JKSN: Sudah Untung Prabowo Dapat 34,3 Persen di Jatim!

Gus Hans (kanan) dan Soepriyatno, sudah untung Prabowo dapat 34,3 persen di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Gus Hans (kanan) dan Soepriyatno, untung Prabowo dapat 34,3 persen di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans menegaskan tak ada yang janggal dengan kenaikan 5,1 juta jumlah pemilih Pilpres 2019 di Jatim dari Pilgub 2018.

“Kalau merujuk dari Pilgub, sudah sangat untung sekali Prabowo-Sandi dapat segitu (34,3 persen). Kan tokoh-tokoh sentral kedua belah pihak saat Pilgub (kubu Khofifah dan Gus Ipul) bersatu,” katanya pada Barometerjatim.com lewat sambungan telepon dari Uzbekistan, Jumat (17/5/2019).

Sebelumnya, saat acara buka puasa bersama Cawapres 02, Sandiaga Uno di kantor BPP Jatim di Jalan Gayungsari, Surabaya, Rabu (15/5/2019), Ketua Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Jatim Prabowo-Sandiaga, Soepriyatno menyebut kenaikan jumlah pemilih di Jatim saat Pilpres 2019 tak wajar.

“Partisipasi pemilih Pilgub kemarin hanya 20,3 juta, tetapi dalam Pilpres ini, dalam waktu kurang dari satu tahun, meningkat menjadi 25,5 juta. Artinya ada DPT bermasalah tambah 5,1 juta lagi,” katanya, seraya merujuk sebelumnya sudah ada 7,6 juta DPT bermasalah dan belum diselesaikan KPU.

Namun Gus Hans mengingatkan Soepriyatno, justru yang meningkatkan partisipasi Pemilu di Jatim, di antaranya karena sikap pendukung 02 yang selalu menyudutkan warga dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

“Kan sebenarnya yang ‘memenangkan’ 01 justru sikap mereka (pendukung 02), sikap tokoh-tokoh mereka yang menyudutkan Nahdliyin (warga NU), maka saya ingin menyampaikan terima kasih kepada sikap-sikap mereka itu,” sindirnya.

Selain itu, tambah Gus Hans, ada perbedaan tajam karena di Pilgub Jatim kedua Cagub saat itu, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), sama-sama kader NU.

“Sehingga tidak sampai membangkitkan ghirah (daya juang) masyarakat bawah untuk datang ke TPS, sementara saat Pilpres ini jelas perbedaaanya,” tegas pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang tersebut.

Selain itu, Gus Hans juga mempertanyakan sikap bertolak belakang Partai Gerindra yang menolak hasil Pilpres tapi justru menerima hasil Pileg. Padahal penyelenggara dan para saksi juga sama.

“Tapi kenapa mereka tidak menolak hasil dari perolehan suara Gerindra yang meningkat jauh dari sebelumnya. Mestinya dia juga menjelaskan kepada publik, mengapa suara Gerindra melonjak dari tahun-tahun sebelumnya,” paparnya.

Jangan Gede Rasa

Bagi Gus Hans, politik di Indonesia masih sangat dipengaruhi faktor profil dari figur. Kenaikan pesat perolehan suara PDIP dan Gerindra di Pileg kali ini, diyakini buah coattail effect (efek ekor jas) dari Parpol yang mengusung Capres.

“Jadi jangan GR (gede rasa) buat sekarang ini yang meningkat jauh suara partainya, jangan-jangan itu faktor dari figur Pak Prabowo atau Pak Jokowi,” katanya.

Mestinya, pinta Gus Hans, Soepriyatno dan elite politik di Jatim belajar dari siakp kenegarawanan Khofifah. Saat disebut Akil Mochtar dikalahkan dalam gugatan di MK padahal mestinya menang, dia tidak sampai menggaungkan people power atau melibatkan masyarakat.

Di sisi lain, penggagas Footbal for Peace itu juga menyayangkan langkah Sandiaga yang terlalu larut dengan penolakan hasil Pilpres, bahkan mengajak pendukungnya untuk mempertahankan klaim kemenangan hingga titik daerah terakhir.

“Mas Sandi ini memiliki masa depan yang cerah di kemudian hari. Jika masih ikut-ikutan larut dalam sesuatu yang naif seperti ini, justru menggali lubang sendiri, kan sayang,” katanya.•

» Baca Berita Terkait Pilpres 2019