Kandidat Jangan Terjebak Narasi Seolah-olah Risma Sempurna

MASIH BANYAK PR DI SURABAYA: Mochtar W Oetomo, kandidat harus mengusung narasinya sendiri, tidak harus melanjutkan kepemimpinan Risma. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
MASIH BANYAK PR DI SURABAYA: Mochtar W Oetomo, kandidat harus mengusung narasinya sendiri, tidak harus melanjutkan kepemimpinan Risma. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Direktur Utama Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo mengingatkan para kandidat di Pilwali Surabaya 2020 agar tidak terjebak dengan narasi yang terbangun selama ini, bahwa Tri Rismaharini (Risma) adalah wali kota super yang sulit dicari penggantinya.

“Selama ini narasi yang dibangun adalah siapa yang mampu atau memiliki kapasitas melanjutkan (kepemimpinan) Risma. Seolah-olah Risma ini sempurna. Narasi yang dibangun kan gitu, padahal sebenarnya masih banyak PR di Surabaya,” kata Mochtar, Kamis (8/11).

Lanjut Mochtar, “It’s okay Risma sukses dalam hal ruang publik, taman, mengatasi banjir, pendidikan, kesehatan, semua itu relatif berhasil. Tapi dalam banyak hal, juga ada yang relatif tidak tersentuh.”

• Baca: Dorongan Khofifah ke Fandi Utomo Bukan Bentuk Dukungan

Pria yang juga dosen di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu mencontohkan infrastruktur jalan. “Banyak jalan-jalan utama yang gak karu-karuan. Gelombangnya gak karu-karuan, tambalannya gak karu-karuan,” tegasnya.

Belum lagi bicara hubungan dengan banyak pihak yang diwarnai konflik. Selain itu tidak ada karakter kultural yang berhasil dibangun. “Suroboyo iki sak jane kuto opo sih rek? Dalam sepuluh tahun ini karakter kultural belum terbangun,” katanya.

Mochtar lalu membandingkan dengan Banyuwangi yang sukses membangun karakternya sebagai kabupaten budaya dan wisata, dan seluruh dunia mengakui itu. Contoh lain Yogyakarta dengan predikat Kota Pelajar.

• Baca: Pengamat: Surabaya Pasca Risma Butuh Figur Sekelas Emil

“Tapi Surabaya ini kuto opo sebenarnya? Kota Pahlawan? Dalam konteks sekarang pahlawan apa?” kata Mochtar yang namanya kian melambung, lantaran hasil survei lembaganya cukup jitu selama Pilgub Jatim 2018.

Kritik Mochtar ini sekaligus untuk mendorong para calon kontestan, agar mereka punya peluang mengusung narasinya sendiri, tanpa harus selalu siap melanjutkan kepemimpinan Risma.

“Itu kan jadinya monoton. Tidak ada diskusi publik di Surabaya ini, karena seolah-olah sudah cukup,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Risma