter lain, kawan-kawan saya, monggo,” katanya.

Lantas, bagaimana cara dr Joni membagi waktu antara menjalankan amanat sebagai ketua Gugus Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 dan Dirut RS terbesar di Jatim?

“Saya ditugaskan Ibu Gubernur ini, saya berterima kasih. Ini bentuk amal ibadah yang berguna bagi masyarakat, jadi amal jariyah,” katanya.

Meski demikian, setiap pagi, jika gubernur belum mengagendakan acara, peraih penghargaan Dokter Puskesmas Teladan Kalimantan Barat pada 1993 itu tetap bertugas di RSUD dr Soetomo.

Bedanya, sebelum ada pandemi selalu berangkat pukul 06.00 WIB ke RSUD dr Soetomo, sekarang pukul 08.00 WIB. Setelah segala sesuatunya beres, baru siang atau sore ke Grahadi.

Mengapa menjadi pukul 08.00 WIB, karena usai konferensi pers rutin di Grahadi yang rata-rata selesai pukul 21.00 WIB, dr Joni tidak langsung pulang tapi dilanjutkan diskusi untuk membuat pemetaan data.

Begitu pula jika gubernur ada acara, dr Joni selalu menyertai untuk memikirkan bagaimana strategi penanganan Covid-19 di Jatim.

“Sampai malam biasanya, jam 23.00 WIB atau 24.00 WIB. Nah jam 01.00 dini hari saya pulang. Sampai rumah mandi, dulu kalau pulang malam enggak pernah mandi,” selorohnya.

Tak hanya di dalam kota, dr Joni juga kerap mendampingi gubernur ke sejumlah daerah, termasuk mengunjungi pesantren tangguh di Kediri dan kampung tangguh di Tulungagung.

Dasar dokter kritis, kala mendampingi Khofifah di Kampung Tangguh Semeru di Dusun Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, 7 Juni 2020, dia sempat-sempatnya mengomentari sebuah pesan dalam spanduk yang dinilai salah.

Pesan tersebut berbunyi “Jauhi virusnya, jangan jauhi orangnya.” Dr Joni pun bereaksi, “Itu spanduk enggak bener, wong virus itu menempel di orangnya,” ucapnya.

Sempat Diprotes Anak-anaknya

GARDA TERDEPAN: Dr Joni, garda terdepan penepis setiap serangan ke Pemprov Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
GARDA TERDEPAN: Dr Joni, garda terdepan penepis serangan ke Pemprov Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Saat awal bertugas mengawal penanganan wabah Corona di Jatim, dr Joni mengaku sempat diprotes anak-anaknya. Tapi lambat laun mereka bisa memahami.

“Papa enggak pernah pulang, papa keluar terus. Padahal kan orang sekarang enggak boleh keluar rumah, tapi papa sekarang keluar rumah terus. Lama-lama mereka sudah menyadari apa yang saya kerjakan,” ceritanya.

Dr Joni melihat itu semua adalah tantangan. Dia hanya berdoa semoga Covid-19 ini segera selesai. Bahkan setiap pulang setelah mandi, dia juga tak langsung tidur tapi masih melakukan evaluasi.

“Dulu waktu puasa ya sampai sahur, subuh, lalu tidur. Kira-kira jam 08.00 bangun, mandi terus lanjut lagi,” terang peraih Satya Lencana Karya Satya 10 pada 2006 dari presiden RI tersebut.

Terkait tugasnya ini, menurut dr Joni, peran gugus tugas kuratif yakni memastikan ketersediaan ruang isolasi dan bed di setiap RS rujukan.

Jika dulu masih banyak RS tanpa ruang isolasi kini wajib. Tiap rumah sakit harus memilih satu atau dua ruang isolasi tekanan negatif, agar petugas kesehatan tidak tertular.

Selain itu petugas kesehatan wajib memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang tepat. Himpunan RS diminta tegas sesuai aturan Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes).

“Kesiapan rumah sakit harus dievaluasi. Rumah sakit harus memiliki ruang isolasi,” tegasnya.

Pelajaran dari Covid-19

AKADEMIS: Dr Joni, lugas dan akademis menjawab setiap pertanyaan terkait Covid-19 di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
AKADEMIS: Dr Joni, lugas dan akademis jawab  setiap pertanyaan terkait Covid-19. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Di balik ketegasan, rupanya dr Joni juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bahkan air matanya kerap meleleh jika mengenag tak sedikit tenaga medis yang gugur dalam tugas.

Karena itu, dia harus cermat dalam membuat pedoman keselamatan bagi para tenaga medis. “Saya dipercaya gubernur menjadi pimpinan di RSUD dr Soetomo, itu tanggung jawab saya,” katanya.

“Makanya di RSUD dr Soetomo itu ada beberapa pedoman pemakaian APD. Di UGD, rawat jalan, rawat inap maupun ICU itu beda-beda pedomannya. Saya harus membuat pedoman itu dan harus disosialisasikan,” urainya.

Pedoman dibuat, lanjut Joni, agar tenaga medis terlindungi. Demikian pula dengan pedoman pelayanan Covid-19, seperti scoring system saat ada pasien melakukan pengobatan di RS.

“Jadi pasien yang tidak tahu Covid-19 apa bukan, datang diskor. Tujuannya untuk petugas safety, keselamatan dokter dan perawat. Walaupun sudah seperti itu masih ada juga yang tertular, namanya manusia kadang-kadang ceroboh,” ungkapnya.

Menurut dr Joni, kawan-kawannya yang terinfeksi memang sebagian besar tidak merawat pasien Covid-19, tapi pasien biasa yang tidak tahu kalau itu Covid-19.

“Ya, Covid-19 ini memberi banyak sekali pelajaran kepada kita,” tuntas dokter yang menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Kediri tersebut.

SENYUM TULUS: Dr Joni, tinggalkan praktik dan operasi demi fokus tangani Covid-19. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SENYUM TULUS: Dr Joni, tinggalkan praktik dan operasi demi tangani Covid-19. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
  • AKRABI DOKTER JONI
    Nama: Dr dr Joni Wahyuhadi Sp.BS
    Pendidikan: S-3 Ilmu Kedokteran
    Jabatan: Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya
  • RIWAYAT PENDIDIKAN
    S-3: Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prodi Program Doktor, Lulus 2010
    S-2: Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prodi Spesialis Bedah Saraf, Lulus 2000
    S-1: Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prodi Kedokteran, Lulus 1989
    SMA: SMAN 2 Kediri, Lulus 1983
    SMP: SMPN 2 Kediri, Lulus 1980
    SD: SD Brenggolo Kediri, Lulus 1976
  • JONI TEPIS ‘SERANGAN’
    25 April 2020: “Nah catatannya yang di pusat, confirm-nya (pasien positif) Surabaya itu 368, sembuhnya 70. Kemudian dirawat 248, meninggal 50. Ini yang tercatat di kita dan data ini diambil dari seluruh rumah sakit.” – Koreksi atas klaim Pemkot Surabaya soal pasien sembuh capai 1.380 orang.
    18 Mei 2020: “Jadi tidak etis, pasien dibawa ke IGD langsung ditaruh begitu saja, ditinggal gitu, itu menyalahi PMK. Secara etika tidak baik.” – Soal tim Command Center 112 Surabaya yang disebut menelantarkan pasien Covid-19 di RSUD dr Soetomo.
    27 Mei 2020: “Ini tidak main-main. Kalau kita tidak hati-hati, maka Surabaya bisa menjadi Wuhan. Hati-hati betul, harus tepat betul penanganannya.” – Tanggapi jumlah positif Corona di Surabaya yang menembus 2.216 kasus.
    29 Mei 2020: “Mungkin ada mis tadi ya, jadi enak-enakan (dibuat enak/santai) saja kita bekerja.” – Tanggapi Risma soal gaduh dua unit mobil PCR.
    29 Juni 2020: “Tentang apa yang disampaikan Ibu Wali tadi, sulit menghubungi dr Soetomo, ya iya wong dr Soetomo sudah lama meninggal, he.. he.” – Tanggapi Risma yang menyebut RSUD dr Soetomo sulit diajak komunikasi.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona