Imbas Proyek Alun-Alun Surabaya, 4 Hari Air PDAM Mati!

AIR MATI: Proyek pemotongan pipa PDAM di Yos Sudarso molor yang berimbas empat hari air PDAM mati. | Foto: Ist
AIR MATI: Proyek pemotongan pipa PDAM di Yos Sudarso molor yang berimbas empat hari air PDAM mati. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sudah empat hari ini warga Kota Pahlawan tak mendapat pasokan air bersih dari PDAM. Gara-garanya, proyek pembangunan basement Alun-Alun Surabaya yang diinisiasi Wali Kota Tri Rismaharini di Jalan Yos Sudarso.

Kok bisa? Sebab, di lokasi tersebut tertanam pipa air milik PDAM. Ketika proyek yang diperkirakan menyedot anggaran Rp 80 miliar dari APBD tahun 2019-2020 itu dikerjakan, posisi pipa berdiameter 800 milimeter tersebut harus dipindah.

Namun proses relokasi yang dilakukan sejak Sabtu (7/9/2019) tidak berjalan mulus sesuai rencana. “Ternyata kami keliru,” sesal Manajer Humas PDAM, Bambang Eko Sakti kepada wartawan.

Awalnya, tutur Bambang, pihak PDAM mengestimasi pemindahan pipa air peninggalan Belanda tersebut selesai hanya sehari. Dimulai dari pemotongan pipa pada Jumat (6/9/2019) malam dan Sabtu (7/9/2019) malam pemindahan pipa diasumsikan kelar.

Nyatanya, rencana itu tak sesuai target. Bahkan hingga Selasa (10/9/2019) hari ini, pipa tersebut belum juga tersambung dan berimbas pada suplai air bersih ke masyarakat.

Beberapa kawasan yang aliran PDAM-nya terimbas proyek basement proyek Alun-Alun Surabaya, antara lain kawasan Jalan Gubeng, Ngagel, Darmo, Basuki Rahmat, dan Yos Sudarso.

Kemudian Jalan Sedap Malam, Nias, Ambengan, Undaan, Pasar Atom, Pegirian, Wonosari, Wonokusumo, Ujung, Wonokromo dan Gunungsari.

Untuk memberi pasokan air bersih, pihak PDAM terpaksa harus mengirim sekitar 500 truk tangki berisi air ke masyarakat yang terimbas pemindahan pipa air di Jalan Yos Sudarso.

“Karena (kami) salah menganalisa kondisi lapangan, (sehingga) harus menyesuaikan kondisi di lapangan,” ungkap Bambang.

Sebab, lanjutnya, ternyata di lokasi proyek basement alun-alun ada banyak utilitas di luar data base PDAM. “Misalnya ada kabel PLN, pipa gas, optic, dan kabel Telkom. Akhirnya kami harus menyesuaikan,” ucapnya.

Salah Perhitungan

Diakui Bambang, pada rencana awal, konsepnya adalah memasang joint, lalu memadamkan aliran air dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Ngagel II sesuai date base PDAM yang ternyata salah.

Jadi, masih kata Bambang, setelah IPAM Ngagel II padam, “Pipa existing kami potong dan dimasukkan dengan joint. Tapi berhubung ada kendala utilitas, akhirnya harus dipotong dan akan dikoneksikan dengan sistem las.”

Sayangnya, setelah ada pemotongan dan IPAM Ngagel II dipadamkan, air masih mengalir. Sebab, di Jalan Yos Sudarso ternyata juga terkoneksi dengan IPAM lain.

Sementara untuk mematikan IPAM lagi, maka akan berimbas lebih banyak lagi ke pelanggan. “Ini di luar kemampuan kami, ternyata pipa terkoneksi dengan IPAM yang lain,” katanya.

“Ini menjadi problem, akhirnya molor. Sampai sekarang pun (air dari IPAM lain) masih mengalir,” tambahnya.

» Baca Berita Terkait Pemkot Surabaya, PDAM