Kadindik Jatim Bikin ‘Keruh’ Situasi, Ortu Siswa Gelar Aksi

TUNTUT KADINDIK JATIM MINTA MAAF: Orang tua korban kekerasan di SMKN 1 Surabaya menggelar aksi di depan Patung Gubernur Suryo, Jumat (28/9). | Foto: IST
TUNTUT KADINDIK JATIM MINTA MAAF: Orang tua korban kekerasan di SMKN 1 Surabaya menggelar aksi di depan patung Gubernur Suryo, Jumat (28/9). | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Saiful Rachman yang terkesan menganggap wajar kasus penamparan siswa inklusi di SMKN 1 Surabaya dinilai ‘memperkeruh’ situasi.

Geram dengan pernyataan Saiful, Jumat (28/9) hari ini dua orang tua (Ortu) yang anaknya menjadi korban penamparan, Budi Sugiharto dan Elisa Ernawati menggelar aksi di depan patung Gubernur Suryo, Taman Apsari, Surabaya.

“Anak kami itu korban kekerasan, kok dianggap bohong. Pak Kadindik Jatim harus menarik ucapannya dan minta maaf ke korban,” tuntut Lisa.

• Baca: Tangis Guru Ponorogo di Training Mindset Pembelajaran

Aksi di depan Patung Gubernur Suryo ini, menurut Lisa, sebagai protes dari kekecewaan terhadap Kadindik Jatim yang terkesan melindungi Kepala SMKN 1 Surabaya, Bahrun. Padahal pelaku telah mengakui perbuatannya.

“Kami berharap Patung Gubernur Suryo ini menyadarkan Gubernur Jatim, Soekarwo untuk mengevaluasi anak buahnya yang telah menyakiti hati pelajar,” sambung Budi Sugiharto, yang mengaku anaknya kena tampar hingga kaca matanya terlepas.

Rabu (26/9) lalu, Bahrun membuat surat pernyataan mengakui perbuatannya karena khilaf. Pernyataan bermaterai itu dibuatnya di hadapan Budi Sugiharto, orang tua RA serta Kapolsek Wonokromo, Kompol Rendy Surya di ruangannya.

• Baca: Mulai 2019, Khofifah Pastikan SMA/SMK di Jatim Gratis

Sebaliknya, Saiful terkesan dingin menanggapi kasus ini. “Enggak nampar, cuma gini lho,” katanya sambil memeragakan tangannya yang diserempetkan di pipi kanannya. “Tapi kok diviralkan ditampar, dijambak, kan gitu” tambahnya.

Menurut Saiful, kejadian bermula dari Bahrun yang sedang mengecek UTS. Mendapati ada meninggalkan ruang kelas sebelum waktunya, apalagi belum semua soal selesai dikerjakan, Bahrun lantas emosi.

• Baca: Sambut Industri 4.0, Khadijah Perkuat Kurikulum Internasional

“Padahal kepala sekolah menginginkan mutu sekolah itu tetap baik dengan anak-anak kerja maksimal. Emosi kepala sekolahnya, terus anaknya diginiin,” kata Saiful sambil kembali memeragakan tangannya yang diserempetkan di pipi kanannya.

“Anak sekarang kan pintar-pintar, diberitakan ke bapaknya gini-gitu, itu yang enggak pas. Jadi kita enggak bisa semua harus segera dipercaya, karena banyak modifikasi yang terus bisa terus dibuat, diedit dan lain-lain,” tambahnya.