Jatim-Prancis Tingkatkan Kerjasama Bidang Pendidikan

TINGKATKAN KERJASAMA: Gubernur Soekarwo dan Dubes Prancis untuk Indonesia, Jean-Charles Berthonnet dalam pertemuan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (9/6). | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Provinsi Jatim dan Prancis sepakat meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan, terutama vokasional bidang industri kreatif. Hal ini disampaikan Gubernur Jatim, Soekarwo usai menerima kunjungan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Jean-Charles Berthonnet di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (9/6).

Pakde Karwo — sapaan akrab gubernur Jatim —  mengatakan, kerjasama bidang pendidikan ini diperlukan karena di 2020 Jatim akan mengalami bonus demografi. Artinya, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk.

Sehingga bonus demografi ini harus diantisipasi dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yakni melalui pendidikan vokasional. “Kerjasama ini secara adhoc selama dua tahun, tapi jangka panjangnya sampai 2024,” ungkapnya.

Selain pendidikan, Jatim juga mendorong kerjasama bidang perdagangan dan ivestasi dengan Prancis. Dimana, sejak 1974 sampai April 2017, terdapat 18 proyek investasi Prancis di Jatim dengan nilai investasi 115,21 juta dolar AS dan menyerap 1.318 tenaga kerja. Investasi ini paling banyak di bidang usaha industri kayu, serta kimia dan farmasi.

• Baca: Ruwet, Pakde Karwo Usul Pengajuan DAK Disederhanakan

Menurut Pakde Karwo, keputusan investasi Prancis di Jatim sangat tepat karena Jatim merupakan penghubung Indonesia Timur, serta posisi Jatim yang sangat strategis yakni di tengah-tengah arus distribusi barang dan jasa (center of grafity).

“Logistic dan connectivity kita sangat baik, karena banyak barang yang dikirim ke Indonesia timur melalui pelabuhan yang ada di Jatim, sehingga sangat efisien bila berivestasi di Jatim,” ungkapnya.

Pemprov Jatim, kata Pakde Karwo, juga akan memberikan empat jaminan bagi investor Prancis yang akan menanamkan investasinya di Jatim. Empat jaminan tersebut yaitu terkait perizinan, ketersediaan lahan, power plan atau ketersediaan listrik, serta iklim buruh yang kondusif.

“Soal perizinan semua diurus oleh Pemprov dengan terukur dan terstandar. Kemudian soal ketersediaan listrik di Jatim sendiri ada 2.800 megawatt,” jelasnya.

Sementara Berthonnet menyambut baik kerjasama di bidang pendidikan tersebut. Menurutnya, kerjasama ini akan diprioritaskan agar semakin banyak pelajar dari Jatim yang menempuh pendidikan di Prancis.

Hingga saat ini, tercatat sudah ada 600 alumni Prancis di Jatim. Ke depan, diharapkan akan terus meningkat. “Kami harap kesepakatan yang akan kami tandatangani hari ini dapat memfasilitasi kerjasama tersebut,” ungkapnya.

• Baca: Pemprov Subsidi Ongkos Angkut Rp 12,5 Miliar

Terkait lima perusahaan Prancis yang sudah menandatangani izin prinsip di Jatim tapi belum terealisasi investasinya, Berthonnet berjanji akan segera mengecek lebih lanjut. “Kami akan support untuk membawa investor ke Indonesia terutama Jatim. Karena situasi di sini kondusif dan banyak potensi yang bisa ditawarkan,” jelasnya.

Dalam kunjungan ini, Berthonnet membawa beberapa delegasi dari Prancis. Di antaranya pengusaha, unsur dari organisasi bidang ketenagakerjaan serta Konsul Kehormatan Prancis di Surabaya, Han Jayanata.

Para pengusaha ini, lanjutnya, sedang melakukan beberapa kerjasama di antaranya dengan PT PAL Indonesia dalam hal pembuatan kapal selam serta dengan beberapa perusahaan energi seperti PT Paiton.