Hari Minggu Kerja, Mensos Lampaui Batas Maksimal

KERJA LAMPAUI BATAS: Mensos Khofifah Indar Parawansa saat penyaluran bansos non tunai PKH di Pendopo Kabupaten Bojonegoro, Minggu (5/5). | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA MANGGALANA

BOJONEGORO, Barometerjatim.com – Bupati Bojonegoro, Drs H Suyoto MSi mengapresiasi Mensos Khofifah Indar Parawansa yang masih tetap bekerja di hari Minggu, di saat sebagian besar orang justru menikmati liburan.

“Kalau minggu-minggu ada orang kerja itu bukan bicara keterbatasan tapi maksimalitas. Bu Menteri di hari Minggu masih kerja pasti bukan mikir keterbatasan. Makanya semboyannya (Bojonegoro) bukan lampaui batas minimalmu, tapi lampaui batas maksimalmu,” katanya saat Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Bojonegoro, Minggu (5/3) sore.

Orang yang memiliki kemampuan semangat melampaui batas maksimal, kata bupati yang akrab disapa Kang Yoto itu, tidak hanya mikir hari ini tapi sanggup menerima masa lalu yang pahit serta terus menggapai mimpi yang lebih baik. “Makanya namanya harapan (PKH), berarti harapan lebih baik,” katanya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Menteri yang di hari Minggu mau kerja luar biasa untuk melayani rakyat, bukan hanya Bojonegoro tapi seluruh Indonesia.”

Kang Yoto juga mengapresiai warga penerima PKH  yang datang dari penjuru Bojonegoro. “Ada yang dari Kanor, Margomulyo, Kedung Asem, itu jauh-jauh. Mereka datang dengan penuh harapan. Tapi tetap masih kalau jauh dengan Bu Menteri yang datang dari Jakarta,” ujarnya disambut tawa hadirin.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Menteri yang di hari Minggu mau kerja luar biasa untuk melayani rakyat, bukan hanya Bojonegoro tapi seluruh Indonesia.”

Menipis Tiap Tahun
Terkait angka kemiskinan di Bojonegoro, Kang Yoto menyampaikan, untuk melampaui garis kemiskinan tidaklah mudah karena ada tekanan minyak. Begitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dinaikkan dipastikan jumlahnya ikut naik.

Namun yang patut disyukuri angka keparahan dan kedalamannya makin menipis dengan Indeks Rasio Gini hanya 0,24. Itu artinya P1 (Indeks Kedalaman Kemiskinan/Poverty Gap Index-P1) dan P2 (Indeks Keparahan Kemiskinan/Proverty Severity Index-P2) menipis setiap tahun.

“Jauh lebih baik, alhamadulillah. Ini saya yakin karena suksesnya program, salah satu dari Kementerian Sosial,” katanya.

• Baca: Soekarwo: Kemensos Bantu Turunkan Kemiskinan di Jatim

Sehingga, lanjut Kang Yoto, nasib orang miskin di Bojonegoro lebih bahagia. Kalau mereka tidak punya beras, ada rastra. Berobat juga bisa gratis, pun demikian dengan sekolah yang dibiayai Pemkab dan negara.

“Bahkan kalau mau sekolah diploma di Akademi Komunitas tahun ini ada 1.000 anak yang kita kasih beasiswa. Masih ada lagi paket keterampilan 12.000 supaya mereka bisa bakerja di perusahaan yang ada di Bojonegoro,” paparnya.

“Kami juga berterima kasih dengan adanya sistem informasi dan konfirmasi data kemiskinan yang baru di-launching. Saya begitu tahu langsung instrusikan ke camat, Kades, TKSK untuk meng-up date data dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.