Jatim Dihantam Hoaks Covid-19, Gus Hans: Kasihan Gubernurnya!

AJAK OBJEKTIF: Gus Hans, melonjak atau tidak Covid-19 bisa dilihat H+7 atau H+14 Idul Fitri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
AJAK OBJEKTIF: Gus Hans, melonjak atau tidak Covid-19 bisa dilihat H+7 atau H+14 Idul Fitri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Di tengah suasana lebaran, Jatim dihantam hoaks terkait ledakan jumlah kasus Covid-19 di kabupaten/kota se-Jatim yang menyebar lewat grup aplikasi WhatsApp (WA).

Menanggapi hal tersebut, Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Pemerhati Kesehatan Masyarakat Zahrul Azhar Asumta M.Kes alias Gus Hans mengajak semua pihak untuk objektif melihat situasi pandemi Covid-19 di Jatim.

“Menurut saya itu informasi tak bertanggung jawab. Kasihan gubernurnya jadi korban, seakan-akan tidak mampu menangani Covid-19. Karena selain di Jatim, hoaks ini juga muncul di Jateng dengan narasi serupa,” katanya, Selasa (18/5/2021).

Padahal yang benar, lanjut kiai muda alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut, melonjak atau tidaknya Covid-19 baru bisa dilihat H+7 atau H+14 Idul Fitri.

Nah, sekarang ini yang harus dihadapi, tegas Gus Hans, yakni sikap masyarakat yang bisa jadi lebih abai dari tahun kemarin.

“Dulu kan, paranoidnya tinggi virusnya tidak begitu banyak. Kalau sekarang ini virusnya banyak dan tidak ada paranoid, bahkan boleh dikatakan abai. Nah ini bisa mempercepat berkembangnya virus-virus baru,” katanya.

Selain itu, nilai Gus Hans, masyarakat takut di Covid-kan karena pemerintah belum berhasil meyakinkan kepada publik tentang adanya kasus-kasus yang mengesankan rumah sakit men-Covid-kan pasien.

“Itu informasi tak bertanggung jawab. Kasihan gubernurnya jadi korban, seakan-akan tidak mampu menangani Covid-19.”

“Meski hal tersebut sudah diklarifikasi berkali-kali, tapi berita hoaks lebih mudah tersebar daripada kerja pemerintah dalam memberikan penerangan kepada masyarakat,” katanya.

Berikutnya, dengan adanya varian baru, tingkat bahayanya lebih tinggi, infeksiusnya lebih tinggi, dan juga waktu penularannya semakin cepat.

“Makanya kalau saya katakan H+14 Idul Fitri di tahun kemarin, tahun ini kita bisa melihat nanti pas ketupatan sampai H+14 akan ketahuan ada lonjakan atau tidak,” ucapnya.

Karena itu, kalau ada informasi yang mengatakan Jatim sudah melonjak saat H+2 atau H+1 Idul Fitri, bisa dipastikan tidak valid dan tidak ada kaitannya dengan lebaran maupun libur lebaran.

“Lebaran itu luas, bisa jadi karena klaster tepat wisata, klaster shalat Id, dan klaster-klaster lain yang diakibatkan oleh pergerakan masyarakat di awal bulan Syawal ini,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona