Jembatan Ambrol, Puluhan Siswa SD Tak Bisa ke Sekolah

BAHAYA: Sulit dibayangkan, siswa SD harus mengarungi sungai seperti ini untuk bisa sampai di sekolah. | Foto: Ilustrasi/Ist

SITUBONDO, Barometerjatim.com – Jembatan menjadi sarana penting di sebuah desa. Apalagi menjadi akses utama warga untuk beraktifitas. Begitu rusak, maka tak hanya mengganggu perekonomian warga tapi juga membuat anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan secara maksimal.

Potret keprihatinan itu terlihat di Desa Campoan,  Kabupaten Situbondo. Bayangkan, jembatan di desa tersebut ambruk sejak 2011 dan hingga kini tak kunjung ada perbaikan. Akibatnya, puluhan siswa SD Negeri 1 Campoan yang merupakan satu-satunya sekolah dasar di sana tak bisa ke sekolah.

Kalaupun ada siswa yang nekat pergi ke sekolah harus melintasi sungai dengan arus deras. Itupun hanya bisa dilakukan kalau kondisi cuaca normal. Begitu hujan turun, orang tua akan berpikir dua kali untuk melepas anaknya ke sekolah karena arus sungai semakin deras.

Rupanya masalah ini sampai juga ke telinga anggota DPRD Jawa Timur, Irwan Setiawan. Anggota dewan asal daerah pemilihan (Dapil) Jatim III (Kabupaten Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi) itu mengaku mendapat informasi dari warga lewat media sosial.

Dia pun memutuskan melihat langsung lokasi jembatan ambrol tersebut. “Saya lihat sendiri kondis di sana. Sangat memprihatinkan, karena jembatan yang ambrol itu menjadi akses utama siswa menuju sekolah,” tutur pria yang akrab disapa Kang Irwan itu, Jumat (10/2).

“Saya coba untuk menyeberangi arus sungai, cukup deras dengan ketinggian hampir selutut. Dengan berpegangan kepada salah seorang warga akhirnya saya sampai ke seberang sungai. Bisa dibayangkan bagaimana anak-anak SD harus menyeberangi sungai tersebut.”

Lebih kaget lagi saat meninjau ke sekolah, Irwan hanya melihat enam siswa yang datang. Itupun dua dari enam siswa tersebut domisilinya memang dekat dengan sekolah sehingga tak perlu mengarungi sungai.

Padahal, total siswa yang tercatat di sana ada 28 orang. Para siswa memilih tidak masuk bila cuaca buruk atau orang tua yang tidak mengizinkan karena khawatir dengan keselamatan anaknya.

Dari informasi yang didapat dari pihak guru, Irwan menuturkan jumlah siswa yang belajar di SDN 1 Campoan pernah mencapai 80 orang. “Namun belakangan menyusut terus hingga tinggal 28 orang. Jumlah itu pun akan menyusut ketika cuaca buruk seperti musim hujan saat ini,” katanya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan politikus PKS tersebut? Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Baperda) DPRD Jatim itu hanya bisa berharap Pemprov Jatim ikut turun membuat akses transportasi di Desa Campoan, terutama membangun akses jembatan penghubung.

Sebab, katanya, desa ini masuk kategori terpencil, hanya sepeda motor yang bisa menjadi akses transportasi. Bahkan untuk wilayah tertentu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Irwan menambahkan, dari informasi yang didapat dari warga, jembatan yang ambrol itu dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan. Namun sejak 2011 ambrol dan tak pernah diperbaiki secara permanen oleh Pemkab Situbondo.

Berulangkali warga membangun jembatan kayu sebagai jembatan pengganti secara swadaya. Namun berulangkali pula jembatan itu hanyut terbawa arus sungai saat banjir.

Alhamdulillah, infonya Pemkab Situbondo sudah mengalokasikan anggaran untuk membangun jembatan baru di tahun 2018. Namun, alangkah baiknya kalau sementara dibangun dulu jembatan sementara yang kokoh. Mungkin Pemprov Jatim bisa turun tangan,” imbau Irwan.