Harga Pertalite Naik, Premium di Surabaya Mendadak ‘Hilang’

PREMIUM KOSONG: Pasca harga pertalite naik stok premium di sejumlah SPBU di Surabaya mendadadk habis. Masyarakat dibuat kebingungan. | Foto: Ist
PREMIUM KOSONG: Pasca harga pertalite naik stok premium di sejumlah SPBU di Surabaya mendadadk habis. Masyarakat dibuat kebingungan. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasca harga pertalite naik menjadi Rp 7.800 per liter, sejumlah SPBU di Surabaya ‘mendadak’ kehabisan stok BBM jenis premium atau bensin, Senin (26/3). Masyarakat yang biasa mengisi kendaraannya dengan bahan bakar bensin, terpaksa membeli pertalite atau pertamax.

Kondisi stok premium habis salah satunya terlihat di SPBU 54 601 116, kawasan Kedung Cowek. Pihak SPBU menempelkan kertas bertuliskan premium atau bensin habis. “Terpaksa beli pertalite meskipun harganya naik,” kata Lukman, salah seorang pengendara.

Terkait kenaikan harga pertalite, Lukman mengaku berat. “Ini sungguh memberatkan bagi kami sebagai masyarakat kecil. Kami berharap Pertamina menambah stok bensin premium di SPBU supaya tidak cepat habis,” katanya.

Salah satu petugas SPBU 54 601 116, Fitri membenarkan premium habis. “Tadi memang banyak masyarakat yang mencari bensin, tapi stoknya sudah habis. Kami tawarkan pertalite atau pertamax, ada yang mau ada yang tidak,” katanya.

• Baca: Tarif APBS Diterapkan, INSA Desak Uang Rambu Dihapus

Kenaikan ini terbilang cepat. Sejak Januari 2018 Pertamina telah menaikkan harga pertalite sebanyak dua kali. Pada 20 Januari 2018, harga Pertalite naik Rp 100 per liter menjadi Rp 7.600 per liter. Alhasil, kenaikan harga pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua kali dalam tiga bulan terakhir.

President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito menuturkan, kenaikan harga BBM tersebut merupakan penyesuaian atas kenaikan harga minyak dunia. Saat ini harga minyak dunia sudah menembus level 60 dolar AS per barrel.

Namun dia membantah kenaikan harga pertalite bertujuan demi menutup potensi kerugian Pertamina, akibat menanggung selisih harga solar subsidi dan premium. Sebab, pemerintah melarang Pertamina menaikkan harga premium dan solar subsidi.